
"Akhirnya, inilah yang aku nantikan! Terima kasih kamu sudah hadir di rahim aku. Meskipun, aku tak tahu kamu anak siapa. Aku tak peduli, karena ini adalah kesempatan untukku untuk mengikat Wildan. Aku yakin, Jihan tak akan mau di madu. Meskipun madunya itu, sahabatnya sendiri," ucap Melisa. Dia tertawa puas dalam hati.
"Kamu salah Mas, bermain-main dengan aku! Aku tak akan pernah melepas kamu, sampai kapan pun! Aku akan membuat kamu bercerai dari Jihan! Kamu pikir, kamu bisa meninggalkan aku? Tentu saja, tidak! Meskipun aku hanyalah orang kampung yang tak berpendidikan! Tapi, aku mempunyai otak cerdas dari kamu dan juga Jihan. Jihan ... Jihan! Ternyata, kamu tak lebih pintar dariku! Bahkan suamimu berselingkuh denganku saja, kamu tak tahu. Kamu memang lebih sukses dari aku dalam hal pendidikan dan juga karier, tapi kamu kalah dalam urusan Wildan. Suamimu sudah jatuh ke pelukan aku," ucap Melisa lagi dalam hati.
Semenjak mereka keluar dari ruang periksa, Wildan tampak diam. Tak ada sepatah katapun terlontar dari bibirnya. Dia hanya diam membisu. Tentu saja hal itu membuat Melisa merasa kesal.
"Sepertinya, kamu tak suka ya dengan kehamilan aku? Jangan bilang, kamu ingin menghindar ya! Aku tak akan melepas kamu, dan membiarkan aku menjalani kehamilan ini sendiri. Asal kamu tahu, aku sudah terancam di pecat karena sering tak masuk kerja. Apalagi kalau atasan aku tahu, aku hamil di luar nikah. Dia pasti akan memecat aku. Kalau aku tak bekerja, gimana nasib aku dan nasib anak, dan ibuku di kampung," cerocos Melisa.
"Aku mohon, beri aku waktu! Aku masih shock. Entah, aku harus senang atau justru bingung. Jujur, ini adalah yang aku inginkan. Mama aku pun sudah sangat menginginkan seorang cucu. Tapi, aku ingin anak itu dari Jihan," sahut Wildan. Mendengar hal itu, Melisa tersulut api amarah. Dia merasa tak suka, mendengar Wildan yang masih saja menginginkan Jihan.
Satu tamparan mendarat di wajah Wildan, Melisa merasa tak terima. Hal itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang di apotek Sebagai seorang laki-laki, Wildan merasa tak terima di perlakuan seperti itu. Dia langsung menarik tangan Melisa kasar ke luar rumah sakit. Padahal, dia sedang menunggu obat. Wildan sudah tak mempedulikannya lagi.
Wildan langsung membawa Melisa ke mobil. Dia menjadi sosok yang kasar terhadap Melisa. Melisa pun tak mau tinggal diam, dia tampak memukul-mukul Wildan meluapkan perasaannya saat itu. Melisa sangat kecewa dengan Wildan. Apa yang terjadi, tak seindah yang dia pikirkan selama ini. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Saat ini dia sedang mengandung, dia harus tetap bertahan dengan Wildan. Dia tak mungkin menanggung kehamilan ini sendiri.
__ADS_1
Melisa tampak menangis, dan berakting memukul-mukul perutnya. Mengancam Wildan akan membunuh anak itu, jika Wildan tak mau menikahi dirinya. Wildan tampak mengacak-acak rambutnya, dia terlihat stres. Tapi, dia tak mungkin menghindarinya. Calon anaknya sudah hadir di rahim Melisa.
"Iya ... iya! Aku akan menikahi kamu! Kamu sabar dulu! Tapi, aku mohon! Jangan sampai Jihan tahu! Aku akan menikahi kamu secara siri dulu," ucap Wildan.
