Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Tiada Maaf Bagimu


__ADS_3

"Maaf Yang, aku belum ada uang. Uangku sudah habis untuk biasa pernikahan kami. Nanti, kalau aku gajian. Aku akan bayar," sahut Wildan lesu. Terbongkar sudah, siapa dia sebenarnya.


"Cih, kere sok-sokan selingkuh! Ya sudah, aku mengerti. Tapi, ingat! Saat kamu gajian, kamu langsung transfer uang aku! Jangan sampai kamu ingkar! Aku akan menuntut sampai uang itu di bayar. Jika kamu berkelit, aku akan laporkan perselingkuhan kamu kepada bos kamu. Biar kamu di pecat, dan merasakan menjadi pengangguran," ucap Jihan ketus.


"Oh, iya. Satu lagi! Jangan panggil aku sayang lagi, karena aku jijik mendengarnya! Silahkan nanti kamu ambil barang-barang kamu ke rumah, sebelum barang-barang itu aku buang ke tempat sampah," ucap Jihan.


Melisa tampak bingung. Mengapa suaminya itu hanya diam, tak melawan. Mengapa bukan Jihan yang di usir dari rumah itu. Mengapa jadi suaminya yang jatuh miskin.


"Kenapa? Pasti kamu bingung kan dengan ucapan aku, Mel? Asal kamu tahu, suamimu itu laki-laki kere yang hanya menumpang hidup padaku. Bahkan setiap bulannya, aku lah yang memberikan uang kepada ibunya. Tapi apa? Ibunya justru menghina aku, merasa kalau aku tak pantas untuk anaknya. Sekarang, aku buktikan kepada kalian. Siapa yang hebat selama ini. Aku apa Mas Wildan kebanggaan kalian. Rumah itu milikku, dan aku akan bercerai darinya. Jadi, dia sudah tak ada hak lagi untuk tetap tinggal di rumahku. Selamat atas kehamilan kamu, semoga kalian hidup bahagia. Ya sudah, aku pamit!"


Jihan langsung pergi meninggalkan Wildan dan Melisa dengan elegan. Tak ada tamparan ataupun kekerasan yang dia lakukan. Dia akan menamparnya, dengan menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Justru Wildan lah yang saat ini terlihat stres. Jihan langsung masuk ke dalam mobilnya, dan melajukan mobilnya dari kosan Melisa.

__ADS_1


Siapa bilang dia tak sedih, melihat kenyataan yang ada. Kini air matanya menetes satu persatu, dan semakin lama semakin deras. Dadanya terasa sesak. Dia tak menyangka, rumah tangganya hancur karena orang yang dia anggap sebagai sahabat. Padahal, selama ini dia selalu bersikap baik kepada sahabatnya. Dia pun selalu menjadi istri yang baik untuk Wildan, tetapi mereka membalasnya seperti ini.


Jihan langsung melajukan mobilnya, mencari tempat yang cukup sepi, sampai akhirnya dia memilih untuk ke pantai. Dia ingin menangis, meluapkan kesedihannya saat ini. Bagaimanapun, dia hanyalah seorang wanita yang memiliki hati dan perasaan. Sakit tapi tak berdarah, yang dia rasakan saat ini.


Kini Jihan sudah sampai di pantai, dia langsung memarkirkan mobilnya di tempat yang tak di padati pengunjung. Sebelum dia turun, Jihan mencoba menghubungi Bi Sumi terlebih dahulu. Dia meminta Bi Sumi untuk memasukkan semua pakaian milik Wildan yang berada di lemari pakaiannya.


"Pokoknya, Ibu minta tolong sama bibi untuk memasukkan semua barang-barang dan pakaian bapak tanpa tersisa! Pakai kantong plastik dan sarung bapak saja! Jangan pakai koper! Semua koper, itu Ibu yang beli. Setelah itu, bibi langsung masukkan semua barang-barang ibunya. Kalau enggak, tolong bibi cari kardus ke warung! Masukkan dalam kardus saja, bi! Semuanya ya, Bi! Jangan sampai ada yang tersisa! Setelah itu, bibi letakkan semuanya di ruang tamu! Biar lebih mudah memberikannya, saat mereka datang! Jangan biarkan mereka masuk ke dalam, jika ibu belum datang! Baik bapak, ibunya, atau istri barunya," ucap Jihan kepada Bi Sumi.


