Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Permintaan Maaf Mantan Suami Pengkhianat, dan Mantan Mertua Jahat


__ADS_3

Setelah berjuang beberapa jam, anak yang dilahirkan Melisa akhirnya meninggal. Tak dapat tergolong lagi. Luka sayatan bekas operasi belum sembuh, dia harus kehilangan anak itu. Selama kehamilan anak itu, Melisa memang begitu menderita. Mengalami kesulitan ekonomi.


Untuk menguburkan bayi itu saja, dia tak memiliki uang. Dia menghubungi Jihan, meminta tolong untuk terakhir kalinya. Pihak rumah sakit menghubungi nomor telepon Jihan, karena Melisa yakin yang dapat menolongnya hanya Jihan. Awalnya Affan tak mengizinkan Jihan menolong Melisa.


Namun, atas dasar kemanusiaan Jihan tetap ingin menolong Melisa. Jihan tak tega dengan bayi yang tak berdosa itu. Terlebih dirinya saat ini sedang hamil. Apa yang Jihan lakukan, hanya menolong Anak-anak yang tak berdosa.


"Ini untuk terakhir kalinya kamu menolong dia! Nanti akan kebiasaan, kalau kamu menolong dia terus. Pasti, akan ada aja alasannya," ujar Affan mengingatkan sang istri.


"Iya, Mas. Apa yang kamu katakan benar. Aku hanya gak tega saja, jika berurusan dengan anak. Mereka tak salah dalam hal ini. Jangan sampai menjadi korban, karena kejahatan anaknya," sahut Jihan.


"Iya. Tapi, dia kan ada bapaknya. Suruh bapaknya tanggung jawab, jangan cuma mau bikinnya aja," protes Affan. Dia teringat, betapa jahatnya Wildan dan Melisa dulu kepada istrinya. Ya, meskipun dirinya merasa bersyukur. Karena permasalahan itu, dia jadi bisa mendapatkan istrinya.


Setelah proses pemakaman bayi itu selesai. Tatapan Melisa terlihat kosong. Terkadang dia menangis, mengoceh sendiri, bahkan tertawa. Membuat orang yang baru saja menguburkan anaknya tampak bingung. Terlebih sekarang, Melsa berteriak-teriak seperti orang yang tak waras.


"Waduh, itu orang jangan-jangan jadi stres. Gara-gara anaknya meninggal. Kasihan," ucap salah seorang yang baru saja menguburkan anak Melisa.

__ADS_1


Kedua orang itu mencoba mengajak bicara Melisa. Melisa terlihat gak jelas. Mereka mengira, kalau Melisa kesurupan. Karena mereka saat ini masih di kuburan.


"Gimana ya? Apa kita tinggalkan aja ya? Urusan kita 'kan sudah selesai. Daripada nanti jadi susah kita," ucap seorang yang bernama Ismail. Akhirnya, mereka berdua pergi meninggalkan Melisa seorang diri.


Sampai akhirnya, ada orang yang melihat dia. Orang itu melaporkan kepada pihak rumah sakit jiwa, hingga akhirnya Melisa dibawa ke rumah sakit jiwa menggunakan mobil ambulance. Sepanjang perjalanan Melisa tampak menangis. Dia tak kuat menanggung beban yang dia derita. Hingga akhirnya menjadi seperti itu.


Mama Risma sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Rencananya, mereka akan langsung menemui Jihan di rumahnya. Wildan membawa Mama Risma ke kontrakan Melisa, untuk menanyakan rumah Jihan. Dia hanya bertemu Mawar di sana. Mawar mengatakan kalau sang mama sedang menguburkan adiknya yang meninggal. Melisa pun akhirnya terpaksa pulang, karena tak ada yang membayar biaya selama dia di rumah sakit. Dia tak bisa berlama-lama di sana.


Dengan bekal alamat yang Wildan dapatkan dari Mawar. Wildan dan Mama Risma berniat mendatangi rumah Jihan. Saat itu Jihan sedang duduk bersantai di pinggir kolam renang. Dia sedang memperhatikan suaminya berenang.


"Untuk apa ya Bi, mereka datang kesini? Saya takut, Pak Affan marah. Jika saya menemui mereka. Suruh pergi aja, Bi! Saya tak ingin berurusan lagi sama dia," ucap Jihan kepada Bi Sumi.


