
Setelah Becca pergi, Ponsel Lia berbunyi, ia pun mengangkat telefon itu.
"apa dia sudah pergi?." Tanya Arga.
"Sudah Tuan."
"Baguslah, kamu tidak mengatakan apa pun kan?."
"Iya Tuan."
"Baik lah, aku matikan dulu." Arga pun mematikan sambungan telefon nya. Shani meremas jemari nya, saat mendengar suara Arga yang seperti begitu khawatir Becca akan tahu tentang pernikahan mereka. terlihat jelas kalau Arga gak ingin kehilangan Becca.
Lia hanya bisa menerima tanpa berani protes, karena ini resiko yang harus ia tanggung.
•••
Lia masuk ke kamar nya dengan sedih ia memikirkan Ayah dan Ibu nya yang tidak bersama nya saat ini, Air mata Lia jatuh ketika mengingat Arga yang sangat takut istri nya tahu hal ini, Arga terlihat sangat mencintai Becca, Lia yang juga kini adalah istri Arga, entah kenapa ia merasakan perasaan sedih dan Iri pada Becca yang di cintai Arga.
Meski ia mencoba untuk tidak perduli apa pun yang arga lakukan, dan apa pun yang Arga mau, Ia tidak peduli, namun ada perasaan sedih Saat Melihat sosok becca tadi.
Dalam pikiran Lia, Becca sangat di cintai Arga, sementara Lia bukan lah siapa-siapa, Ia hanya seorang wanita yang di kasihani dan di tampung oleh Arga karena ia tengah mengandung. kalau tidak ada bayi nya, mungkin Arga bahkan tidak mau melihat nya.
Di tengah melamun Lia, tiba-tiba ponsel Lia berbunyi, senyum di wajah nya mengembang, ia menyeka air mata nya sebelum mengangkat telefon dari Fani.
"Iya Fan."
"Iya Bumil, Kau sedang apa?." Tanya Fani.
"Aku di rumah, kamu sendiri lagi dimana??"
"Biasa Di kampus."Balas Fani.
__ADS_1
"Aku jadi rindu kuliah lagi."Balas Lia saat ia mengingat masa masa ia kuliah dulu. Fani pun hanya tersenyum, ia sendiri bingung harus menjawab apa dan bagaimana agar sahabat nya tidak kepikiran. hingga Fani memilih untuk tidak menggubris ucapan Lia tentang kampus.
"Boleh aku ke rumah mu Li, aku kangen."Ucap Fani.
"Em, Aku izin dulu ya Fan sama Dia, Nanti aku telefon lagi."Ucap Lia.
"Oke Dech, kabarin aku ya Li, kalau engak, kita ketemuan saja di luar."Balas Fani.
"Iya Fan." Setelah telefon singkat itu, Lia pun menghubungi Arga.
Arga yang tengah sarapan bersama Becca mendapatkan telefon dari Lia, Dari ujung mata Becca, becca melihat siapa yang menghubungi suami nya.
Nama Lia telah di samarkan oleh Arga di kontak telefon nya, hingga tidak menimbulkan kecurigaan Becca.
"Siapa sayang, kenapa tidak di angkat?." Tanya Becca.
"Staf kantor, biarkan saja."Balas Arga.
Arga memilih untuk tidak mengangkat telefon itu, meski sebenarnya ia ingin tahu untuk apa Lia menghubungi diri nya.
"Loh, memang nya kalian sudah mau pindah?." Tanya Bu Rossa.
"Iya Ma." Jawab Becca dengan semangat.
"tapi kenapa tidak tinggal disini saja, Toh rumah ini besar dan hanya Papa dan Mama, Kalau nanti Becca hamil, Kan bisa Mama selalu jagain dia saat Arga tidak di rumah."Tutur Bu Rossa yang agak keberatan mendengar Putra dan menantu nya akan pindah ke rumah lain.
Mendengar hal itu, Becca mengertakkan Gigi nya tanpa berani protes, ia pun hanya berharap Arga tidak menyetujui keinginan ibu nya.
"Aku terserah becca saja." jawab Arga yang membuat Becca menutup mata nya kecewa karena Arga tidak menjawab seperti yang ada di hati nya.
"Becca." Bu Rossa kini melihat diri nya. Becca mati kutu, ia pun jadi bingung harus menjawab apa agar tidak menyinggung perasaan Ibu mertua nya itu.
__ADS_1
"Em, Aku juga terserah sama Arga saja Ma, gimana enak nya, Lagian aku juga senang saja kok tinggal disini, Mama dan Papa baik sama Aku." Becca harus kembali bersandiwara kalau ia menyukai berada disini, padahal Hati nya berkata sebaliknya. Ia merasa tidak bebas berada disini dan di atur bak babu oleh ibu mertua nya, meski ibu mertua nya berkata agar ia bisa menjadi istri yang baik untuk Arga.
Setelah menyelesaikan makan malam, Arga pun masuk ke ruangan kerja nya dan menghubungi kembali Lia.
"Ada apa?."
"Em, Apa boleh aku mengajak teman ku datang?." Tanya Lia.
"Laki-laki atau perempuan?."Tanya Arga.
Mendengar pertanyaan itu Lia pun menatap ponsel nya. "Apa dia cemburu kalau teman ku laki-laki?." Gumam Lia.
"Kenapa diam?."
"Perempuan."
"Boleh, kalau dia ingin menemani mu silakan saja, agar kamu tidak bosan."Balas Arga.
Mendengar hal itu, Lia tersenyum semangat.
"Terima kasih." Ucap Lia.
Mendengar Lia begitu semangat, Arga pun tak banyak bicara lagi.
"Jangan menghubungi ku terus, nanti becca bisa curiga."Ucap Arga mengingatkan Lia.
Sekali lagi Lia merasa kembali sedih, dada nya terasa sakit. namun ia masih mencoba tersenyum walau sangat berat. "Baiklah."Jawab Lia dengan pelan, Nada yang tadi begitu bergema di telinga Arga mendadak hilang.
Namun Arga tidak ingin memikirkan lebih jauh, ia pun mematikan sambungan telfon nya, begitu pun hal nya dengan Lia.
"*Iya, aku hanya yang kedua, dan akan hanya menjadi yang kedua?."
__ADS_1
"Apa aku mencintai nya?, hingga aku berharap untuk di pandang lebih dari nya?, tidak, tidak mungkin, ini konyol Lia*."
•••