
6:00
Matahari pun muncul setelah bulan pergi. Suara burung berkicauan dan udara pagi di dunia tekhnologi membuat tidur sangat nyaman.
Darma tidur di sofa karena tak mau mengganggu Sandra. Sandra pun membuka matanya dan melihat bahwa Darma tak ada di sampingnya. Ia pun melihat ke segala arah dan menemukan Darma tidur di sofa.
Sandra pun tersenyum lalu berjalan ke arah sofa itu. Saat Sandra duduk, sofa itu otomatis memanjang sehingga membuat sofa itu menjadi lebih panjang dan lebar sedikit.
"Aku masih gak nyangka akan ada laki-laki yang mau menerima, merawatku, dan menjagaku seperti ini. Dia bahkan membawaku untuk tinggal di tempat semewah dan seindah ini."ujar Sandra mengelus pipi Darma.
Sandra yang masih mengantuk pun mengambil selimut dan tidur dengan memeluk Darma. Darma merasa ada sesuatu yang memeluknya. Ia pun membuka mata dan menemukan wajah cantik Sandra tepat di hadapannya.
Glekkk
(Suara menelan ludah)
Darma menatap dan mengangkat tangannya perlahan lalu mengelus pipi mulus, putih, dan aroma tubuhnya wangi meskipun baru bangun tidur.
"Pagi sayang,"ujar Sandra tersenyum pada Darma.
"I...iya pa...pagi,"ujar Darma grogi.
"Kenapa kamu gak tidur di kasur aja sama aku?"tanya Sandra dengan wajah datar.
"A..aku takut ganggu kamu, kamu kan lagi hamil."ujar Darma.
"Justru dengan kamu di sampingku dan memelukmu pada saat tidur membuatku nyaman."ujar Sandra.
"Emang kamu gak takut lagi sama aku?"tanya Darma menatap Sandra.
"Takut kenapa?"tanya Sandra menaikkan satu alisnya.
"Ya gak apa-apa sih,"ujar Darma tak tau harus menjawab apa.
"Kamu baik, walaupun baru satu hari kita bertemu tapi aku merasa kamu laki-laki yang baik."ujar Sandra tersenyum menatap Darma.
"Owh gitu hehehe,"ujar Darma bingung harus menjawab apalagi.
"Jadi tugasnya semalam gimana?aman?"tanya Sandra.
"Aman kok,"ujar Darma kembali memejamkan matanya lalu ia peluk Sandra.
"Tugas apaan emang?"tanya Sandra mengalungkan tangannya di leher Darma.
"Menggagalkan pembobolan toko emas,"ujar Darma mengelus rambut Sandra.
"Hah?berapa orang rampoknya?"tanya Sandra membuka matanya lalu ia menatap Darma dengan tatapan khawatir.
"2 orang aja kok,"ujar Darma santai.
"Trus kamu gak apa-apa kan?gak terluka kan?"tanya Sandra duduk lalu ia memeriksa tubuh Darma dari ujung kepala sampai ujung rambut.
"Hahaha, gak kok gak. Kamu santai aja."ujar Darma tertawa kecil.
"Beneran gak apa-apa?"tanya Sandra.
__ADS_1
"Iya serius gak apa-apa,"ujar Darma mengelus pipi Sandra.
"Hmmm bagus deh,"ujar Sandra.
"Aku harus bawa ibu ke sini untuk mengurusnya,"batin Darma.
...
Setelah sarapan, Darma pun duduk di pondok dekat depan rumah. Pondok yang indah dengan hiasan bunga-bunga di atap pondon itu dan samping-sampingnya di tumbuhi bunga yang indah.
Sandra pun membawakan cemilan yang ia buat dari alat instan itu. Setelah sampai di pondok yang jaraknya 10 meter dari rumah, Sandra pun menaruh beberapa kue dan minuman yang ia siapkan di samping kiri Darma.
"Hai,"ujar Sandra duduk di kiri makanan itu.
"Eh, apa ini?"tanya Darma melirik ke cemilan berupa risoles,tahu isi, dan bakwan yang dibuat oleh Sandra.
"Makanan lah, cobain deh?"ujar Sandra pada Darma.
Darma pun mencoba cemilan itu dan merasakan makanan itu secara mendalam. Ia juga mencocol makanan itu dengan saos pedas yang telah di sediakan di cemilan itu. Sandra juga mencobanya dan ia menikmati makanan yang ia buat itu.
"Enak,"ujar Darma mengangguk sambil melanjutkan gigitan dan kunyahannya.
"Makasih,"ujar Sandra tersenyum.
Tak lama, Sandra pun kembali mual dan ia langsung berlari ke belakang. Namun belum sempat ke kamar mandi, muntahannya jatuh ke bawah. Namun lagi-lagi tanah rumput dan tanahnya terbelah dan muncul pipi berisi air yang menjadi tempat jatuhnya muntahan itu.
