
Lia dan Fani pun ke cafe tempat ia janjian dengan Dimas. dimana disana laki-laki itu sudah menunggu nya, mungkin laki-laki itu sudah datang sejak tadi karena tidak ingin menyia-nyiakan bertemu dengan Lia.
"Dim."
"Lia, ayo duduk." Ajak Dimas. Fani dan Lia saling melihat sebelum akhir nya ia duduk di kursi yang ditarikan Dimas untuk nya.
"Lia, bagaimana keadaan mu?." Tanya Dimas sembari menatap perut Lia, yang ia sudah tahu tentang kehamilan Lia.
"baik dim, sangat Baik." balas Lia.
"Apa minum ini untuk ku?."Tanya Lia.
"Iya, Minum lah Lia, Itu juga untuk Fan." Balas Dimas.
Lia lalu dengan sengaja mengambil minuman dengan tangan dimana Jari jemari nya telah terselip cincin pernikahan nya dengan Arga.
Dimas pun melihat dan merespon hal itu, dengan menelan Saliva nya yang tiba-tiba terasa susah untuk ia telan.
"Li, kau sudah menikah?." Tanya Dimas.
Lia tersenyum dan mengangguk. "Iya Dim, menikah dengan Ayah dari anak yang ku kandung saat ini."Ucap Lia.
Dimas menatap Fani, Fani pun hanya diam dengan Ekpresi Datar.
"Kapan?."
"Belum lama ini dim, maaf tidak memberitahu mu, ini sangat mendadak."Balas Lia.
"Iya, tidak apa-apa Lia."Ucap Dimas walau ia sangat tidak baik-baik saja saat mendengar kabar pernikahan wanita yang ia sukai itu.
Di tengah obrolan mereka, ponsel Lia berbunyi, Arga menghubungi nya.
"Iya Mas."
__ADS_1
"Kamu lagi dimana?."
"Di Cafe dengan Fani dan Dimas."Balas Lia.
Meski ia tidak tahu siapa itu Dimas, Arga pun tidak marah sama sekali, karena ia saat ini berada di cafe yang sama dengan Lia, ia melihat Keberadaan Lia disana, melihat wanita sudah jujur pada nya, membuat Ia lebih tenang.
"Jangan lama-lama, Aku akan ke rumah makan siang bersama mu."Balas Arga.
"Iya Mas." balas Lia.
Setelah mematikan sambungan telefon Arga pun bersama Lucas berjalan pergi dari sana, sementara Lia yang merasa sudah harus segera pulang pun pamit dengan Dimas dan Fani.
"Fan, Kau dengan Dimas saja ya, aku pulang duluan, Mas Arga mencariku."Ucap Lia.
"Aku akan mengantar mu."
"Iya Li, Aku akan ikut dengan mu, kita kan datang sama-sama."Ucap Fani.
"Tidak usah Dim, aku bisa sendiri. Bye Dim, Fan."Ucap Lia dengan terburu-buru.
"Gak apa-apa, sakit sih, tapi aku senang karena Lia terlihat bahagia sekarang."Balas Dimas.
Fani tersenyum mendengar jawaban Dimas, menatap laki-laki itu lalu membuang nafas lega.
•••
siang hari nya, Arga pun beneran datang ke rumah Lia, tampak wanita itu sedang membuat kue bersama Bi Inah.
"Mas Arga." Lia menoleh ke arah Pria yang baru saja memasuki pintu utama.
"Kamu sedang apa?." Tanya Arga.
"Sedang buat kue untuk cemilan."Balas Lia.
__ADS_1
Arga melihat perut Lia yang kini sudah mulai terlihat saat wanita itu mengenakan pakaian yang pas Body.
"Kamu tidak lelah?."
"Tidak Mas."
Lia yang sedang mengaduk kue pun lalu terpikiran sesuatu, membuat tangan nya berhenti bergerak. "Bi, Bibi tolong lanjutkan ya." Ucap Lia pada Bibi.
"Iya Non."
Lia lalu berjalan ke arah Arga yang duduk di meja makan menatap nya melangkah semakin dekat ke arah nya.
"Mas, Boleh aku bertanya?." Ucap Lia, Arga mendehem dan mengangguk.
"Aku ingin tahu bagaimana keadaan Bapak, aku tidak tahu bagaimana cara untuk menghubungi mereka."Ucap Lia menatap Arga dengan sendu.
Arga mendengar hal itu, lalu mengeluarkan ponsel nya. menghubungi seseorang. Lia pun menatap nya penuh tanya, siapa orang yang ia hubungi.
"Iya Tuan."
"Bagaimana keadaan Ayah Mertua ku?." Tanya Arga. Lia mendengar hal itu agak malu ketika Arga mengatakan kata Ayah mertua. Ia juga sangat penasaran dengan jawaban nya.
"Berikan pada nya."Ucap Arga lagi.
Arga lalu memberikan ponsel nya pada Lia, Lia pun menerima nya dan mendengar nya.
"Hallo." Suara yang khas dan sangat familiar itu.
"Buk, Bagaimana keadaan Bapak?."
"Sudah baikan nak, kata dokter dalam waktu dekat Bapak mu sudah bisa pulang." balas Ibu.
Mendengar hal itu, Lia pun tersenyum senang. Arga yang duduk di hadapan nya pun ikut tersenyum saat melihat wanita itu tampak bahagia. menatap wanita itu penuh damba, seperti tidak ingin melepaskan pandangan di depan nya saat ini.
__ADS_1
.