
Melisa tampak kesal, karena Wildan tak juga mengangkat telepon darinya. Padahal tadi, Wildan bilang dirinya disuruh memberi kabar kepadanya. Agar Wildan berangkat menjemputnya.
"Brengsek! Bisa-bisanya kamu mengabaikan aku! Jangan coba-coba berpaling dariku! Jika aku tak bisa memilikimu, aku pun akan membuat kamu hancur, dan berpisah dari Jihan!"
Akhirnya, Melisa pulang dengan naik ojek online. Padahal, dia ingin sekali orang melihatnya. Dia turun naik mobil, dengan bangganya dia akan mengatakan kalau Wildan adalah kekasihnya kepada teman-teman kerjanya. Dia tak peduli, kalau nantinya Jihan mengetahui perselingkuhan suaminya dengan dia.
Dia akan merebut waktu kebersamaan Wildan dengan Jihan. Meminta Wildan untuk membagi waktunya, untuknya bisa bersamanya. Melisa baru saja sampai di rumah. Seperti biasanya, rumah itu sudah sangat sepi. Melisa langsung menaiki anak tangga menuju kamar Wildan. Tanpa mengetuk pintu kamar Wildan terlebih dahulu, dia masuk begitu saja. Bersikap kurang ajar, seakan dirinya adalah istri sah Wildan.
Melisa langsung mengunci pintu kamar Wildan, dan membuka seluruh pakaiannya. Hingga kini sudah dalam keadaan polos. Kemudian merangkak naik ke ranjang, menciumi leher Wildan. Melisa sudah tahu titik lemah Wildan. Ya lagi-lagi Wildan menikmatinya. Tubuhnya sudah bergeliat dan mende*sah, bahkan miliknya langsung menegang.
Perlahan Wildan membuka matanya, dan melihat Melisa yang kini sudah berada di sampingnya. Lagi-lagi dia terbujuk rayuan maut Melisa. Bahkan untuk keduanya ini sangat berbeda. Dengan senang hati Wildan langsung membuka semua pakaian yang dia kenakan.
"Pintunya kunci dulu! Takut ada yang masuk!" Perintah Wildan.
"Akhirnya, aku berhasil membuat kamu masuk ke perangkap aku," ucap Melisa dalam hati. Hatinya bersorak gembira.
Pergulatan panas malam ini terjadi kembali, keduanya terlihat begitu menikmatinya. Seakan Wildan lupa, kalau statusnya dirinya yang masih menjadi suami dari Jihan. Nap*su membuat dia tak lagi memikirkan perasaan Jihan.
__ADS_1
Disaat hampir mencapai kli*maks, Wildan langsung mencabut senjatanya, dan menembakkannya di perut Melisa. Keduanya kini sudah terbaring lemah, mencoba mengatur napas dan jantung mereka yang berpacu cepat.
"Cium dong! Enggak ada romantisnya banget si, giliran sama Jihan romantis banget!" Protes Melisa, hingga akhirnya mau tak mau Wildan menuruti permintaan Melisa. Wildan langsung melabuhkan kecupan di kening Melisa. Dengan beraninya, Melisa mencium bibir Wildan, dan sedikit **********.
"Mulai sekarang, aku ingin waktu kamu dibagi! Jangan coba-coba menghindar dariku, jika Jihan telah kembali! Jika aku tak bisa mendapatkan kamu, Jihan pun tak boleh bersamamu, dan aku ingin melihat kamu hancur!" Ancam Melisa.
"Oke, aku akan turuti semua permintaan kamu. Aku akan membagi waktuku, untuk kamu. Aku janji, aku akan menikahi kamu. Tapi, aku mohon jangan sampai Jihan tahu! Aku tak ingin menyakiti hatinya. Aku mencintainya. Aku akan mencari tempat kosan untuk kamu. Karena kamu tak mungkin tinggal di sini!" Ujar Wildan.
Awalnya Melisa merasa tak terima, karena dia yakin kalau Wildan seperti itu karena ingin menghindar darinya. Dia tak mungkin dengan. mudah mendekati Wildan, jika tak tinggal satu rumah lagi. Namun, Wildan mencoba memberi pengertian.
