
"Melisa tak berani menjawab. Berarti dugaan kamu benar Wil, kalau anak itu anak laki-laki lain. Talak wanita itu Wil, sekarang juga! Agar hidup kamu tak semakin menderita. Kamu tak perlu membayar biaya kelahiran wanita itu, karena anak itu bukan anak kamu," ucap Mama Risma kepada sang anak.
Wildan tampak meneteskan air matanya. Dia begitu menyesal. Wanita yang dia bela, ternyata menghancurkannya. Rasa kecewa Wildan begitu mendalam. Hatinya begitu hancur, saat dirinya tahu kalau anak yang dikandung Melisa bukanlah anaknya.
"Aku mohon, jangan talak aku! Aku mencintai kamu, Mas! Aku membutuhkan kamu. Di dunia ini, tak ada lagi yang aku miliki. Aku hanya memiliki kamu, anak ini, dan juga Mawar. Iya, aku salah. Selama ini aku tak jujur kepada kamu, karena aku juga gak tahu anak yang aku kandung saat itu anak siapa. Aku diperko*sa beberapa orang laki-laki. Aku gak tahu, itu benih siapa. Saat itu aku pulang bekerja. Aku memilih untuk diam, tak cerita sama kamu. Aku takut, kalau akhirnya kamu meninggalkan aku. Saat itu, hubungan kita sudah sangat dekat. Kamu pun sudah janji mau menikahi aku. Kita sudah sering melakukannya," ungkap Melisa di iringi isak tangis.
Luka akibat operasi belum sembuh, sekarang dia dihadapkan dengan perceraiannya dengan Wildan. Karena ternyata, anak yang dia lahirkan itu bukan anak Wildan. Kondisi anak itu pun kurang baik, anak itu mengidap penyakit anemia. Membutuhkan transfusi darah.
"Aku talak kamu! Mulai hari ini, kamu bukan istri aku," ucap Wildan dengan suara yang bergetar.
Dia tak bisa memaafkan Melisa. Anak yang selama ini dia impikan, harapkan. Ternyata, bukan anaknya. Padahal, dia sudah kehilangan semuanya. Hidupnya benar-benar hancur.
__ADS_1
"Berarti, dugaan kita selama ini salah Ma. Jihan tak mandul, yang mandul Wildan. Wildan gak bisa membuat Jihan hamil. Tapi sekarang, Jihan hamil dengan suaminya yang baru. Jihan sedang hamil," ucap Wildan lirih.
Pernyataan Wildan membuat Mama Risma shock. Dadanya terasa sakit, dan akhirnya jatuh pingsan. Tentu saja hal itu membuat Wildan panik. Dia langsung memanggil perawat, berharap mendapatkan pertolongan.
"Mohon maaf Pak, kami tak bisa melakukan tindakan kepada Ibunya Bapak. Lebih baik sekarang Bapak bawa ibunya ke IGD, untuk mendapatkan pertolongan. Takutnya, ibunya Bapak terkena serangan jantung," jelas sang perawat.
Tanpa menunda waktu lagi, Wildan langsung menggendong sang mama ke IGD. Dia berharap, sang mama mendapatkan pertolongan. Wildan terlihat bertambah sedih. Dia yakin, pasti mamanya shock. Sama halnya dengan dia. Namun, dia berusaha untuk tegar. Meskipun dirinya saat itu, begitu rapuh.
"Ya Allah, aku mohon selamatkan mamaku! Aku sangat menyayanginya," doa yang Wildan ucapkan.
Berbeda halnya dengan Wildan yang sedang menyesali perbuatannya selama ini. Jihan justru terpaksa mengikuti ucapan suaminya. Affan tak mengizinkan Mawar memasuki rumah mereka. Affan menyuruh sang istri, memberikan uangnya saja untuk Mawar makan. Affan khawatir, kalau nantinya Melisa atau Wildan menjadi berani kepada sang istri karena merasa Jihan sudah baik kepadanya.
__ADS_1
"Maafin Tante ya! Ini uang untuk Mawar makan! Mawar beli makanan di luar aja ya nanti. Tante tak ingin berhubungan lagi dengan kedua orang tua kamu. Om Affan tak mengizinkan mereka menginjakkan kakinya di rumah ini," jelas Jihan dan Mawar mengerti. Meskipun dia belum dewasa, tetapi dia sudah memahaminya.
Perasaan Melisa saat itu begitu hancur, dia tak bersemangat. Terlebih dia tak memiliki uang sama sekali. Wildan telah pergi meninggalkan dia begitu saja, dan juga sudah menalaknya. Melisa hanya bisa pasrah menjalani hidupnya.
"Maafkan aku, Ta! Ini semua balasan atas apa yang aku lakukan selama ini kepada kamu. Hidup aku begitu menderita. Aku memang orang yang gak tahu diri. Padahal selama ini kamu baik kepadaku. Aku justru mengkhianati kepercayaan kamu, merebut suami kamu. Berniat mendapatkan kebahagiaan, aku justru mendapatkan cobaan yang bertubi-tubi," ucap Melisa dalam hati. Air matanya terus mengalir. Tatapan dia kosong.
Di tempat lain. Wildan dan Mama Risma menangis bersama. Terlihat sekali penyesalan di wajah tua Mama Risma. Masih dia ingat, betapa jahatnya dia dulu kepada Jihan. Sampai dia mengecap, Jihan wanita mandul. Ucapannya dulu terbukti salah, Jihan terbukti hamil. Bukan wanita mandul yang dia tuduhkan. Justru anaknya yang kemungkinan besar mandul.
"Wil, maafkan Mama! Mama yang telah menghancurkan hidup kamu. Mama yang menyuruh Melisa untuk mendekati kamu, merebut kamu dari Jihan. Ternyata, apa yang dilakukan mama adalah salah besar. Jihan wanita yang baik, dan dia tidak mandul. Mama yang menyuruh Melisa menjebak kamu, untuk jatuh ke pelukan kamu. Mama cemburu sama Jihan. Mama mengira, selama ini kamu memanjakan dia," ungkap Mama Risma di iringi isak tangis.
"Wildan tak menyangka. Mama begitu tega sama Wildan. Padahal, mama tahu kalau Wildan sangat mencintai Jihan. Kami hidup bahagia. Jihan wanita yang baik, dia itu istri dan menantu yang baik. Tapi justru kita sia-siakan," ungkap Wildan.
__ADS_1
"Iya, mama sangat menyesal. Mama orang tua yang jahat, yang menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri, dan sekarang mama harus melihat kamu benar-benar hancur. Maafkan mama, Wil! Pertemukan Mama dengan Jihan. Mama ingin meminta maaf kepadanya. Mama banyak salah sama dia. Mama ingin hidup tenang, jika mama meninggal nanti," ucap Mama Risma.
"Iya. Nanti Wildan tanya sama Mawar, dimana rumah Jihan. Wildan akan temui Jihan, dan menyampaikan pesan mama. Semoga saja Jihan mau memaafkan kita. Agar Allah mengampuni dosa-dosa Wildan. Setelah menyakiti hati Jihan, rezeki Wildan dipersempit. Bahkan sampai sekarang, Wildan belum bekerja kembali," Wildan berkata kepada sang mama. Mama Risma mengaminkan ucapan anaknya. Dia berharap, setelah mendapatkan maaf dari Jihan. Kehidupan mereka akan kembali pulih.