Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Hamil?


__ADS_3

Jihan langsung melepaskan pelukan suaminya. Perutnya terasa mual, seperti di aduk-aduk. Dia merasa ingin muntah. Affan sampai dibuat bingung, karena sang istri langsung mendorongnya. Saat dirinya hendak menciumnya. Kemudian Jihan langsung berlari ke kamar mandi, Jihan langsung menumpahkan isi perutnya berkali-kali.


Melihat sang istri seperti itu, tentu saja Affan ikutan panik. Dia langsung melompat dari ranjang, dan bergegas menghampiri sang istri. Jihan tampak lemas, sampai-sampai dia berjongkok. Kepalanya terasa pusing. Serasa ingin pingsan. Tak ada rasa jijik yang Affan rasakan. Dia langsung menyiram muntah sang istri, dan menggendong sang istri ke ranjang. Affan meletakkan sang istri dengan penuh kelembutan. Setelah itu, dia langsung mengambilkan air putih untuk sang istri.


"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Affan lembut kepada sang istri.


"Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa mual, dan ingin muntah. Kepala aku rasanya pusing sekali, seperti orang pingsan. Mau berdiri saja, rasanya aku gak sanggup," ungkap Jihan.


"Coba kita periksa ke dokter yuk! Takutnya, kamu masuk angin. Aku mengkhawatirkan kamu, takut terjadi sesuatu sama kamu. Apalagi, besok kamu 'kan mau berangkat," ujar Affan. Hal itu membuat Jihan tersenyum bahagia, suaminya begitu perhatian kepadanya.


"Kok malah tersenyum sih? Akunya khawatir, kamu justru malah santai," protes Affan. Dia menunjukkan wajah kesal.


"Habisnya, kamu lucu kalau panik. Menggemaskan," goda Jihan. Sambil memainkan alisnya.


"Sayang, aku ini serius mengkhawatirkan kamu. Kita ke dokter yuk! Biar aku tenang, melepas kepergian kamu besok." Affan berkata kepada kepada sang istri.


"Ini udah lebih baik kok. Gak tahu kenapa, tadi aku mau muntah pas kamu mau mencium aku," sahut Jihan apa adanya.


"Memangnya, mulut aku bau? Biasanya, kamu gak masalah kalau aku cium," ujar Affan.

__ADS_1


"Enggak kok. Gak ada yang beda. Biasanya, aku gak masalah. Aneh banget ini," jawab Jihan.


Affan mengajak Jihan tiduran kembali di ranjang. Kejadian terulang lagi. Saat suaminya hendak memeluknya. Dia langsung merasa mual kembali, dia langsung berlari kembali ke kamar mandi. Muntah kembali.


"Istriku kenapa ya? Aneh banget. Mau di cium mual, mau di peluk juga mual." Affan bermonolog.


Affan memapah sang istri duduk di sofa yang berada di kamarnya. Kemudian menghubungi telepon yang terhubung ke dapur. Dia meminta sang ART membuatkan teh manis hangat untuk istrinya.


"Kita ke dokter ya! Wajah kamu pucat banget. Pasti kamu lemas 'kan muntah terus? Aku tuh merasa aneh banget. Kamu tuh kenapa sih, setiap aku dekati. Langsung ingin mual, dan muntah. Perasaan, aku gak ada yang aneh." Affan mengungkap apa yang dia rasakan.


"Aku juga bingung dengan diri aku sendiri. Kenapa aku seperti ini. Kalau seperti ini, baik-baik aja. Gak usah ke dokter, nanti juga sehat," ungkap Jihan.


"Tapi, kalau kamu seperti ini lagi. Nanti kita ke dokter ya! Aku sangat mengkhawatirkan kamu. Kamu bilang deh sama atasan kamu, kalau kamu sedang sakit, dan gak bisa berangkat tugas kantor. Aku gak tega melihat kamu seperti ini. Nanti, kalau kamu mual lagi gimana gak ada aku di sana," ujar Affan, dan Jihan mengiyakan. Dia akan mencoba bicara kepada atasannya.