Bi Sumi langsung pergi meninggalkan Jihan, dan menemui Wildan dan Mama Risma di luar sana. Dia mengatakan, kalau Jihan tak mau menemui mereka lagi. Affan suaminya pun melarangnya. Padahal, mereka sudah berjalan jauh untuk ke rumah Jihan.


"Saya mohon, Bi! Kami tak berniat mengganggu Ibu Jihan lagi. Kedatangan kami kesini, hanya ingin mengucapkan permintaan maaf kepadanya. Kami sudah menyadari, kesalahan yang telah kami perbuat. Saya ingin sekali bertemu sama Ibu Jihan," ucap Wildan dengan wajah penuh iba.

__ADS_1


Bi Sumi melihat ketulusan di wajah Wildan. Membuat Bi Sumi merasa tak tega. Hingga akhirnya, dia menemui Jihan kembali. Saat itu Jihan sedang menemani Affan duduk bersantai. Bi Sumi mencoba menjelaskan kepada Jihan.


"Apa? Mereka datang kesini? Masih berani dia menemui kamu," ucap Affan kepada Jihan.


Affan meminta Jihan untuk menemui mereka bersama dia. Affan langsung naik ke permukaan, kemudian mandi di kamar mereka. Setelah Affan selesai mandi, barulah mereka menemui Wildan bersama. Wildan dan Mama Risma, tampak menunduk. Saat Jihan dan Affan datang. Dia merasa malu. Kini keduanya sudah berhadapan dengan Jihan dan Affan. Affan tampak menggenggam tangan Jihan dengan erat di hadapan mereka. Menunjukkan rasa cintanya kepada Jihan.


"Untuk apa kalian kesini? Berani sekali kalian menginjakan kaki kalian disini," ucap Affan ketus. Dia justru yang terlihat lebih marah kepada dua orang itu.


"Sebelumnya, kami minta maaf. Jika kedatangan kami kesini, menggangu kalian. Tapi, kedatangan kami kesini memang tak berniat mengganggu Jihan kembali. Kami ingin meminta maaf kepada Jihan, karena apa yang telah kami perbuat selama ini. Terutama Mama saya yang pernah mengatakan, kalau Jihan wanita mandul. Semua sudah terbukti, kalau Jihan tak mandul. Mungkin justru saya yang mandul. Anak yang dilahirkan Melisa bukan anak saya, tetapi anak dari pemerko*sa. Saat menjalin hubungan dengan saya dulu, Melisa sempat di perko*sa tiga orang. Dia tak tahu, Laki-laki mana yang menabur benih di rahimnya. Sampai akhirnya anak itu lahir. Anak itu mengidap penyakit anemia, dan harus melakukan transfusi darah. Dugaan itu semakin kuat, karena golongan darah anak itu tak sama dengan kami," jelas Wildan. Membuat Jihan tercengang.


"Maafin Mama ya Jihan, Mama yang dulu merencanakan semuanya. Mama dan Melisa menjebak Wildan, agar dia jatuh ke pelukan Melisa. Mama cemburu, mama ingin kamu bercerai dari Wildan. Mama cemburu, karena Wildan selalu membela kamu. Mama benar-benar jahat, memisahkan kalian. Padahal, mama tahu. Kalau kalian saling mencintai. Wildan begitu mencintai kamu. Maafkan Mama yang menyebut kamu wanita mandul, padahal anak mama sendiri yang mandul. Yang tak bisa membuat kamu hamil. Selamat atas kehamilan kamu ya! Semoga kamu dan bayi kamu selalu diberikan kesehatan. Dilancarkan sampai melahirkan nanti. Katanya, kamu sedang hamil anak kembar ya? Sekali lagi selamat ya!"


Mama Risma mencoba mempertanggung jawabkan perbuatannya dulu. Dia begitu menyesal, melihat mantan menantunya kini hidup bahagia sama Laki-laki lain. Mantan menantunya begitu beruntung, mendapatkan seorang yang kaya raya, Laki-laki yang baik. Sedangkan sang anak justru hidup begitu menderita, karena ulahnya. Sang anak harus menanggung atas perbuatan yang dilakukan olehnya.


Jihan terkejut, saat Mama Risma berlutut di kaki Jihan. Memohon maaf kepadanya. Meskipun Mama Risma bersikap jahat kepadanya, Jihan menyuruh Mama Risma untuk bangkit, dia juga yang membantunya. Jihan dan Affan melihat Wildan meneteskan air matanya. Mama Risma tak henti-hentinya menangis. Penyesalannya tak akan membuat mantan menantunya kembali kepada anaknya.

__ADS_1


__ADS_2