Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Nasib Mawar


__ADS_3

"Sudah Ma, tak usah seperti itu! Aku akan memaafkan kesalahan mama sama Mas Wildan. Aku tak ingin menaruh dendam sama mama dan Mas Wildan, meskipun kalian sudah menyakiti hati aku. Mungkin, semua ini sudah menjadi rencana Allah. Jika kalian tak seperti itu, aku tak mungkin menemukan laki-laki yang luar biasa di hidupku, dan aku pun tak akan pernah merasakan menjadi wanita yang sempurna," ucapan Jihan yang begitu menusuk ke hati. Meskipun ucapannya terlihat santai.


Terlebih Wildan. Hatinya begitu sakit, mendengar wanita yang masih dia cinta memuji laki-laki lain. Bahkan Affan tak melepas genggaman tangannya.


"Pantas saja, kemarin pihak rumah sakit menghubungi aku. Menyuruh aku membiayai pemakaman bayinya. Ternyata, kamu sudah menceraikan Melisa. Egois sekali kamu, kasihan Melisa. Habis manis sepah di buang," sindir Jihan.


"Dia sudah membohongi aku. Anak itu bukan anakku. Aku sangat kecewa sama dia. Padahal, aku sudah menaruh harapan pada anak itu. Sampai-sampai aku mempertahankan dia, karena aku pikir dia benar hamil anakku. Tapi ternyata, anak itu bukan anakku, tetapi anak pemerko*sa. Lagipula, anak itu membutuhkan uang banyak, untuk melakukan transfusi darah. Aku tak ingin menanggungnya. Kondisi ekonomi aku saja sedang memprihatinkan. Tadi Mawar juga bilang, kalau Melisa masuk rumah sakit jiwa. Dia menjadi stres, karena anaknya meninggal," jelas Wildan. Tetap saja dia tak ingin disalahkan.

__ADS_1


"Apa, Melisa di rawat di rumah sakit jiwa? Lantas, gimana Mawar? Dia sama siapa sekarang di kontrakan?" tanya Jihan. Dia terkejut mendengar nasib mantan sahabatnya itu, dan dia juga kepikiran nasib Mawar.


"Sendiri. Aku tak mungkin mengurusnya. Sampai saat ini aku belum bekerja. Lagi pula, urusan aku dengan ibunya sudah selesai," sahut Wildan.


Affan ikut bicara. Dia menolak Jihan mengambil alih kepengurusan Mawar. Meskipun atas dasar kemanusiaan. Tapi, Jihan tak tega. Affan menyuruh Wildan membawa Mawar. Tetapi, Wildan tetap menolaknya. Mama Risma pun ikut bicara. Tak setuju Wildan membawa Mawar.


"Mas," panggil Jihan. Dia ingin mencoba bicara pelan-pelan dengan suaminya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Affan yang kini menatap istrinya.


"Aku masih terus kepikiran Mawar. Gak tega," ungkap Jihan.


"Aku tak ingin, kehadiran dia disini nantinya akan menjadi masalah untuk kita. Lambat laun dia akan dewasa. Gimana kalau dia menggoda aku seperti ibunya dulu. Kalau kamu memang niat menolong dia, masukan dia ke pesantren aja. Biar dia jadi anak sholehah. Kalau dia jadi anak sholehah, kamu bisa dapat pahala. Untuk masalah uang, aku gak masalah. Kalau kamu setuju, besok kita cari pesantren. Setiap bulannya, aku yang akan bayar biayanya," ucap Affan tegas.


"Iya Mas, ide yang bagus. Aku setuju. Aku akan bicarakan sama Mawar. Ini semua demi kebaikan dia. Aku pun bisa tenang," sahut Jihan.

__ADS_1


"Iya, biar nanti dewasa gak jadi pelakor seperti ibunya," sindir Affan dan Jihan mengiyakan. Dia lakukan demi kebaikan Mawar. Jihan akan menemui Mawar sore ini, dan membicarakan hal ini kepada Mawar.


__ADS_2