
"Entahlah Ma, Wildan pun gak tahu. Pikiran Wildan saat ini benar-benar kacau," sahut Wildan. Wajahnya seakan memohon, jangan tambahkan bebannya karena pertanyaan sang mama kepadanya.
"Maksud kamu apa? Memangnya, Melisa melakukan dengan laki-laki lain juga selain sama kamu?" Mama Risma masih saja bertanya pada sang anak, karena rasa penasaran yang dia rasakan saat itu.
Baru melihat bayi itu saja, tubuhnya terasa lemas. Tak bersemangat. Harapannya seakan musnah. Tentu saja dia merasa malu, memiliki cucu seperti itu. Dia merasa, anaknya itu tampan, dan cucunya pasti tak akan berbeda jauh.
"Nanti kita bicarakan lagi, Ma! Kasihan, anak itu sampai belum Wildan adzanin. Wildan bisa berdosa nanti. Takutnya, memang anak itu anak Wildan. Kasihan, Melisa juga belum sadarkan diri. Dia baru saja berjuang melahirkan anak itu," ucap Wildan mencoba memberi pengertian kepada sang mama. Meskipun, perasaan dia pun saat itu tak karuan. Terlebih dirinya sempat sedikit tahu, dan bertemu laki-laki itu.
Wildan baru saja selesai mengadzani anak itu. Melisa pun sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Dia baru saja siuman. Namun, tubuhnya masih terlihat lemas. Melisa tampak bingung, melihat ekspresi wajah Wildan dan ibu mertuanya yang terlihat tak bersemangat. Tentu saja hal itu membuat dia tanda tanya.
__ADS_1
"Gimana keadaan anak kita, Mas? Apa anak kita selamat?" Melisa akhirnya bertanya kepada Wildan, karena dia belum melihat anaknya.
Saat ini, bayi itu masih di dalam inkubator. Membutuhkan sinar biru, karena kadar bilirubin yang tinggi dalam darah. Wildan menjelaskan hal itu kepada Melisa. Dia tak berkata yang lainnya, melihat kondisi Melisa yang masih terlihat lemah pasca operasi sesar.
"Mel, kenapa anak itu tak mirip dengan Wildan? Apa kamu melakukan dengan laki-laki lain? Jangan-jangan, anak itu bukan anak Wildan? Kamu menipu Wildan," cerocos Mama Risma.
"Mengapa mama tega menuduh aku melakukannya dengan yang lain? Anak itu memang anak Mas Wildan. Aku tak pernah melakukan lagi dengan laki-laki lain. Aku baru saja siuman beberapa jam yang lalu, rasa sakit yang aku rasakan masih begitu terasa. Aku berjuang melahirkan seorang anak untuk Mas Wildan, cucu untuk mama," Melisa berusaha membela diri. Tentu saja dia tak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya.
"Sudah Ma, jangan dibahas sekarang! Benar apa yang dikatakan Melisa, Ma. Pikirkan juga kondisi Melisa saat ini," ujar Wildan mencoba memberi pengertian kepada sang mama.
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti, karena dokter datang. Dia mengatakan, kalau anak yang baru dilahirkan Melisa mengidap penyakit anemia, dan harus melakukan transfusi darah. Dokter menyarankan Wildan menyumbangkan darahnya, untuk menyelamatkan anaknya.
"Apa golongan darahnya A? Golongan darah saya bukan A, Dok! Dokter salah mungkin. Golongan darah saya B," ucap Wildan. Wildan terkejut mendengar penuturan sang dokter. Dia langsung menatap ke arah Melisa. Kecurigaannya semakin besar. Melisa semakin merasa ketakutan. Wildan pasti akan menyudutkan dia dengan pertanyaan.
"Tidak mungkin salah. Tapi, kenapa anak itu golongan darahnya A. Ibu Melisa pun golongan darahnya B," ungkap sang dokter.
Hingga akhirnya sang dokter menyuruh petugas lab untuk mengecek ulang. Khawatir ada kesalahan, dalam menentukan golongan darah bayi yang baru Melisa lahirkan. Kesabaran Wildan sudah habis, dia yakin kalau Melisa telah menipu dia.
"Jawab pertanyaan aku, Mel! Aku minta kamu jujur! Jangan sampai kamu, aku laporkan polisi! Dengan tuduhan, penipuan. Apa benar, anak itu bukan anak aku? Anak itu adalah anak dari laki-laki yang kita pernah bertemu waktu itu. Kamu telah menipu aku 'kan? Allah sudah menunjukkan kepadaku, kebusukan kamu selama ini," Wildan berucap kepada Melisa. Suaranya sampai terdengar bergetar. Menahan rasa kecewa yang Wildan rasakan. Wildan terlihat shock.
__ADS_1