Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Kepergian Mama Risma


__ADS_3

"Mama?" teriak Vanya.


Vanya kakaknya Wildan terkejut, melihat sang mama sudah tergeletak di lantai. Dia begitu panik, dan langsung meminta pertolongan ke tetangga untuk membawa sang mama ke rumah sakit. Saat itu Wildan tak ada di rumah. Dia sedang bekerja. Sang kakak mencoba mengecek denyut nadi sang mama, untuk memastikan kondisi sang mama.


"Mama, jangan tinggalkan aku dan Wildan!" teriak Vanya histeris, karena sang mama sudah tak ada denyut di nadi dan jantungnya.


Tetangga yang hendak menolongnya pun ikut memeriksa, untuk memastikan. Tapi, memang benar. Mama Risma sudah tak bernyawa. Dia sudah pergi meninggalkan dunia. Umur tak ada yang tahu. Padahal tadi, Vanya melihat sang mama terlihat sehat.


Sang kakak langsung menghubungi Wildan, untuk memberitahu. Kalau sang mama sudah meninggal. Wildan baru saja sampai di kantor. Baru sampai di parkiran motor, perusahaan tempat dia bekerja.


"Kakak? Kenapa ya?" Wildan bermonolog, saat melihat nomor telepon sang kakak menghubunginya.


Hingga akhirnya Wildan langsung menerima panggilan dari sang kakak. Vanya menjelaskan, kalau sang mama sudah meninggal. Dia tak percaya kalau sang mama meninggal, karena memang tadi dia melihat Mama Risma dalam keadaan sehat.


"Kakak jangan becanda! Mama tadi sehat kok," Wildan masih saja mengelak. Dia tak percaya. Dia mengira sang kakak sedang bercanda dengannya.


"Ngapain juga kakak bohong? Mama memang benar meninggal. Kakak pun awalnya gak percaya. Tapi ini, memang benar. Tetangga pun hendak membantu, membawa mama ke dokter. Tapi sayangnya, saat itu nyawa mama tak bisa tertolong lagi. Ya udah, cepat pulang! Kita harus segera mengurus pemakaman mama," ujar sang kakak.


Tanpa menunggu waktu lama. Wildan pun langsung izin pulang kembali. Dia mengatakan, kalau sang mama meninggal. Dia harus segera pulang, mengurus semuanya.


Wildan bersyukur, karena sang mama sempat meminta maaf kepada Jihan. Jihan pun sudah memaafkan kesalahan sang mama. Kini Mama Risma sudah tak ada di dunia lagi. Apa yang pernah dia ucapkan, memang suatu pertanda.

__ADS_1


Wildan baru saja sampai di rumah. Dia langsung menuju Mama Risma, yang saat itu sudah terbujur kaku. Wildan tampak sedih melihat wajah sang mama. Dia masih merasa shock, tak percaya.


"Kenapa mama meninggalkan kami secepat ini?"


Wildan terlihat terpukul. Meskipun sang mama memiliki penyakit. Tetap saja, dia merasa sedih, karena kehilangan sang mama. Air matanya pun akhirnya jatuh satu persatu membasahi wajahnya.


"Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa yang mama perbuat selama ini, dan diterima di sisinya, doa yang Wildan ucapkan kepada sang Mama di iringi isak tangis.


"Sudah Dek, jangan nangis terus! Kakak juga sedih. Tapi, ini sudah takdirnya Mama. Lebih baik, kita segera mengurus Mama! Kita harus segera mengubur Mama. Kasihan, kalau menunda terlalu lama!" ucap Vanya mengingatkan sang adik.


"Iya, Kak benar. Wildan urus pemakaman dulu, dan kakak urus Mama di rumah!" ucap Wildan kepada sang kakak, dan Vanya mengiyakan.


Urusan pemakaman, sudah selesai. Wildan kembali ke rumah, untuk mengurus persiapan pemakaman. Setelah dimandikan, dan dikafani. Mama Risma langsung disholatkan, untuk segera dimakamkan. Kesedihan mengiri kepergian Mama Risma.


