Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Menunggu Jandamu


__ADS_3

"Mas Affan mau minum apa?" Tanya Jihan lembut.


"Lemon tea saja, Mba."


"Makanannya apa? Biar sekalian aku pesankan, Mas," ujar Jihan.


"Tidak usah, Mba! Tadi aku sudah makan sebelum ke sini. Aku minum saja! Mba kalau mau makan, makan saja!" ujar Affan kepada Jihan.


Sambil menunggu pesanan datang. Jihan mulai membuka obrolan. Kalau tujuan dia menghubungi Affan, karena dia membutuhkan orang yang bisa menyelesaikan kasus perceraiannya dengan Wildan. Dia khawatir, kalau Wildan akan mempersulit dirinya di sidang perceraian. Affan terperanjat kaget mendengar penuturan Jihan yang ingin bercerai dari sang suami.


"Jadi, Mba mau cerai dengan suami Mba? Memangnya ada masalah apa, Mba?" Tanya Affan yang kini menatap serius ke arah Jihan.


Jihan mulai menjelaskan kepada Affan, dia mengatakan kalau suaminya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Dia memergoki suaminya di kosan sahabatnya dalam keadaan polos, dan bahkan sang suami mengakui kalau mereka sudah menikah siri, dan sang sahabat saat ini sedang hamil anaknya.


"Astagfirullahaladzim. Yang sabar ya, Mba! Aku turut prihatin. Aku benar-benar tak menyangka, suami Mba bisa segila itu. Padahal, Mba itu wanita yang sempurna. Aku yakin pasti dia akan menyesal, karena telah menyia-nyiakan Mba. Sahabat Mba juga kok jahat banget sih, dengan teganya dia merebut suami sahabatnya sendiri," ucap Affan.


"Namanya juga setan, Mas. Dia dengan mudah merasuk di hati mereka. Mereka tak mampu menahan nap*su, hingga akhirnya mereka salah jalan. Mungkin, karena aku tak bisa memberikan keturunan kali Mas. Aku mandul mungkin, Mas. Selama 5 tahun kami menikah, aku tak juga hamil. Makanya, dia mencoba membuatnya dengan wanita lain. Entahlah, siapa yang harus dipersalahkan dalam hal ini. Tapi yang pasti, aku tak terima pengkhianatan mereka. Aku tak mau mempedulikannya lagi. Aku ingin fokus ke perceraian saja. Mas Affan bisa 'kan membantu perceraian aku dengannya? Aku ingin segera bercerai darinya! Daripada aku meratapi kesedihan, dan merasakan sakit hati ini. Lebih baik, aku bangkit, dan membuka lembaran hidup baru. Mungkin, Allah memiliki rencana lain untuk kami. Dia bukan jodohku," sahut Jihan. Meskipun dia terlihat tegar, tetapi tetap saja terdengar lirih di telinga Affan.


Tentu saja, Affan mau. Dia menjadi bersemangat, untuk membantu Jihan untuk bercerai. Dia akan menunggu, sampai Jihan menyandang status janda. Ini kesempatan emas baginya, untuk mendapatkan Jihan. Tetapi untuk sekarang, Affan memilih menyimpannya dalam hati. Saat ini, bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkap perasaannya.


"Mba tinggal siapkan saja persyaratannya! Nanti aku yang akan mengurusnya. Pokoknya, Mba tenang saja ya! Insya Allah, semuanya akan berjalan lancar. Terlebih, suami Mba di posisi yang salah. Mau tak mau dia harus menerima gugatan cerai dari Mba! Semangat Mba, jangan patah semangat! Benar yang dikatakan Mba, kalau dia bukanlah jodohnya Mba. Aku yakin, suatu saat nanti akan ada laki-laki yang tulus mencintai Mba." Affan mencoba memberi semangat kepada Jihan.


"Iya, Mas Affan enggak usah khawatir dalam hal itu. Aku akan tetap semangat kok. Aku yakin, semua akan indah pada waktunya. Dunia pun tak akan berakhir, pisah dengannya. Kebetulan, aku sudah bawa berkas-berkasnya. Ini Mas Affan bisa lihat! Rencananya besok, aku mau liburan dulu. Biar enggak suntuk, pulang dari liburan bisa fresh. Kemungkinan, dua atau tiga hari," ucap Jihan.


