
Di Pelabuhan
Saat sampai di pelabuhan, Darma pun memarkikan motornya lalu ia langsung mencari WC untuk mengambil uangnya.
"Dek, tunggu di sini bentar ya. Abang mau ke WC dulu!"ujar Darma pada gadis cilik itu.
"Jangan lama-lama ya bang, aku takut sendirian di sini!"ujarnya memegang tangan Darma.
"Iya, bentar aja kok."ujar Darma tersenyum.
"Bude, titip adik saya ya. Saya mau ke WC sebentar."ujar Darma.
"Eh, mas yang di tv itu kan?"tanya ibu itu seperti mengenali Darma.
"Hehe i...iya bu,"ujar Darma mulai merasa tidak enak karena sebentar lagi ia pasti banyak yang akan minta berfoto dengannya dan meminta peluk juga.
Setelah sampai di WC, Darma melihat seorang pemuda duduk di depan pintu WC sedang bermain game. Lalu di samping kirinya tertulis tarif di WC itu.
Tarif masuk WC:
Buang Air Kecil: 1.000
Buang Air Besar: 2000
Mandi: 5.000
Darma pun terkekeh melihat hal itu lalu ia. pun masuk ke WC itu.
"Tekno, tampilkan komputer!"ujar Darma pelan.
[Baik tuan,]
Lalu setelah masuk ke komputer tekno itu, Darma pun masuk ke Bank Tekno.
Bank Tekno:
Cek saldo➡️
Tarik(minimal 50.000)➡️
Transfer ke Bank Lain➡️]
[Tarik]
[5.100.000]
[Tarik] [Tidak]
Darma pun memilih tarik. Setelah itu, seperti biasanya akan muncul uang sejumlah yang di masukan dalam kolom jumlah yang akan ditarik. Muncullah uang 5 gepok 1 juta dan 1 lembar 100 ribu.
[Sisa Saldo: 283.780.000]
Setelah itu, Darma pun memasukan uang yang 5 juta ke dalam tas kecil berwarna merah yang dia pakai dengan cara di selempangkan itu. Lalu Darma pun keluar dan memberi uang 100 ribu tadi ke pemuda itu. Darma pun berjalan ke arah tempat ia menitipkan gadis kecil itu.
"Mas, duitnya kebanyakan."ujar pemuda itu agak keras.
Darma pun membalikan badannya lalu tersenyum sambil berkata:
"Ambil aja mas, anggap aja rezeki yang datang dari Yang Maha Pemberi!"ujar Darma tersenyum lalu ia lanjut berjalan.
__ADS_1
[Bloop]
[Hadiah sedekah: 100.000×5\=500.000]
[Total Saldo: 284.280.000]
"Makasih mas, semoga rezekinya lancar!!"ujarnya dengan bahagia.
"Kaya beneran ini mah,"ujar Darma melihat notifikasi dari komputer lalu komputer itu hilang kembali.
Ia pun menghampiri gadis kecil yang berada di warung makan tadi.
"Makasih ya buk udah jagain adik saya,"ujar Darma tersenyum pada ibu itu.
"Minta foto dulu mas!"ujar wanita paruh baya itu pada Darma.
Setelah berfoto
"Oke, makasih ya pahlawan."ujar ibu itu.
"Iya bu sama-sama,"ujar Darma tersenyum lalu ia pun menarik tangan gadis kecil itu.
Setelah membeli tiket untuk 2 orang dengan harga tiket 69 ribu sekali jalan, Darma pun langsung memasuki kapal Fery dan memilih ke nomor tempat duduknya yaitu 69. Kemudian, seusai penumpang penuh maka kapal pun berlayar.
Selama di perjalanan, Darma membawa gadis itu naik ke atas untuk menikmati udara segar. Darma dan anak itupun naik ke lantai 3 lalu di atas ada tempat duduk yang sudah di sediakan bagi penumpang yang ingin merasakan udara luar saat berlayar.
"Seru juga yah naik kapal,"ujar Darma pada gadis kecil itu.
"Aku bahkan belum pernah sama sekali bang,"ujar gadis itu tiba-tiba mual.
"Eh eh eh,"Darma panik karena gadis itu akan muntah.
Hoeeeek
Hoeeeek
Darma pun membantu memijat tengkuk gadis kecil itu.
Hoeeeek
Hoeeeeeeeek
Muntahnya pun ada di batas terakhir.