"Iya, bi. Bapak selingkuh. Bapak selingkuh sama Melisa. Ibu baru saja memergoki mereka di kosan Melisa. Bahkan mereka sudah menikah diri, dan saat ini Melisa sedang hamil anak bapak. Makanya, ibu ingin bercerai darinya. Ibu tak sudi di madu, dan menerima anak mereka. Lebih baik ibu pisah, dan mencari kebahagiaan sendiri. Ini ibu lagi di pantai dulu. Ibu ingin meluapkan perasaan kecewa ibu dulu, setelah itu ibu langsung pulang," ungkap Jihan.


"Astaghfirullahalazim. Kok bapak tega banget sama ibu. Padahal, kurang apalagi coba ibu. Ibu itu sempurna, kok malah lebih milih wanita seperti itu. Saya yakin bu, suatu saat nanti bapak pasti akan menyesali perbuatannya. Telah menyia-nyiakan berlian, dan lebih memilih imitasi. Ibu yang sabar ya! Suatu saat nanti, ibu pasti akan mendapatkan pengganti yang lebih baik lagi dari bapak. Allah pasti akan membantu orang yang terdzolimi," ucap Bi Sumi. Bi Sumi merasa gemas mendengar cerita dari majikannya itu.

__ADS_1


"Biarin saja, bi! Ibu sudah mengikhlaskannya. Mungkin ibu memang enggak berjodoh sama bapak. Insya Allah, ibu akan sabar bi. Mungkin ini yang terbaik untuk ibu. Alhamdulillahnya, Allah segera menunjukkannya, tidak terlalu berlarut-larut. Makasih ya Bi, doanya. Untuk sekarang sih, ibu belum terpikir untuk menikah lagi. Ibu ingin fokus dulu sama diri sendiri, ingin menata hidup baru. Lagipula, ibu ingin mengurus perceraian ibu dulu sama bapak. Do'ain ibu ya bi, semoga saja bapak enggak mempersulit perceraian ibu sama bapak! Ya sudah, ibu lanjut dulu. Kamu juga lanjut dulu, takut mereka keburu datang," ucap Jihan.


Setelah mengakhiri panggilan dengan sang ART, dia pun langsung turun dari mobil, dan berjalan ke arah bibir pantai. Jihan langsung meluapkan perasaan hatinya saat ini, agar selanjutnya dia bisa merasa tenang. Dia berteriak, mengumpat mantan suaminya. Dia begitu kecewa pada Wildan.


"Meskipun kamu menangis darah pun, aku enggak akan pernah memaafkan kamu, mas! Tiada maaf bagimu! Hatiku teramat sakit! Aku benci kamu, mas! Aku enggak akan pernah mau kembali padamu lagi! Mulai hari ini, aku enggak akan pernah peduli lagi sama kamu! Aku ingin lihat, reaksi ibumu. Saat dia tahu, apa yang terjadi sebenarnya. Saat dia tahu, kalau selama ini akulah orang yang berjasa kepadamu. Kamu seperti kacang, lupa pada kulitnya! Kisah kita sudah berakhir, mas! Kita cari kebahagiaan kita masing-masing! Semoga kamu bahagia, dengan pilihanmu! Mungkin Allah memiliki rencana lain yang lebih indah untuk, mengapa sampai hari ini aku juga belum hamil. Kamu memang bukan yang terbaik untukku!"


Jihan terlihat rapuh, dia bersimpuh di pasir. Air matanya mengalir semakin deras. "Aku benci sama kamu, mas! Aku benci! Selamat tinggal! Aku akan membuang semua kenangan kita," ucap Jihan.


Jihan langsung menghapus semua foto-foto kebersamaan dirinya dengan Wildan satu persatu. Dia juga melepaskan cincin pernikahan dirinya dengan Wildan, dia akan menjualnya. Dia terlihat begitu lemah, harapannya untuk hidup bahagia selamanya dengan Wildan musnah sudah karena Wildan lebih memilih berselingkuh dengan Melisa, sahabatnya.


__ADS_1


__ADS_2