Darma pun lagi-lagi membantu memijat tengkuk Sandra agar semua rasa mualnya hilang.
Hoeeek
Hoeeek
"Sepertinya aku harus memanggil ibuku ke sini untuk merawatmu,"ujar Darma menatap Sandra.
"Huh huh huh, benarkah itu?"tanya Sandra.
"Iya, aku mungkin akan sibuk karena tugas dari tekno. Jadinya aku akan jarang ada di sini nanti. Jadi...apakah kamu setuju jika ibuku yang merawatmu?"tanya Darma menatap Sandra.
"Tapi kamu akan tetap pulang kan, aku tidak bisa tidur kalau sendiri kalau sudah malam."ujar Sandra.
"Kenapa begitu? jadi sebelum denganku, kamu tidur dengan siapa?"tanya Darma pada Sandra.
"Waktu ngekos, aku tidur dengan temanku namanya Leli. Dia tidur satu ranjang denganku dan sudah 2 tahun ini. Tapi suatu saat ayah dari anak ini mengajakku untuk liburan ke Bali."ujar Sandra menceritakan kisahnya itu.
"Trus tidur dimana?"tanya Darma curiga.
"Di hotel, waktu itu aku bilang padanya agar ketika malam tiba dia tidur di sampingku. Namun dia malah melakukan hal lain dan janji akan bertanggung jawab, tapi dia malah mengingkari janjinya dan pergi begitu saja."ujar Sandra mengingat masa-masa itu.
Darma pun berpikir lagi setelah mendengar bahwa Sandra tak bisa tidur waktu malam tanpa ada orang lain di sampingnya. Oleh karena itu, ia berpikir ia harus menjadikan Sandra istrinya.
"Emmm aku mau minta sesuatu nih berhubung permintaanmu untuk selalu tidur di sampingmu waktu malam hari,"ujar Darma.
"Minta apa?"tanya Sandra mulai curiga.
"Apa dia akan minta hubungan itu?tapi kan kamu baru ketemu, tapi.....aku memintanya tidur bersamaku dan aku harus menerima hal itu jika ia memintanya."batin Sandra pasrah.
__ADS_1
"Apakah kamu mau menikah denganku, rasanya kalau kita tidur berdua tanpa ada hubungan akan aneh rasanya."ujar Darma.
"Me...menikah?ka..kamu serius mau menikah dengan wanita sepertiku?"tanya Sandra cukup terkejut dengan permintaan Darma.
"Iya, hari ini kita menikah kalau kamu setuju. Kita sahkan dan legalkan saja hubungan ini tanpa adanya pesta resepsi!"ujar Darma memberi penawaran.
"T...tapi apakah kamu akan setia padaku?"tanya Sandra pada Darma.
"Aku janji, aku akan setia."ujar Darma.
"Baiklah, aku setuju untuk menikah denganmu."ujar Sandra dengan hati yang sudah berbunga-bunga dan ia tersenyum bahagia.
3 jam kemudian
Merekapun kini sah menjadi suami istri, lalu Darma membawa Sandra ke rumahnya di bagian tempat itu yang lain.
Di rumah tingkat
"Ibu...aku pulang,"ujar Darma menggandeng Sandra.
"Dar...
Ibunya mengkerutkan keningnya melihat Sandra. Bu Dian berjalan mendekati Sandra lalu memandangnya dari atas sampai bawah.
"Siapa dia?pacarmu?"tanya Bu Dian.
"Emmm, ini istriku Bu."ujar Sandra jujur.
"Hah??kamu menikah di usia segini??"tanya Bu Dian sangat kaget dan sangat shock.
"Ibu ibu Bu...dengarkan Darma dulu!"ujar Darma ingin menjelaskan.
"Dengarkan apa, ibu malah senang ada temen di sini. Ayo masuk menantuku!"ujar Bu Dian malah menyambut mereka.
Darma menggaruk kepalanya karena cukup terkejut dengan kejadian ini. Lalu Darma pun menutup pintunya dan ikut bergabung dengan ibu dan istrinya itu.
"Namamu siapa nak?"tanya Bu Dian pada Sandra.
"Saya Sandra Bu,"ujar Sandra tersenyum malu dengan kepala menunduk.
"Kamu pacaran dengan anak ibu?"tanya Bu Dian.
"Gak buk, Sandra ini sebenernya salah satu orang yang Darma selamatkan karena ingin bunuh diri."ujar Darma lalu ia meneguk air minum di depannya.
"Hah?bunuh diri?kenapa kok sampe mau melakukan hal itu nak?"tanya Bu Dian menatap Sandra.
Sandra pun ingin menjawab. Namun tiba-tiba malah suaminya itu yang menjelaskan hal itu.
"Jadi gini bu.....
...
Jangan lupa like, komen, subscribe, dan vote ya sebanyak-banyaknya supaya author lebih semangat nulisnya!
Terimakasih:)
__ADS_1