Note: Perhatian bagi reader yang penjijik, scene ini jangan di bayangkan ya! Kalau muntah sendiri gara-gara membayangkan adegan muntah itu, Author gak tanggung jawab loh ya.
Anak itu pun kembali ke tempatnya dan duduk dengan keadaan mata seperti menangis dan hidungnya mengeluarkan ingus. Darma pun menenangkannya dengan memijat kepalanya.
"Ini minum dulu!"ujar seorang wanita muda mengenakan baju kaos merah, celana sepaha, kulit putih, rambut panjang, dan berkulit sawo matang.
"Terimakasih ya,"ujar Darma tersenyum pada wanita itu.
Gadis kecil itu pun meminum air mineral yang di berikan oleh wanita di samping Darma.
Glekkk
Glekkk
"Ini, udah kak."ujarnya menyudahi minumnya lalu ia tutup kembali botolnya dan kemudian ia berikan pada Darma.
__ADS_1
Darma pun mengambilnya dan kemudian ia berikan lagi pada wanita itu.
"Ambil aja minumnya! Eh ini minyak kayu putih olesin di perutnya!"ujar wanita itu memberikan minyak kayu putih berwarna hijau.
Darma pun membuka tutupnya dan kemudian mengoleskannya di perut gadis cilik itu. Lalu gadis cilik itu pun berbaring di bahu Darma dan kemudian ia tertidur.
"Adik lo?"tanya wanita itu menatap gadis cilik itu.
"Bukan,"ujar Darma menggelengkan kepalanya.
"Trus, dia siapa?"tanya wanita itu.
"Tadi aku ketemu di pelabuhan, katanya dia ketinggalan kapal dan orang tuanya udah naik duluan. Dia lagi nangis pas aku temukan di pelabuhan tadi."ujar Darma berbohong untuk menutupi kebenaran yang sesungguhnya.
"Owh gitu, kenapa lo nolongin dia?kan dia bukan siapa-siapa lo?"tanya wanita itu menatap Darma dan tangannya di lipat di dadanya.
"Ya karena aku kasihan aja, pas aku tanya katanya mau ke sini juga. Yaudah, sekalian aja kalau gitu."ujar Darma.
"Owh gitu, lo baik banget. Oh iya, nama lo siapa?"tanya wanita itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Darma.
"Aku Darma,"ujar Darma menyebutkan namanya.
"Gue Sisil, panggil Sil aja gpp."ujar Sisil lalu melepaskan tangannya.
"Btw, lo cuma berdua aja?atau ada keluarga lainnya?"tanya Sisil menatap Darma.
"Cuma berdua sih,"ujar Darma.
"Owh gitu, lo mau apa ke pulau B?"tanya Sisil penasaran.
"Mau nyari kerja sih, katanya di pulau B gajinya besar."ujar Darma.
"Owh gitu, yaudah foto dulu yuk. Gua tau lo adalah si pahlawan yang lagi viral itu!"ujar wanita itu mengeluarkan handphonenya.
Setelah berfoto
"Btw umur berapa lo?gue 22"tanya Sisil penasaran dengan umur Darma.
"Aku 16 tahun,"ujar Darma.
"Hah?serius?"tanyanya kaget, tak menyangka, dan dengan mulut menganga.
"Iya serius, aku masih kecil kalau di dunia orang dewasa."ujar Darma mengelus rambut gadis cilik yang sekarang tidur di pangkuannya itu.
"Wow, 16 tahun berangkat nyari kerja ke kota lain. Btw lo gak sekolah?"tanya wanita itu.
"Gak, aku udah kerja dari SMP karena orang kedua orang tuaku bercerai dan akhirnya aku dibuang."ujar Darma dengan wajah menyendu.
"Ehhh, maaf-maaf gue gak tau."ujar Sisil menyesal dan meminta maaf.
"Gak apa-apa kok, santai aja sih."ujar Darma tersenyum walaupun dengan terpaksa.
"Trus anak ini mau dibawa kemana?"tanya wanita itu.
"Ke Polda aja, biar orang Polda yang menangani kasus ini."ujar Darma.
"Lebih bagus sih itu,"ujar wanita itu mengangguk karena setuju dengan yang dikatakan Darma tadi.
Mereka pun melanjutkan cerita sepanjang perjalanan berlangsung.
__ADS_1