
Hari ini adalah jadwal Jihan periksa. Dia sudah tak sabar, ingin mengetahui jenis kelamin kedua anaknya. Berharap sang anak tak menutupi jenis kelaminnya. Mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Kira-kira kedua anak kita jenis kelaminnya apa ya?" tanya Affan kepada sang istri.
"Semoga saja kembar tak menutupi jenis kelaminnya," sahut Jihan.
Mereka sudah sampai di rumah sakit. Jihan turun lebih dulu, karena dia ingin mendaftar terlebih dahulu. Setelah memarkirkan mobilnya, barulah Affan menyusul sang istri.
"Sudah daftar?" tanya Affan yang baru saja datang. Jihan pun menganggukkan kepalanya.
Saat ini keduanya sudah berada di kursi menunggu di depan poli. Menunggu giliran di periksa.
Kini saatnya dia di periksa. Jihan masuk bersama Affan. Affan selalu setia mendampingi istrinya. Dokter menyuruh Jihan berbaring di ranjang rumah sakit. Kemudian dokter mulai mengoleskan gel USG di perut Jihan. Setelah itu mulai menggerakkan transducer sambil memandang ke arah monitor.
Affan dan Jihan pun tampak serius memandang, meskipun mereka tak paham.
__ADS_1
"Gimana dok? Jenis kelamin kedua anak kami apa?" tanya Affan to the point.
Sepersekian detik. Akhirnya dokter mengatakan kalau anak mereka berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Keduanya tampak mengucap kata syukur. Akhirnya mereka memiliki anak sepasang.
Mereka sudah merasa tenang, karena kondisi kembar dalam keadaan sehat. Kini mereka sedang menunggu obat di apotek.
"Aku senang banget. Alhamdulillah keinginan aku terkabul. Semoga kedua anak kita selalu sehat dan terlahir dengan selamat," ucap Affan dan Jihan mengaminkan ucapan suaminya.
Mereka sudah selesai. Mereka memutuskan untuk langsung ke Mall. Affan ingin mengajak istrinya healing, agar tak bosan di rumah terus.
Kini keduanya sudah sampai di sebuah Mall. Mereka sudah berada di sebuah restoran di Mall tersebut. Affan dan Jihan langsung memesan makanan yang mereka inginkan.
"Ayo pulang?"
Ajak Jihan. Setelah satu jam berbelanja, Jihan mengajak sang suami pulang.
__ADS_1
"Pulang? Kamu yakin mau pulang sekarang? Sudah selesai belanjanya?" tanya Affan.
Jihan memang bukan ratu shopping. Sehingga dia tak betah berlama-lama di Mall. Dia hanya membeli yang dia butuhkan saja.
"Ya sudah, kalau kamu maunya seperti itu," sahut Affan.
Jihan sudah merasa lelah. Dia ingin segera sampai di rumah. Jihan terlihat tidur di mobil, ketika dalam perjalanan pulang. Affan memutuskan untuk membiarkannya.
Setelah sampai di rumah, barulah Affan membangunkan sang istri dengan lembut. Dia tak bisa menggendongnya, karena sang istri sudah berat. Kedua anaknya sudah besar di dalam perut.
Perlahan Jihan membuka matanya. Hingga akhirnya dia turun dari mobil.
"Aku bisa sendiri! Kamu tak perlu membantu aku," Jihan menolak sang suami yang ingin membantunya berjalan.
Dia tak ingin manja. Lagipula, dia memang masih bisa berjalan sendiri. Meskipun masih terasa lemas. Jihan langsung menuju ke kamarnya. Dia memang semakin mudah lelah. Perutnya sudah terlihat membesar. Ruang geraknya memang sudah mulai terasa berat.
__ADS_1
"Aku masih lemas," ucap Jihan manja.
Sesampainya di kamarnya. Jihan langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia masih merasa lemas. Affan pun tak akan menggangunya. Jihan ketiduran kembali. Melanjutkan tidurnya tadi di perjalanan.