"Aku bukan ingin menghindar dari kamu. Tapi, kalau cara kamu seperti ini, lambat laun Jihan akan curiga. Aku akan menepati janji aku padamu, asalkan kamu tak membongkar rahasia besar ini. Sebisa mungkin, aku akan berusaha untuk bisa bersama kamu. Apapun alasannya dan bagaimanapun caranya. Kamu tak perlu khawatir, biar aku yang mengaturnya," ujar Wildan mencoba meyakinkan Melisa, hingga akhirnya Melisa mengerti.
"Iya, silahkan! Makanya, sebisa mungkin aku tak akan mengingkari janji aku kepadamu. Karena kamu tipe wanita yang nekat, dan aku tak mau bermasalah. Maaf tadi aku tak jadi jemput kamu, aku merasa sangat lelah. Kau sendiri yang membuat aku seperti itu. Jika kamu semalam tak mengganggu tidurku, aku tak mungkin seperti itu," ungkap Wildan.
"Siapa suruh menantang aku? Jika aku tak bertindak nekat seperti itu, pasti sampai saat ini kamu tak akan peduli kepadaku. Memandangku pun tak mau. Tapi, jika sudah seperti ini. Kamu tak akan berkutik," ucap Melisa manja. Melisa naik ke atas tubuh Wildan, dan mereka kini saling pandang.
"Jadi kita sepakat ya menjalin hubungan? Mulai sekarang, kamu calon suami aku? Aku 'kan mau seperti yang lain. Yang dijemput kekasihnya naik turun mobil, di ajak makan di restoran, di ajak nonton, dan liburan," ucap Melisa manja.
__ADS_1
"Iya, aku janji akan mewujudkan keinginan kamu," sahut Wildan.
"Makasih. I love you," ucap Melisa yang langsung menyambar bibir Wildan. Percintaan panas pun terjadi kembali. Mereka terlihat bahagia.
Jihan terbangun, keringat bercucuran membasahi wajahnya. Dia mencoba mengatur napasnya. Jihan baru saja mimpi buruk. Mimpi melihat suaminya bercinta dengan sahabatnya.
"Astaghfirullah. Tidak! Tidak mungkin! Mengapa aku bermimpi seperti itu. Aku tak boleh berpikir buruk kepada mereka. Mas Wildan tak mungkin mengkhianati aku, dan Melisa pun tak akan setega itu padaku. Aku yakin, kalau ini hanyalah bunga mimpi. Ya Allah, hilangkan perasaan ini, aku tak ingin berprasangka buruk kepadanya," ucap Jihan.
Air matanya menetes satu persatu. Jihan memegangi buliran air mata yang membasahi wajahnya. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak. Dia tampak bingung, mengapa air mata itu menetes tanpa dia tahu alasannya.
"Mengapa air mataku menetes? Padahal, aku tak sedih? Karena tak ada yang patut aku sedihkan. Aku yakin semuanya pasti baik-baik saja. Kenapa jadi melow si?"
Jihan langsung menghapus air mata yang membasahi wajahnya. Dia tak ingin terbawa perasaan, yang nantinya akan menghancurkan hubungan dia dengan suaminya dan juga sahabatnya.
Dia tak tahu, kalau semua itu sebuah kenyataan di hidupnya, yang akan menjadi mimpi buruk untuknya. Dimana saat dirinya melihat secara langsung, pengkhianatan suami dan juga sahabatnya yang selama ini dia percaya.
Wildan dan Melisa justru saat ini sedang berpelukan mesra, semalam suntuk mereka habiskan waktunya untuk bersama.
__ADS_1
"Besok kita cari tempat kosan ya! Aku besok izin tak bekerja. Sekalian aku menunggu Jihan pulang. Nanti, kalau Jihan nanya kenapa kamu pindah. Bilang saja, kamu mau cari tempat kos dekat kantor. Kamu pinjam uang ke teman kamu, untuk menyewa kosan," ujar Wildan dan Melisa mengiyakan.
"Aku jadi terpikir untuk menjadikan alasan lagi untuk meminjam uang sama Jihan. Aku bilang saja untuk membayar kosan, padahal yang bayar kosan 'kan Mas Wildan," ucap Melisa dalam hati. Dia tersenyum licik. Selama dia bisa memanfaatkan kebaikan Jihan, dia akan melakukannya. Suatu keberuntungan baginya. Mendapatkan Wildan dan juga uang Jihan.