Affan salut dengan ketegaran hati Jihan menghadapi persoalan ini. Dia tahu, perasaan Jihan sebenarnya. Meskipun, Jihan berusaha menutupinya. Terlihat, kalau dia baik-baik saja. Padahal, Affan tahu. Kalau hati Jihan sebenarnya begitu hancur, dan terasa begitu sakit. Affan berjanji, dia akan mencoba menyembuhkan luka di hati Jihan, dan menggantinya dengan kebahagiaan.


Perbincangan mereka selesai, karena tak terasa saat itu jam menunjukkan pukul 21.30 WIB. Jihan pamit untuk pulang. Sebenarnya, Affan sudah menawarkan diri kepada Jihan. Dia ingin mengantarkan Jihan sampai rumah, Affan merasa khawatir. Waktu sudah cukup malam, ditambah lagi kondisi Jihan saat ini yang sedang bermasalah.

__ADS_1


"Mas enggak usah khawatir, aku sudah terbiasa menyetir mobil sendiri. Terkadang aku pulang jam 22.00 WIB dari kantor. Insya Allah tak ada apa-apa," ucap Jihan.


"Ya sudah, kalau Mba yakin akan baik-baik saja. Hati-hati di jalan ya," ucap Affan dan Jihan mengiyakan.


Jihan langsung pergi meninggalkan kafe, dan melajukan kendaraannya menuju rumahnya. Dia berusaha untuk kuat, meskipun rasanya begitu sakit. Besok, dia akan berangkat berlibur ke Bali selama 2 atau 3 hari.


"Wil ...," panggil Mama Risma. Suaranya masih terdengar lemas.


Wildan yang saat itu sedang menunggu sang mama, sambil memainkan ponselnya. Langsung tersentak kaget, saat mendengar sang mama memanggil dirinya. Wildan langsung menghampiri sang mama. Dia terlihat bahagia, karena akhirnya sang mama bisa sadar kembali.


"Alhamdulillah, sekarang mama sudah sadar kembali. Semoga ke depannya sehat ya ma," ucap Wildan.


"Entahlah Wil, Mama akan kuat apa tidak. Rasanya begitu berat menghadapinya. Jika mengingat kejadian di rumah Jihan, dada Mama terasa sesak. Semua masih seperti sebuah mimpi, Mama tak percaya akan seperti ini. Kalau kamu ...," Mama Risma tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi. Hanya air mata yang mewakilkan perasaan hatinya saat itu. Dia begitu shock, menghadapi kenyataan yang sebenarnya.


"Sudahlah, Ma! Jangan dipikirkan, kita coba jalani saja! Apalagi Wildan Ma, rasanya begitu berat Wildan menjalani kehidupan ini. Ini saja Wildan punya hutang 100 juta sama bos Wildan. Untung saja boleh, hanya di potong 1 juta setiap bulannya. Kalau tidak, bagaimana kehidupan kita nanti. Sebenarnya Wildan ingin jual mobil, tetapi mobil Wildan masih kredit. Kalau di jual tak ada lebihnya, rugi malahan. Wildan stres Ma, benar-benar menyesal kehilangan Jihan. Tapi, mau gimana lagi? Jihan sudah sangat membenci Wildan, di tambah lagi saat ini Melisa sedang hamil anak Wildan. Mau tak mau Wildan harus bertanggung jawab sampai anak itu lahir. Anak itu tak berdosa. Makanya, kita harus berhemat. Wildan juga akan mencari kontrakan yang lebih murah. Terpaksa hidup di kontrakan petakan," ucap Wildan lirih.


"Mama tak boleh bicara seperti itu! Mama harus bersyukur, karena Allah masih memberikan kesempatan kepada Mama untuk bertobat. Menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga Allah memaafkan kesalahan kita, dan mengangkat kembali derajat kita!" Wildan mencoba mengingatkan.


"Memangnya Mama salah apa? Kita itu seperti ini, karena si Jihan," sahut Mama Risma. Dia tetap saja bersikeras.