"Sabar? Sampai kapan? Sampai perut ini membesar? Kenapa kamu enggak bicara saja sama Jihan, kalau kamu sudah berhasil menghamili aku. Aku yakin, dia pasti menerima. Dia harusnya menyadari, kalau dirinya memang mandul. Buktinya, aku hamil anak kamu. Mau enggak mau, dia harus menerima sahabatnya menjadi madunya. Anak ini butuh kejelasan! Butuh akte untuk identitas dia saat sekolah nanti. Harusnya, Jihan yang mengalah," protes Melisa.
"Iya, sabar dulu! Suatu saat aku akan bicara hal ini kepada Jihan. Tapi, tidak bisa sekarang-sekarang ini. Aku harus bicara pelan-pelan sama dia, mencoba memberi pengertian kepada Jihan. Untuk masalah akte anak kita, nanti kita bicarakan lagi ya! Kamu tenang dulu ya!" Ujar Wildan sambil mengusap rambut Melisa lembut. Dia mencoba menenangkan Melisa.
"Ya sudah, kalau kamu di pecat! Enggak apa-apa. Aku yang akan membiayai hidup kamu dan juga anak kamu di kampung. Aku akan bekerja keras untuk mendapatkan uang yang banyak, karena sekarang tanggungan aku bertambah. Kamu fokus saja dulu sama kehamilan kamu. Apalagi, kondisi kamu lemah," ucap Wildan lembut.
"Terus, obat dan vitaminnya gimana jadinya? Tadi, enggak jadi di tebus, gara-gara kamu," ucap Melisa.
"Ya, habisnya kamu. Segala menampar aku di depan banyak orang. Buat aku malu saja. Kalau kamu tak seperti itu, aku tak akan semarah itu," sahut Wildan.
__ADS_1
"Aku juga tak akan seperti itu, jika kamu tak membuat aku kesal. Kamu yang buat aku seperti itu. Wanita hamil itu, perasaannya sensitif." Melisa menjawab ucapan Wildan.
"Iya, aku minta maaf. Aku akan ambil obat itu. Kamu mau tunggu sini apa ikut? Demi anak kita, aku akan membuang perasaan malu aku," ucap Wildan.
"Gitu dong! Itu tandanya, ayah yang baik," puji Melisa.
Wildan membuang perasaan malunya, mereka turun dari mobil, dan kembali ke apotek. Melisa duduk menunggu, sedangkan Wildan mendekati loket obat. Menanyakan atas nama Melisa sudah di panggil atau belum. Ternyata, sudah terlewat. Wildan langsung membayar uang obat itu.
Pengeluaran Wildan sekarang menjadi bertambah. Dia harus memberikan uang kepada Melisa. Dia sedang mencari cara, untuk mendapatkan uang yang lebih banyak. Dia juga sedang berpikir, bagaimana caranya dia memberi pengertian kepada Jihan, karena dia harus mengurangi jatah setiap bulannya kepada Jihan.
Mereka sudah selesai, dan sudah meninggalkan rumah sakit. Melisa tampak merengek ingin makan steak, dengan alasan keinginan mengidam. Tentu saja Wildan menurutinya.
"Wah ... wah ... wah! Kehamilan ini bisa dijadikan alasan untuk mencari perhatian Mas Wildan. Dia pasti menuruti permintaan aku. Asyik, jadi keberuntungan untuk aku. Dia pasti akan semakin melupakan Jihan, dan lebih memperhatikan kehamilan aku," ucap Melisa menyeringai licik.
__ADS_1
Mereka kini sudah sampai di Mall tempat Melisa bekerja. Awalnya, Wildan tak ingin membawa Melisa ke Mall itu. Takutnya, teman atau atasan Melisa melihatnya. Padahal, hari ini Melisa izin tak bekerja. Justru Melisa yang lebih terlihat cuek. Dia tak masalah, kalau nantinya dia di pecat dari pekerjaannya. Toh, dia sudah memiliki sumber penghasilan. Ngapain juga dia capek-capek bekerja. Kehamilan ini, akan dia jadikan alat untuk mengikat Wildan.