Wildan begitu kehilangan sang mama. Tak ada lagi tumpuan di hidupnya. Meskipun sang mama pernah berbuat jahat kepadanya, berusaha memisahkan dia dari Jihan.


Mama Risma sudah selesai disholatkan. Kini saatnya dimakamkan. Sirine mobil jenazah sudah terdengar. Siap mengantarkan Mama Risma ke tempat peristirahatan sang mama untuk terakhir kalinya. Untungnya, Wildan memilih teman yang baik kepadanya. Yang mau membantu Wildan, meminjamkan uangnya untuk biaya pemakaman sang mama.


Wildan membantu menggotong keranda jenazah sang mama, naik ke mobil jenazah. Wildan pun ikut masuk di dalamnya. Sampai akhirnya mobil jenazah itu berhenti di sebuah pemakaman umum. Wildan langsung turun menyambut, kemudian membantu menggotong sang mama.


Jika sudah seperti ini, manusia tak ada lagi yang disombongkan. Mereka akan kembali ke tanah. Hanya amal ibadahnya, yang akan membantunya di akhirat. Wildan berharap, sang mama diterima di sisi Allah, dan dilapangkan kuburnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya selaku anak dari Almarhumah, ingin meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat mama saya semasa hidup. Mohon dibukakan pintu maaf seluas-luasnya! Saya ucapkan terima kasih, untuk semua yang mengantarkan mama saya ke pembaringan terakhirnya. Semoga kalian mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT. "


Wildan juga sedikit cerita tentang kebersamaannya dengan sang mama saat itu. Dia terlihat beberapa kali mengusap air mata yang sudah jatuh. Wildan tak mampu membendung perasaannya.


Prosesi pemakaman mulai berlangsung. Wildan turun ke liang lahat, untuk meletakkan sang mama di tanah. Meletakkan sang mama secara perlahan.


"Selamat jalan mama! Sekarang mama sudah tenang, tak merasa sakit lagi. Wildan sayang mama. Do'akan Wildan ya, Ma! Semoga Wildan bisa melewati kehidupan Wildan selanjutnya, tanpa mama. Selama ini, Mama adalah penyemangat Wildan untuk bangkit dari keterpurukan," ucap Wildan dalam hati.


Kini sang mama sudah tertutup oleh tanah. Prosesi pemakaman sudah selesai. Satu persatu keluarga dan tetangga yang dekat, pergi meninggalkan pemakaman.


"Ma, Wildan pulang dulu ya! Assalamualaikum," ucap Wildan dalam hati.


Wildan melangkahkan kakinya meninggalkan pemakaman, begitu juga sang kakak, dan keponakannya. Wildan tak tega juga melihat sang kakak yang harus berjuang menjadi single parent. Dia sudah bercerai dari mantan suaminya, dan harus menghidupi Anak-anaknya.


Wildan merasa hampa. Dia tak tahu, kalau mantan istrinya pun sudah meninggal bu*nuh diri. Dia sudah tak peduli dengan kehidupan Melisa. Saat ini dia sedang berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Berharap Allah masih memberikan kesempatan kepadanya untuk hidup bahagia.


Vanya dan Wildan sudah sampai di rumah yang selama ini mereka tempati bersama sang mama. Rumah itu terasa hampa. Vanya sang kakak, akan mempersiapkan untuk acara selamatan nanti malam. Untuk mendoakan almarhumah sang mama. Wildan menyerahkan semuanya kepada sang kakak, untuk mengaturnya.


Wildan memasuki kamar sang mama, dan menatap figura yang berisi foto sang mama sedang tersenyum. Wildan membaringkan tubuhnya di ranjang bekas sang mama, dan menciumi guling sang mama. Wangi tubuh sang mama begitu terasa. Wildan mengira sang mama sudah sehat. Sang mama pun terlihat segar.


Perlahan, Wildan pun tertidur di sana. Sang kakak yang melihat sang adik tertidur, memilih mendiamkannya. Dia membiarkan sang adik tertidur nyenyak. Mereka harus selalu kompak, meskipun sudah tak memiliki orang tua. Harus saling support satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2