"Salah kita, telah mendzolimi Jihan, dan menyakiti hatinya. Apa Mama tak ingat, dengan apa yang Mama lakukan kepada Jihan. Selama ini Jihan masih terus bersabar menghadapi Mama, karena dia menghormati Mama sebagai mertuanya. Wildan pun menjadi suami yang tak tahu diri. Kurang apa lagi coba Jihan? Bukannya Wildan bersyukur, Wildan justru gelap mata. Tergoda dengan Melisa. Padahal selama ini, Jihan selalu memberikan kepuasan di ranjang," ungkap Wildan lirih.


"Tetap saja dia salah! Dia salah, karena tak mampu memberikan kamu keturunan. Sedangkan Melisa yang justru memberikan kamu anak. Kalau saja dia tak mandul, ceritanya tak akan seperti ini. Dulu Mama sayang kok sama dia. Mama kesal, karena dia tak juga memberikan kamu keturunan," Mama Risma masih saja membela diri. Tak mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya.


Sang anak sampai dibuat geleng-geleng kepala, melihat sikap sang mama yang masih saja bersikeras. Hingga akhirnya, Wildan memilih tak melanjutkan perdebatan ini. Tak ada artinya dia bicara kepada sang Mama, sang Mama tak juga menyadari letak kesalahannya selama ini.


"Ya sudah, enggak usah di bahas lagi! Yang lalu biarlah berlalu, semua tak akan pernah kembali lagi. Jihan tak akan pernah mau memaafkan aku lagi. Aku khawatir, kalau penyakit jantung Mama justru kambuh lagi. Ingat, Mama baru sadar. Tak boleh stres dan marah-marah," ucap Wildan dan Mama Risma akhirnya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Besok Wildan sudah mulai bekerja kembali, dan mulai besok Melisa yang akan menjaga Mama Risma selama Wildan bekerja. Malam harinya, Wildan yang akan menjaga sang Mama sampai Mama Risma di perbolehkan pulang ke rumah.


Wildan mencoba menghubungi Melisa, agar Melisa mempersiapkan pakaian untuk dirinya. Dia akan meminta Melisa datang pukul 06.00 pagi ke rumah sakit. Mau tak mau Melisa menurutinya. Dia hanya menggerutu dalam hati.


"Bikin susah saja itu nenek-nenek! Harusnya aku bisa tidur nyenyak dan bangun siang. Kenapa enggak mati saja si kemarin. Kan tugas Mas Wildan jadi selesai. Gara-gara operasi dia, Mas Wildan jadi hutang 100 juta. Tambah susah saja, harus di potong bertahun-tahun. Mas Wildan juga enggak menikmati bonus, kalau dia berhasil mendapatkan customer." Mulut Melisa terus saja mengoceh. Dia merasa kesal.


Tadinya merebut Wildan ingin bahagia, ini justru berbalik. Dia justru hidup tersiksa. Dulu dia pernah bermimpi ingin menjadi Jihan, yang hidup senang bersama Wildan. Ternyata, Wildan selama ini hanya menumpang hidup dengan sahabatnya.


Dia menjadi serba salah. Mau bercerai, saat ini dia sedang hamil. Meskipun dia juga tak tahu, anak siapa yang berada dalam kandungannya. Mau hidup sendiri akan semakin susah, harus menanggung anak itu sendiri. Dia pun tak mungkin mendapatkan pekerjaan, dalam kondisi hamil. Mau tak mau dia harus menjalani semua ini. Tak ada pilihan yang menguntungkan lagi.


Jihan sudah sampai rumah, dia langsung memarkirkan mobilnya. Kemudian langsung masuk ke dalam rumah. Bi Sumi sudah menyambutnya.


"Bi, Ibu besok berangkat ke Bali pukul 04.30. Ibu titip rumah ya! Ingat, jangan perbolehkan siapapun masuk ke dalam rumah! Kamu gembok saja ya! Bicara cukup dari dalam! Kemungkinan Ibu pergi 2-3 hari. Oh iya, ini uang buat pegangan kamu ya Bi! Takut kamu mau jajan. Bahan-bahan mentah masih banyak 'kan di kulkas. Kamu masak saja Bi yang kamu mau! Ibu sudah libur enggak masak, paling kalau Ibu lagi ingin masak saja," ucap Jihan tersenyum getir.


