
Demi menyelamatkan sang adik, Vanya terpaksa menjual rumah dengan harga murah. Yang terpenting baginya, sang adik bisa diamputasi. Itupun tak bisa membuat sang adik kembali normal.
Wildan akan menikmati sisa hidupnya di tempat tidur, tak berdaya. Tak bisa menjalani kehidupan normal lagi. Hanya bergantung pada sang kakak. Perasaannya begitu hancur. Rasanya, masih seperti sebuah mimpi, dia akan mengalami seperti ini.
"Maafin Wildan ya, kak! Gara-gara Wildan, kakak jadi susah seperti ini. Kita harus tinggal di tempat seperti ini," ucap Wildan, dia terlihat sedih karena membuat kakak dan keponakannya menderita.
Wildan sudah kembali di rumahnya. Mereka terpaksa harus tinggal di kontrakan petakan. Rumah orang tua mereka sudah dijual. Wildan pun hanya tidur di kasur kecil yang berada di bawah. Kehidupan dia begitu sederhana. Berbeda jauh dengan mantan istrinya, yang kini hidup dengan kemewahan.
"Padahal, dari pada kakak seperti ini. Kemarin, kakak ikhlaskan aku saja. Kasihan, kalian menjadi menderita," ucap Wildan di iringi isak tangis.
__ADS_1
Vanya akhirnya ikut bersedih. Mereka menangis berdua.
"Jangan bicara seperti itu! Hanya bisa melihat kamu saja, kakak sudah bersyukur. Meskipun kondisi kamu seperti ini. Hanya kamu dan Anak-anak yang kakak miliki di dunia ini. Kita harus kompak melewati semua ini," ucap Vanya kepada sang adik.
Vanya berniat menjual makanan matang, untuk menyambung hidup. Bekerja rasanya tak mungkin, karena tak ada yang mengurus adik dan juga kedua anaknya. Dia harus kuat melewatinya.
Kebahagiaan justru dirasakan Jihan. Acara empat bulanan anak mereka, akan dilaksanakan minggu depan. Jihan senang, karena sang ibu sudah datang bersama adik dan juga bapaknya.
"Bu, Mas Wildan 'kan kecelakaan. Ibu lihat berita gak? Kakinya sampai terlindas mobil. Entahlah keadaannya sekarang gimana," Jihan bercerita kepada sang ibu. Saat Affan tak bersamanya.
__ADS_1
"Ya udah, biarkan saja. Itu hukuman buat laki-laki tukang selingkuh. Laki-laki yang gak bersyukur. Karma untuknya. Biar dia merasakan, gimana sakitnya kamu dulu. Kenapa gak mati aja? Ibu malah senang," sahut sang ibu.
Terlihat sekali sang ibu begitu membencinya. Berbeda halnya dengan Jihan yang justru sudah memaafkannya. Berdamai dengan keadaan. Jihan tak ingin menaruh dendam kepada mantan suaminya itu. Karena baginya, ada hikmah di balik perselingkuhan mantan suaminya itu. Dia justru mendapatkan laki-laki yang sempurna. Dia bisa merasakan di posisi seperti saat ini.
Acara empat bulanan calon Anak Sultan di mulai. Jihan sudah terlihat cantik dengan gamis yang warnanya senada dengan kemeja koko sang suami. Dia juga sedikit merias wajahnya dengan riasan natural, agar wajahnya terlihat segar.
Para wartawan sudah siap untuk meliput acara itu. Wajar saja, karena papanya Affan sangat dikenal di masyarakat. Banyak para pejabat yang memakai jasanya.
Wildan tentu saja melihat acara itu. Saat itu Wildan sedang menonton TV. Tanpa sengaja, dia melihat tayangan itu. Kini hanya tinggal penyesalan yang dia rasakan melihat mantan istrinya terlihat bahagia dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Jihan tak perlu lagi membanting tulang mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan mereka dan membayar cicilan kredit. Kini dia hanya duduk manis, menikmati harta kekayaan suaminya.