
Jihan menuruni anak tangga, dia terlihat sudah rapi, dan sedikit merias wajahnya dengan riasan natural. Matanya terlihat sembab, karena semalam dia terus menangis. Namun hal itu, tak menutupi kecantikannya. Dia pun berusaha untuk tersenyum, meskipun hatinya begitu terluka.
"Bi, Ibu berangkat dulu ya! Hati-hati di rumah ya!" Pesan Jihan kepada sang ART.
Sang ART mengantarkan sang majikan, sampai taksi yang ditumpangi sang majikan pergi meninggalkan rumah. Setelah itu, dia langsung masuk kembali dan menggembok pagar rumah itu. Dia akan menjalankan perintah sang majikan. Tak membiarkan siapapun masuk ke dalam rumah dengan bebas.
Taksi yang Jihan tumpangi melaju menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Jihan sudah memutuskan akan berlibur selama tiga hari meninggalkan Jakarta. Selama perjalanan, dia hanya diam memandang ke arah jalanan. Dadanya terasa sesak. Kenangan bersama suaminya dulu, terus menari di pikirannya.
Jihan mengambil ponsel di dalam tas kecil yang dia kenakan saat ini. Dia berniat mengirimkan pesan chat kepada Affan, untuk memberitahu kalau dirinya sudah dalam perjalanan ke bandara, dan mengatakan akan ke Bali selama tiga hari.
Taksi online yang membawa Jihan sudah sampai di bandara, Jihan langsung turun dari mobil, dan menurunkan koper yang dia bawa. Dia sengaja datang lebih cepat ke bandara, agar ada kesempatan untuk sholat subuh di sana. Jihan langsung mencari mushola untuk sholat.
Affan baru saja bangun, dan langsung mengambil ponselnya. Untuk melihat jam saat ini. Saat ini dia tinggal di sebuah apartemen di daerah Jakarta. Letaknya tak jauh dari kantornya. Dia menyewa sebuah gedung di kawasan pusat kota. Affan memiliki sebuah kantor advokat. Bos Jihan pernah menggunakan jasa Affan. Jihan dan Affan saling kenal, saat mengurus kasus bosnya Jihan.
"Waalaikumsalam. Iya, Mba. Hati-hati di jalan ya! Semoga selamat sampai tujuan! Have fun ya Mba!" Balas Affan. Affan berharap, dengan seperti ini. Dirinya bisa menjadi lebih dekat dengan Jihan. Ada alasan untuknya, mendekati Jihan.
Jihan sudah dalam penerbangan menuju Bali. Pandangannya kini mengarah ke pemandangan luar jendela. Tanpa sadar air matanya menetes, ternyata dia masih saja merasa sedih. Tak semudah itu dia melupakan apa yang terjadi di kosan Melisa.
Tak butuh waktu lama, pesawat yang Jihan tumpangi sudah mendarat di I Gusti Ngurah Rai Internasional Airport Bali. Jihan melangkahkan kakinya keluar dari bandara, dan menaiki taksi menuju pantai yang letaknya di dekat hotel tempat dia akan menginap.
Jihan mencari tempat untuk sarapan, sambil melihat pemandangan pantai di kala pagi hari. Lagi-lagi dia teringat kenangan bersama sang suami kembali, saat mereka berbulan madu dulu.
"Dulu, aku datang bersamamu Mas! Sekarang aku datang sendiri," ucap Jihan lirih.
Jihan berharap, kalau semua ini hanyalah sebuah mimpi. Kini saatnya dia membuka mata, melihat kenyataan yang sebenarnya. Kalau rumah tangganya sudah hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Lamunannya terhenti, saat dirinya mendengar suara ponselnya berbunyi. Jihan langsung mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Ternyata, Wildan yang menghubungi dirinya. Jihan memilih mengabaikannya, dan memblokir nomor kontak Wildan.
"Aku tak akan pernah memaafkan kesalahan yang kamu perbuatan, Mas! Berapa kali aku mengatakan ini kepadamu, tapi nyatanya kamu justru melakukannya. Berarti, kamu sudah siap dengan konsekuensi yang harus kamu terima. Jika masalah keuangan, aku masih bisa terima. Berapapun yang kamu berikan kepadaku, aku akan terima. Aku tak akan mempermasalahkan, meskipun aku yang lebih besar memenuhinya. Namun, aku tak akan pernah toleransi lagi. Jika kamu berkhianat!"