Hatinya terasa sakit jika mengingat itu. Betapa dirinya dulu selalu menjadi istri yang baik. Meskipun dirinya lelah, dan sibuk. Dia selalu menyempatkan waktu untuk memasak, demi menyenangkan hati sang suami. Tapi, nyatanya apa? Suaminya tetap selingkuh. Dia juga selalu mengikuti nap*su suaminya. Meskipun dirinya lelah, dia berusaha melakukan kewajibannya sebagai istri. Agar sang suami tak mencari kepuasan di luar sana. Tapi, nyatanya apa? Suaminya masih saja tak puas dengan dirinya.


Setelah berpesan kepada Bi Sumi dan memberikan uang sebesar 150 ribu. Jihan pamit ke kamar, karena dia harus menyiapkan pakaian untuk dirinya berangkat besok. Dia harus mulai terbiasa hidup sendiri, hidup sendiri. Meskipun dia masih kerap menangis, kala mengingat kenangan indahnya dulu bersama Wildan. Saat di kamar. Terlebih, Wildan selalu bersikap manis kepadanya.


Jihan tersungkur di lantai, rasanya dia begitu rapuh. Bahkan kakinya tak sanggup untuk berpijar. Bukan suatu hal yang mudah untuk melupakan kenangan dirinya bersama Wildan, 5 tahun bukan waktu yang sebentar untuknya. Rasa cintanya yang tulus di balas dengan pengkhianatan suami dan sahabatnya.


"Tega kamu, Mas! Aku benci kamu! Sangat membenci kamu! Aku tak akan pernah mau memaafkan kamu! Air susu di balas dengan air tuba, ungkapan kata untuk kalian. Untuk kamu Mel, kamu juga benar-benar jahat! Padahal, aku sudah menganggap kamu seorang sahabat sejak dulu. Aku juga yang telah membantu kamu untuk bertahan di Jakarta. Tetapi, dengan teganya kamu justru merebut suamiku. Merebut suami sahabatmu sendiri. Sekarang kamu sudah tahu 'kan? Kalau Mas Wildan tak sesempurna seperti yang kamu bayangkan. Aku yakin rumah tangga kamu tak akan bahagia, karena hubungan kalian berawal dari sebuah kesalahan," ucap Jihan yang saat itu terisak tangis. Air mata Jihan terus mengalir deras. Tak terbendung lagi.


Jihan berusaha bangkit, dan tertatih menghampiri ranjang. Kini dia duduk di tepi ranjang, memandang sekitar kamarnya. Tatapannya terlihat kosong. Bagaimanapun dia hanyalah seorang wanita yang memiliki hati dan perasaan. Dadanya terasa sesak, karena terlalu banyak menangis, dan teringat saat Wildan berada di kamar kos Melisa saat itu.


"Ayolah, Jihan! Kau tak boleh seperti ini! Tatap matamu ke depan! Suatu hari nanti kamu pasti akan mendapatkan kebahagiaan, mendapatkan pengganti dari rasa sakit yang kamu rasakan saat ini! Kamu tak boleh lemah! Jika kamu lemah, mereka akan semakin senang menertawakan kamu! Kamu adalah wanita yang kuat, Jihan! Lupakan Wildan, dan songsong kehidupan kamu yang baru!"


Jihan mencoba menguatkan dirinya sendiri. Jihan belum memberitahu kabar perselingkuhan Wildan dengan Melisa. Jihan merasa malu kepada sang ibu. Dulu, sebelum kejadian ini. Sang ibu sempat mengingatkan dirinya. Tak baik membawa orang lain ke rumah, meskipun itu saudara, sahabat. Banyak juga kasus yang seperti dia alami selama ini di luaran sana. Tetapi dia masih saja bersikukuh merasa percaya kepada suaminya dan sahabatnya. Dia yakin kalau suaminya dan sahabatnya tak akan mengkhianati dirinya.

__ADS_1



__ADS_2