
"Bagaimana Dok, kondisi mama saya saat ini?" Tanya Vanya. Dia terlihat begitu khawatir terhadap sang mama.
"Mama Anda sudah melewati masa kritisnya. Namun saat ini, kita masih harus menunggu beliau sadar," jelas sang dokter dan Hanya mengiyakan.
Vanya tampak bingung. Ke mana dia harus meminta pertolongan. Jika sedang seperti ini, dia begitu menyesal kehilangan mantan kakak iparnya yang seperti malaikat untuk mereka. Kini semuanya sudah sirna, dan tak akan pernah kembali lagi. Mantan kakak iparnya itu, tak akan pernah menjadi penolong untuk keluarganya. Dia tak habis pikir, kenapa Wildan bisa tergoda dengan Melisa.
Mama Risma perlahan membuka matanya. Wajahnya terlihat pucat, dia juga terlihat lemas. Dia terlihat begitu rapuh.
"Vanya ...," panggil Mama Risma.
Vanya berjalan mendekati sang mama. Kini dia sudah berdiri di sebelah sang mama. Perawat meminta Vanya untuk melakukan administrasi, untuk pemindahan ke ruangan perawatan.
"Mama mau apa? Ini aku harus mengurus ruangan untuk pemindahan mama," ucap Vanya sang anak.
"Ya sudah, kamu urus dulu saja!" ucap Mama Risma dan Vanya mengiyakan. Selama ini hidup mereka bergantung sama Wildan, dan sekarang mereka harus merasakan hidup tanpa hero mereka.
Mama Risma tampak lesu, karena dia harus di rawat di kelas tiga. Sesuai BPJS yang terdaftar. Tak ada pilihan lain, selain dia harus menerima keadaan dirinya sekarang.
Mama Risma tampak meneteskan air matanya, dia teringat sang anak yang kini mendekam di penjara. Akibat rencana busuk yang dia perbuat. Hingga akhirnya, menghancurkan sang anak.
Affan baru saja sampai di rumah, dan langsung di sambut wanita cantik yang kini menemani hari-harinya. Jihan sudah terlihat cantik, menyambut kedatangan suaminya. Dia langsung mencium tangan sang suami, sebagai rasa hormatnya kepada sang suami.
__ADS_1
"I love you, istri cantik aku," ucap Affan. Jihan tampak malu-malu, saat sang suami memeluk dirinya, dan memberikan kecupan di keningnya. Padahal saat itu, ada kedua ARTnya.
"Temani Mas ke kamar yuk!" Ucap Affan kepada sang istri.
"Mas mau makan enggak? Tadi aku masak," ungkap Jihan.
Affan memilih untuk mandi dulu. Setelah itu, barulah dia akan makan masakan istri tercintanya. Kini keduanya sudah berada di dalam kamar. Jihan memilih untuk tidak memulai pembicaraan lebih dulu, mengenai mantan suaminya itu. Jihan menunggu, sampai sang suami yang akan membahasnya.
"Mas mandi dulu ya, Sayang!" ucap Affan kepada sang istri, dan Jihan menganggukkan kepalanya.
Jihan menyiapkan pakaian untuk suaminya. Affan baru saja selesai mandi, dia sudah terlihat segar. Dia keluar, hanya menggunakan handuk yang dia lilitkan di pinggangnya. Membuat Jihan menelan salivanya.
Jihan langsung spontan menutup matanya, saat Affan dengan sengaja membuka handuk yang dia gunakan begitu saja. Menunjukkan tubuh polosnya. Affan langsung menghampiri sang istri, dan memeluknya.
Perlahan, Affan mendekati wajahnya, dan menempelkan bibirnya di bibir sang istri. Kemudian ********** dengan penuh kelembutan. Perlahan demi perlahan. Affan juga menarik tengkuk sang istri, untuk memperdalam ciumannya.
Lidah mereka kini saling membelit satu sama lain. Affan menarik tangan sang istri, dan mengarahkan untuk memegang miliknya yang sudah menegang. Affan menggendong tubuh sang istri ke ranjang, tanpa melepaskan ciumannya.