Wajah Wildan terlihat tak cerah. Dia pun tak bersemangat. Biasanya, sesampai di kantor dia selalu menghubungi istrinya, dan sekarang dia harus menerima kenyataan kalau sang istri tak mau lagi berhubungan dengannya. Tak ada harapan lagi baginya, untuk bisa kembali dengan Jihan.
"Yang, maafkan Mas! Mas mohon! Mas sayang dan cinta sama kamu! Mas enggak bisa melupakan kamu. Mas selalu teringat kenangan kita berdua. Biasanya, setiap pagi sebelum bekerja. Kita telepon dulu, sekarang Mas benar-benar kehilangan kamu. Mas merindukan kamu. Mas benar-benar menyesal! Mas mohon, tolong berikan kesempatan kedua untuk Mas!" Pesan yang Wildan tulis lewat pesan SMS.
Jika WA terblokir, pesan darinya masih akan bisa masuk. Wildan berharap, Jihan akan membaca pesan chat darinya. Dirinya memang benar, Jihan memang membacanya. Tetapi sayangnya, tak akan mengubah keputusan Jihan untuk memaafkan dirinya. Kesalahannya sangat fatal.
Suara ponsel Jihan berbunyi kembali, ternyata kali ini Affan yang menghubungi dirinya. Jihan langsung menerima panggilan telepon dari Affan. Baru mendengar suara Jihan saja, Affan sudah terlihat senang. Dia masih tak menyangka, kalau akhirnya dia bisa dekat dengan Jihan. Padahal dulu, dia sudah sempat berusaha melupakan Jihan. Dia tak ingin menjadi perusak rumah tangga Jihan.
"Iya, Mas. Makasih ya! Semoga semuanya dilancarkan ya, Mas! Aku sudah tak sabar ingin bercerai darinya! Lebih bagus lagi dipercepat, langsung putusan pengadilan. Aku malas bertemu dia lagi," ucap Jihan.
"Aamiin Mba, semoga dilancarkan semuanya ya! Insya Allah, Allah akan mengabulkan niat dan usaha. Tetap harus proses sesuai prosedur, Mba! Tapi, aku akan berusaha keras untuk membantu Mba. Mba enggak usah takut, aku akan selalu mendampingi Mba saat persidangan nanti! Aku akan melindungi Mba, agar suami Mba tak bisa mendekati Mba lagi!"
"Sama-sama, Mba. Tenang saja Mba, ini sudah menjadi tugas aku menjadi lawyer Mba! Aku akan melindungi dan membantu klien aku sebisa mungkin," ucap Affan.
Mereka mengakhiri percakapan mereka, karena Affan baru saja sampai di kantornya. Dia ingi memarkirkan mobilnya dulu. Jihan pun ingin melanjutkan memandang ke arah pantai kembali. Banyak wisatawan asing yang datang ke Bali, dan mengunjungi tempat Jihan berada.
Suasana di sekitar pantai sangat ramai. Namun, tetap saja dia merasa kesepian. Lagi-lagi ponselnya berdering kembali. Kali ini, sang ibu yang menghubungi dirinya. Sang Ibu ingin melakukan klarifikasi. Jihan langsung menerima panggilan telepon dari sang ibu, sebisa mungkin dia akan menutupi permasalahan ini dari sang ibu.
"Iya, Bu. Waalaikumsalam." sahut Jihan saat menerima panggilan telepon dari sang ibu.
"Jihan, tolong kamu jujur sama Ibu! Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu saat ini?"
__ADS_1
Jantung Jihan seakan terhenti seketika, dia terkejut saat mendengar pertanyaan sang ibu kepadanya. Tetapi, Jihan tetap akan pada pendiriannya. Dia belum mau menceritakan permasalahan yang dia alami.
