
"Jihan tambah cantik aja ya, Wil. Apalagi suami sekarang orang kaya. Terlihat sekali tatapan suaminya penuh cinta ke arahnya. Kamu sih dulu segala selingkuh sama wanita murahan gitu. Kurang apalagi coba Jihan? Sekarang, kamu menyesal 'kan kehilangan dia?" ucap Kak Vanya.
"Iya, Kak. Menyesal banget aku. Aku memang bodoh. Bisa-bisanya aku tergoda dengan naf*su belaka, yang justru menghancurkan aku," ucap Wildan lesu.
Kini Wildan sudah tak berdaya, hanya menggantungkan hidupnya kepada sang kakak. Kehidupannya setelah bercerai dari Jihan, begitu hancur.
Acara empat bulanan berjalan lancar. Para tamu undangan, satu persatu pamit pulang. Keluarga Affan pun pamit pulang. Semua mendoakan untuk kelancaran persalinan Jihan.
Jihan bersyukur, karena keluarga besar Affan mau menerima dia dengan baik. Meskipun dia bukan berasal dari keluarga berada, dan status dia seorang janda.
"Alhamdulillah, acara empat bulan dede sudah selesai. Semoga dede bisa menjadi anak yang sholeh atau sholehah. Kira-kira anak kita cewek apa cowok ya? Atau justru Allah memberikan sepasang. Jadi, kamu tak perlu melahirkan lagi. Hehehe. Cukup satu kali, sudah langsung sepasang," ucap Affan.
Affan tak ingin merepotkan Jihan. Dia sadar, mengurus anak itu tak mudah. Bagi Affan, yang terpenting mereka sudah memiliki keturunan. Agar mereka bisa fokus membesarkan dan mendidik kedua buah hati mereka.
"Iya, alhamdulillah. Aku juga inginnya sepasang," sahut Jihan.
__ADS_1
Kedua orang tua Jihan dan adiknya Jihan, saat Ini tidur di kamar tamu. Mereka akan kembali ke kampung lusa.
"Yang, sudah sekarang udah kuat 'kan kandungannya?" bisik Affan di telinga Jihan.
"Emangnya kenapa?" Jihan sengaja pura-pura gak paham ucapan sang suami.
"Udah lama gak ehem-ehem. Minta boleh gak?" tanya Affan sambil memainkan alisnya.
1 bulan yang lalu, Jihan sempat mengalami kontraksi dan juga keluar flex. Hingga akhirnya Affan memutuskan untuk menahan has*ratnya.
"Yes, makasih Sayang. I love you." Affan bersorak gembira.
"Kita mandi dulu yuk!" ajak Affan dan Jihan mengikutinya saja.
Kini keduanya sudah berada di dalam kamar mandi, keduanya sudah sama-sama polos. Mereka bercumbu di bawah guyuran air shower.
__ADS_1
Setelah itu, Jihan dan Affan masuk ke dalam bathtub. Jihan duduk di atas pangkuan suaminya. Mereka melanjutkan ciuman mereka lagi. Tangan Affan pun tak mau diam. Asyik memberikan rangsangan kepada sang istri. Hingga akhirnya, Jihan pun mende*sah, saat merasa nikmat.
"Aku suka mendengarnya, Sayang!" Jihan mendapatkan pelepasan.
Jihan mencoba mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Affan tak mau kala, hingga akhirnya dia memulainya. Desa*han mengiri percintaan mereka. Keduanya sama-sama menikmati.
Jihan tampak bertumpu di pinggir bathtub. Affan semakin mempercepat permainannya. Hingga akhirnya, keduanya mengerang bersama.
"Makasih ya Sayang, aku puas. I love you," ucap Affan sambil melabuhkan kecupan di kening sang istri.
Mereka sudah selesai mandi. Kini mereka memutuskan untuk beristirahat, sambil menunggu waktu sholat. Jihan tampak membaringkan tubuhnya di ranjang. Tubuhnya terasa lelah. Affan pun ikut berbaring di sebelah istrinya.
"Cape ya?" tanya Affan dan Jihan menganggukkan kepalanya.
Mata keduanya sudah sama-sama mengantuk. Namun, mereka berusaha untuk tidak tidur. Karena mereka ingin sholat terlebih dahulu.
__ADS_1