Affan meletakkan tubuh sang istri secara perlahan. Dia juga yang membuat tubuh sang istri menjadi polos. Jihan hanya pasrah. Dia ingin membahagiakan suaminya.
"Boleh ya Mas, minta sama kamu?" Izin Affan kepada Jihan, dan Jihan hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Mereka bercumbu mesra kembali. Jihan mulai menikmati permainan tangan dan bibir sang suami. Keduanya sedang di tutupi gelora asmara. Percintaan panas pun di mulai. Desa*han demi de*sahan mengiringi percintaan mereka.
Lama kelamaan, Affan semakin pintar memberikan kepuasan untuk sang istri. Meskipun dia tak memiliki pengalaman sebelumnya, dia bisa pintar dengan sendirinya.
Affan membalikkan tubuh sang istri, dan mulai memasukkan miliknya. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuh keduanya. Dinginnya ruangan, tak menutupi rasa panas di tubuh keduanya. Affan semakin mempercepat permainannya. Hingga akhirnya, mereka mengerang bersama.
Dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Mencoba mengatur napasnya terlebih dahulu. Jantungnya pun berpacu begitu cepat. Besok dia akan berangkat keliling negara, untuk berbulan madu. Dia ingin membahagiakan istrinya, dengan kemewahan.
"Makasih ya, Sayang! Mas bahagia memiliki kamu! Semoga, segera hadir buah hati kita! Mas yakin, kalau kamu enggak mandul," ucap Affan. Affan melabuhkan kecupan di pucuk kepala dan kening sang istri.
"Tapi, kalau aku benar-benar mandul. Tak bisa memberikan keturunan kepada Mas, gimana? Apa Mas akan tetap mempertahankan aku? Atau justru berselingkuh seperti dia?" Ujar Jihan. Dia penasaran, dan dia ingin tahu jawaban apa yang akan di ungkap suaminya itu.
"Aku ini cinta sama kamu, bukan hanya sekadar bermain-main. Tak ada alasan bagiku, untuk meninggalkan kamu. Kalau pun nanti, kamu tak bisa memberikan Mas anak. Mas akan tetap mempertahankan rumah tangga dengan kamu. Kita coba berbagai cara. Kalau perlu kita berobat ke luar negeri, cari dokter kandungan terbaik. Atau mungkin, kita cek kesuburan gimana?" Ujar Affan.
"Aku takut nanti hasilnya kecewa, Mas! Aku dulu pernah cek kesuburan. Menurut hasil yang aku dapat, kondisi aku normal. Aku subur, aku bisa punya anak. Tapi nyatanya, aku tak juga hamil," sahut Jihan.
"Apa Wildan pernah tes kesuburan juga?" Tanya Affan yang kini menatap ke arah sang istri. Jihan menggelengkan kepalanya. Dia sudah pernah mengajak Wildan untuk memeriksakan kesuburannya. Tetapi, Wildan selalu menolaknya. Dengan alasan, merendahkan harga dirinya sebagai laki-laki.
Affan tampak tertawa. Bagi dia, sungguh lucu terdengarnya. Jika Wildan memang sungguh-sungguh ingin mempertahankan rumah tangganya. Seharusnya, dia tak keberatan untuk melakukan pemeriksaan. Jika pun nanti hasilnya membuat kecewa, mereka bisa mencari solusi untuk mengatasinya.
"Berarti, dia laki-laki yang egois. Dia juga enggak mau melindungi kamu. Pilihan kamu tepat, untuk berpisah darinya. Kalau Mas siap kok, kapanpun kamu menginginkan melakukan pemeriksaan. Kalau memang, ada di antar kita yang mandul. Kita coba cari solusinya. Kamu mau kapan melakukannya?" Ujar Affan.
__ADS_1
Mereka akhirnya sepakat, akan melakukan setelah pulang dari berbulan madu. Mereka akan fokus kepada program kehamilan. Affan akan mencari dokter kandungan terbaik.
Berbeda halnya dengan Jihan dan Affan yang kini sedang berbahagia. Wildan justru sedang terpuruk. Tak ada satu orang pun yang menolong dia, terbebas dari jeratan hukum.