"Maksud Ibu apa ya? Aku baik-baik saja! Tak ada yang terjadi denganku. Aku tetap menjalani kehidupan seperti biasanya. Sekarang, aku lagi di Bali. Lagi ada tugas kantor. Memangnya ada apa, Bu? Kok Ibu bicara seperti itu kepadaku?" Tanya Jihan, dia masih saja menutupinya. Berpura-pura tak terjadi apa-apa dengan dirinya.
"Jadi, kamu belum mau berkata jujur sama Ibu kamu sendiri? Ibu harus mendapatkan berita ini dari orang lain? Kamu tahu tidak, kalau kamu itu di kampung menjadi bahan perbincangan tetangga-tetangga di sini? Ibunya Melisa bilang, kalau dia baru saja pulang dari Jakarta. Sehabis menghadiri acara pernikahan Melisa dengan Wildan suami kamu. Sebenarnya kamu sudah tahu hal ini apa kamu memang sengaja menutupinya dari Ibu? Tolong kamu jawab sekarang! Ibu ingin dengar langsung dari bibir kamu! Kalau semua ini bukan hanya gosip belaka. Ibunya Melisa hanya ingin memanas-manasi Ibu, agar Ibu bertanya kepada kamu," ucap sang Ibu.
Jihan tampak terdiam, lidahnya terasa kelu. Hanya air mata yang mewakilkan perasaannya saat ini. Dia tak menyangka, kalau berita ini sudah sampai di kampung, dan dengan tak tahu malunya Ibunya Melisa membongkar pernikahan anaknya dengan Wildan.
"Kenapa kamu diam? Jawab pertanyaan Ibu! Jangan buat kesabaran Ibu habis! Selama ini Ibu selalu bersikap sabar, tetapi kali ini Ibu tak bisa. Hati Ibu mana yang tak sakit, kala mendengar rumah tangga anaknya berakhir dengan pengkhianatan. Sungguh keterlaluan Wildan, Ibu benar-benar tak menyangka. Kalau memang dia benar melakukan hal itu. Ibu benar-benar kecewa dengannya. Padahal, selama ini Ibu lihat dia laki-laki yang baik. Ternyata, dia seperti itu. Apalagi dia selingkuh dengan sahabat kamu sendiri. Melisa juga sama, anak itu benar-benar tak punya hati. Benar 'kan yang Ibu bilang? Jangan pernah membawa wanita lain ke rumah kamu. Kejadian 'kan? Melisa merebut suami kamu. Kamu enggak dengar sih ucapan Ibu. Kita enggak pernah tahu hati orang, bahkan saudara sendiri pun bisa saja berkhianat!" Cerocos sang Ibu.
Tak ada gunanya lagi dia menutupi masalah yang menimpa dirinya saat ini. Sang Ibu sudah tahu lebih dulu. Lebih baik dia ungkap semuanya sekarang.
"Maafin Jihan Bu, iya Jihan salah! Jihan tak dengar ucapan Ibu. Selama ini Jihan terlalu percaya sama Mas Wildan dan Melisa. Jihan kira mereka enggak akan seperti itu. Terlebih Mas Wildan dulu menunjukkan perasaan tak suka kepada Melisa. Tapi ternyata, di belakang aku dia selingkuh. Mas Wildan sudah menikah siri sama Melisa, saat ini Melisa sedang mengandung anak Mas Wildan. Mereka baru saja menikah. Aku tahu mereka selingkuh, saat aku mendatangi kosan Melisa. Saat aku melihat mobil Mas Wildan di parkiran kosan itu, aku sudah merasa tak enak. Ternyata benar, saat aku Melisa membuka pintu kamarnya. Aku melihat Mas Wildan dalam keadaan polos, dan akhirnya Mas Wildan mengakuinya. Awalnya dia bilang, ingin mengantarkan Mamanya pulang. Ternyata, mereka menikah," ungkap Jihan yang sudah terisak tangis. Air matanya tak mampu terbendung lagi. Mengalir semakin deras.
"Terus, sekarang langkah kamu apa? Laki-laki seperti itu, tak pantas di pertahankan lagi! Lebih baik kamu bercerai! Jangan mau di madu, yang ada kamu akan merasa sakit hati. Apalagi saat ini Melisa sedang hamil, pasti Wildan akan lebih perhatian kepadanya. Lantas, Ibu mertua kamu gimana? Dia tahu tidak, kalau anaknya selingkuh?" Tanya sang Ibu.
