Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Wanita Tak Tahu Diri


__ADS_3

"Mel, sebaiknya kamu sekarang keluar dan pindah tidur ke sofa lagi sebelum Bi Sumi bangun. Besok kita cari kosan ya! Biar kamu tidurnya terasa nyaman, enggak merasakan tidur di sofa lagi," rayu Wildan agar Melisa mau keluar dari kamarnya. Wildan takut, kalau nantinya Bi Sumi melihat Melisa keluar dari kamar Wildan.


"Ya sudah! Tapi, janji ya! Besok carinya yang kasurnya spring bed sama ada AC nya. Kenapa enggak menyewa apartemen saja si? Apartemen 'kan lebih bebas, Ay," pinta Melisa.


Dengan beraninya, Melisa memanggil Wildan Ay. Panggilan sayang untuk Wildan.


"Ya sudah, coba besok kita cari ya! Sekarang kamu pindah ya ke bawah lagi! Aku juga mau tidur dulu, ngantuk dan lelah habis bercinta sama kamu," ucap Wildan membuat Melisa tersenyum penuh kemenangan.


Hingga akhirnya Melisa menuruti permintaan Wildan, untuk turun ke bawah sebelum Bi Sumi bangun. Melisa langsung memakai pakaiannya kembali yang saat itu terserak di lantai.


"Cium dulu dong, baru aku keluar!" Pinta Melisa dengan genitnya. Kini dia sudah berada di atas pangkuan Wildan, mereka terlihat berciuman begitu bergairah.


Namun, tak berlangsung lama. Wildan menghentikannya. Dia tak ingin semakin larut, yang nantinya membuat miliknya bangkit kembali. Melisa bangkit dari pangkuan Wildan, dan langsung keluar dari kamar Wildan. Untuk turun ke bawah. Melisa langsung mengambil pakaian tidur, dan menggantinya di kamar mandi.


Senyuman terbit di sudut bibirnya, saat mengingat pergulatan panasnya tadi dengan Wildan. Dia yakin, sebentar lagi Wildan pasti akan melupakan Jihan. Melisa akan berusaha untuk menarik perhatian Jihan.


Matahari sudah menunjukan sinarnya, tetapi Wildan masih tertidur nyenyak. Bahkan dia telah melewatkan waktu dirinya sholat subuh. Bi Sumi sudah terbangun. Dia menjadi kangen dengan majikannya. Biasanya, jam segitu Jihan sedang sibuk memasak, Jihan pun sudah mengajak sang suami sholat berjamaah. Tapi, hari ini. Tak ada satu orang pun yang bangun. Ketiganya masih tidur.

__ADS_1


"Kok tumben banget, Pak Wildan belum bangun. Apa Pak Wildan enggak kerja ya?" Bi Sumi bermonolog.


Jika bukan mendengar suara ponselnya berdering, Wildan saat ini pasti masih terlelap. Wildan terpaksa membuka matanya, dan langsung mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Kemudian dia langsung menerima panggilan telepon itu.


Wildan tersentak kaget, dan langsung membuka matanya. Saat mendengar suara sang istri yang menghubungi dirinya.


"Assalamualaikum. Mas masih tidur ya? Kok suaranya serak? Memangnya mas enggak kerja? Kok belum bangun? Tadi sholat subuh enggak?" Serentetan pertanyaan terlontar dari bibir Jihan saat melakukan panggilan telepon dengan sang suami.


"Waalaikumsalam. Mas kerja. Tapi mungkin agak siang berangkatnya. Oh iya, nanti kamu pulang jam berapa? Biar mas persiapkan," sahut Wildan. Tepat pukul 16.00 WIB, Jihan akan terbang menuju Jakarta.


"I miss you. Mas siap-siap dulu ya!" Ucap Wildan kepada sang istri, membuat sang istri tersenyum. Dia tak tahu, kalau suaminya telah mengkhianati cintanya.


"Jam berapa ini?" Melisa bermonolog. Dia terlihat masih lemas.


"Baru bangun kamu Mel? Semalam pulang jam berapa? Ibu sudah tak tahu kamu pulang," ujar Mama Risma.


"Iya, di tempat kerjaan lagi rame banget. Makanya lelah banget. Pulang malam banget. Makanya, aku sudah memutuskan untuk mencari kosan daerah tempat bekerja. Biar dekat kerjanya," sahut Melisa.

__ADS_1


Melisa sengaja merahasiakan rencananya dengan Wildan dari Mama Risma. Dia tak ingin ada yang tahu rencana ini, termasuk Mama Risma.


Wildan baru saja turun dari kamarnya, dan langsung menuju meja makan.


"Mas, mau kerja ya? Aku bisa ikut sekalian enggak?" Tanya Melisa berakting.


Bi Sumi yang melihat sikap Wildan kepada Melisa menjadi curiga. Setahu Bi Sumi, Wildan bersikap ketus kepada Melisa. Namun hari ini, terlihat dekat.


"Ya sudah, mandi dulu sana! Biar kita segera berangkat!" Ujar Wildan. Mereka sudah selesai sarapan pagi. Setelah itu, Melisa langsung mandi, dan bersiap-siap. Kini Melisa sudah terlihat rapi, dan sudah selesai merias wajahnya, dan tinggal berangkat.


Melisa dan Wildan pamit berangkat ke Mama Risma. Mereka pergi bersama. Kini mereka sudah dalam perjalanan mencari kosan atau apartemen.


"Akhirnya, keinginan aku untuk memiliki Mas Wildan, bisa tercapai. Aku bisa menjadi seperti nyonya besar, naik mobil, dan duduk di sebelah Wildan. Dasar wanita tak tahu diri. Wanita yang tega merebut suami sahabatnya sendiri.


Melisa tampak bergelayut mesra ke pundak Wildan. Dengan beraninya dia mencium pipi Wildan, saat Wildan sedang fokus menyetir.


"Mas, aku ingin sekali secepatnya menikah sama Mas," ungkap Melisa manja.

__ADS_1


"Sabar ya! Aku akan secepatnya menikahi kamu," sahut Wildan dan Melisa menganggukkan kepalanya.


Mereka terlihat mesra, seakan dunia milik berdua. Mereka tak mempedulikan kehadiran Jihan, sebagai istri sah Wildan.


__ADS_2