"Sudah deh, kamu nurut sama aku sekarang. Kita ke dokter sekarang! Aku gak mau nunda-nunda lagi. Kamu juga sudah janji tadi sama aku. Kalau kamu muntah lagi, kamu mau aku ajak ke rumah sakit. Ayo siap-siap ke rumah sakit! Kita periksa ke dokter!" ucap Affan.


Hingga akhirnya, Jihan menuruti ucapan suaminya untuk pergi ke rumah sakit memeriksakan kondisinya saat ini. Kini keduanya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke dokter. Affan tampak menggandeng tangan sang istri menuruni anak tangga.


"Bi, saya sama ibu ke dokter dulu! Sejak tadi ibu muntah-muntah terus," ucap Affan kepada Bi Sumi.

__ADS_1


"Ibu kenapa? Ibu masuk angin? Mau saya kerokin gak Bu, biar enakan. Takutnya ibu masuk angin," Bi Sumi menawarkan kepada Jihan.


"Sudah Bi, gak usah. Ibu ke dokter saja, mau periksa. Masalahnya ini penyakitnya aneh. Kalau lagi biasa aja, ibu normal. Ibu merasa mual, saat tertentu saja. Padahal selama ini tak pernah masalah," sahut Jihan.


"Aneh gimana, Bu? Baru kali ini Ibu merasa seperti ini?" tanya Bi Sumi kepada majikannya itu.


Jihan menceritakan apa yang dia alami. Bi Sumi curiga, kalau saat ini Jihan sedang hamil. Dia menyarankan Jihan untuk melakukan pengecekan, menggunakan alat tes kehamilan. Mendengar penuturan Bi Sumi, Jihan dan Affan menjadi saling pandang. Mereka menjadi bingung.


"Ya sudah, coba kamu belikan alat tes kehamilan di mini market! Beli dua merk yang berbeda, agar bisa lebih yakin hasilnya! Semoga saja, apa yang dikatakan kamu itu benar. Kalau saat ini, ibu sedang hamil," ucap Affan. Dia memberikan satu lembar uang berwarna merah kepada Bi Sumi, untuk membeli alat itu.


Bi Sumi langsung pergi untuk membeli apa yang diperintahkan majikannya itu. Sedangkan Jihan bersama Affan, memilih menunggu sambil duduk di depan ruang TV yang berada di lantai bawah.


"Masa iya, aku sedang hamil. Ah, aku rasa tak mungkin Mas. Inikan masih sangat baru, dulu saja yang bertahun-tahun aku gak hamil-hamil. Aku takut nantinya kamu akan kecewa Mas, kalau sebenarnya aku tak hamil," ungkap Jihan.


"Enggak kok! Kamu tak perlu khawatir! Seperti yang Mas bilang sama kamu! Kalau memang kamu tak hamil. Mas gak akan mempermasalahkannya. Berarti tandanya, kita di suruh sabar, dan terus berusaha." sahut Affan. Dia mencoba memberi pengertian kepada sang istri, dan Jihan akhirnya menganggukkan kepalanya.


Bi Sumi datang dan langsung memberikan dua alat tes kehamilan itu kepada Jihan. Jantung Jihan berpacu cepat, dia merasa degdegan. Dia takut, kalau hasilnya akan mengecewakan suaminya itu. Affan langsung menyuruh sang istri melakukan pengetesan.


"Coba tes! Kamu gak perlu khawatir! Mas gak akan marah sama kamu, kalau kamu tak hamil!" ujar Affan.

__ADS_1


Akhirnya, Jihan menuruti ucapan suaminya. Dia langsung masuk ke kamar mandi, sambil membawa alat tes kehamilan itu. Dia mulai mencoba melakukan pengetesan. Memasukkan alat tes kehamilan itu ke dalam wadah urine. Jihan tampak gelisah menunggu hasilnya. Jihan berharap, kalau dirinya saat ini benar sedang hamil. Dia ingin membahagiakan hati suami dan mertuanya, yang selama ini sudah sangat menginginkan seorang anak di pernikahan mereka.



__ADS_2