"Iya, tahu Bu. Mama Risma tahu, dan dia mendukung Mas Wildan menikah dengan Melisa. Dia bilang, kalau aku hanya wanita mandul. Sedangkan Melisa bisa memberikan keturunan untuk Mas Wildan. Sejak aku belum juga memberikan keturunan kepada Mas Wildan, Mama Risma menunjukkan sikap tak suka kepada aku. Dia kerap menyindir aku. Tetapi selama ini, aku selalu bersabar. Aku mencoba menahannya, dan tetap menghargai dirinya, karena dia Ibu mertua aku. Ibu dari Mas Wildan. Iya, Bu. Aku tak mempertahankannya. Aku sudah memutuskan untuk bercerai darinya, aku sudah mengurus gugatan cerai. Doakan aku ya, Bu! Semoga semuanya berjalan lancar, aku bisa segera bercerai dari Mas Wildan. Aku lebih baik bercerai dan hidup sendiri, daripada di madu," sahut Jihan.
"Bagus, langkah kamu untuk bercerai sudah tepat! Biar si Wildan tahu rasa. Pasti dia akan menyesal, telah menyia-nyiakan kamu. Kamu sabar ya, Nduk! Insya Allah ini yang terbaik dari Allah untuk kamu. Allah cepat menunjukkannya kepada kamu! Ibu yakin, kamu pasti bisa melewatinya. Ibu doakan semoga kamu bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik lagi! Kamu bisa mendapatkan pendamping hidup yang tulus mencintai kamu dan setia. Jangan sedih lagi ya! Ibu yakin, kalau kamu adalah wanita yang kuat. Laki-laki pengkhianatan, tak pantas kamu tangisi! Kamu harus tunjukkan, kalau kamu baik-baik saja! Agar dia semakin menyesal! Ibu juga akan buat perhitungan di sini! Ibu akan bongkar semuanya, biar para tetangga tahu kelakuan si Melisa. Yang dengan tega merebut suami sahabatnya sendiri. Ibu juga mau bongkar, kalau Wildan menikahi Melisa secara diri karena dia hamil duluan. Biar Ibunya malu sekalian. Anak salah kok merasa bangga, bukannya di nasehati. Mau hidup senang, kok caranya gitu," ucap sang Ibu.
Jihan menambahkan lagi, dia membongkar kalau selama ini Wildan tak banyak memberikan dia uang. Dialah yang lebih banyak memenuhi kebutuhan. Jihan menceritakan kalau rumah itu adalah miliknya, hasil kerja kerasnya selama ini. Selama ini Wildan memberikan nafkah hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan uang yang diberikan Jihan kepada sang Ibu selama ini adalah uang darinya, hanya berpura-pura uang itu dari Wildan. Uang untuk Ibunya Wildan pun darinya.
"Makan tuh Melisa! Mau jadi Nyonya rumah, eh malah di usir si Wildan. Biar tahu rasa! Kita lihat saja, karma apa yang akan mereka terima karena menyakiti hati kamu! Ibu ingin lihat akhirnya mereka akan seperti apa. Ibu ingin lihat balasan dari orang yang telah menyakiti hati kamu, dan mengkhianati kepercayaan kamu. Gagal dong Melisa punya suami kaya. Dia pikir si Wildan kaya, makanya dia menggoda si Wildan. Ibu yakin, semua ini awalnya karena si Melisa yang menggodanya. Kucing kalau di kasih ikan, pasti tak akan ada yang menolak. Lama kelamaan, Wildan pasti tergoda. Buktinya saja si Melisa hamil duluan. Laki-laki di kasih gratis enggak akan menolak," ucap sang Ibu dan Jihan mengiyakan.
Jihan sudah merasa lebih tenang, setelah bercerita kepada sang ibu. Tak ada lagi yang dia tutupi dari sang Ibu. Sang Ibu berusaha menguatkan sang anak. Membuat Jihan semakin yakin untuk bercerai dari Wildan. Sang Ibu akan mempermalukan Melisa, dia merasa tak terima anaknya di sakiti.
__ADS_1