
20 menit kemudian
Pihak kepolisian telah datang karena perintah langsung dari sang komandan yang berpangkat Brigadir Jenderal. Mereka pun masuk ke rumah itu sesuai dengan arahan wanita tadi.
Pria berpakaian dinas dengan bintang satu di bahunya itu langsung mendatangi putrinya dan berlari ke arah putri kesayangannya itu.
"Amira, kamu gak apa-apa kan nak?"tanya Jendral bernama Yuda itu.
"Ayah, aku gak apa-apa kok berkat cowok ganteng ini."ujar Amira menunjuk Darma yang ikut berdiri juga.
Jenderal itu menatap Darma dari atas sampai ke bawah. Lalu ia pun tersenyum dan kemudian menepuk bahu Darma.
"Anak muda, terimakasih telah menyelamatkan anak saya. Dia sudah cerita sama saya tentang kejadian ini."ujar Jenderal Yuda.
"Sama-sama pak, ini sudah tugas saya sebagai seorang lelaki."ujar Darma tersenyum.
[Bloop]
[Tugas Baru: Selamatkan seorang anak yang akan di bunuh ayahnya]
[Sekarang]
"Astaga, memang orang tua iblis."ujar Darma dalam hatinya.
"Maaf pak, saya permisi dulu masih ada kegiatan lain."ujar Darma pamitan.
"Loh, buru-buru sekali. Baru mau saja ajak ngopi."ujar Pak Jendral Yuda.
"Mohon maaf pak, saya permisi dulu."ujar Darma.
Lalu saat akan berjalan ke luar, Amira menghentikan Darma.
"Tunggu!"ujar Amira.
Darma pun terhenti langkahnya lalu menghadap ke mereka.
"Ada apa?"tanya Darma menatap Amira dan Brigjen Yuda.
"Minta no hpnya mas, siapa tau nanti bisa kali kita jalan bareng."ujar Amira.
"Waduh mohon maaf mba, saya udah punya istri."ujar Darma lalu ia balik badan dan langsung berlari dengan kecepatan 60 km/jam.
Wussssh
Karena larinya sangat kencang, Amira dan Ayahnya tekrkena efek anginnya sehingga mereka seperti mau tumbang.
"Astaga anak itu, cepat sekali gerakannya."ujar Jenderal Yuda kaget.
"Dia itu yang sering ada di tv pa, yang lagi viral karena sering nolong orang."ujar Amira.
"Benarkah?"tanya ayahnya yang memang sangat ingin bertemu dengan sang pahlawan.
"Iya pa, dia itu idaman aku tau. Dia tadi ada liat tubuh aku dikit pas gak menggunakan apa-apa dan aku perhatikan dia langsung nundukin pandangannya trus langsung menghajar para preman itu."ujar Amira pada Jenderal Yuda.
"Jadi...kamu suka sama dia?"tanya Jenderal Yuda.
"Gak gitu loh pa, aku cuma heran aja. Ternyata masih ada cowok kayak dia."ujar Amira kagum pada Darma.
__ADS_1
"Dia udah punya istri, wajar saja jika dia tak tertarik lagi melihat tubuhmu."ujar Jenderal Yuda.
"Hmmm, tapikan rata-rata laki-laki tuh kalau liat yang cantik dan muda dikit tuh langsung jreng matanya. Lah ini malah kayak gak tertarik sama sekali."ujar Amira.
"Dia tipe yang setia, beruntung wanita yang bersamanya."ujar Pak Yuda menatap kepergian Darma yang sudah hilang wujudnya.
Di lain sisi
Darma kini telah sampai di lokasi tugasnya yang akan ia selesaikan. Dari dalam terdengar seorang anak sedang di tampar oleh seseorang.
"Huaaa sakit ayah, udah yah udah sakit."ujarnya dari dalam.
Ctaasss
(Bunyi tali pinggang di pukulkan)
"Anak bodoh, mengambil itu saja kau tidak bisa. Kau sudah ayah ajari, tapi tak juga bisa kau melakukannya."ujarnya berteriak.
Tetangga yang mendengarnya pun sibuk menguping sambil ghibah.
"Tega sekali ayahnya ya" ujar salah satu dari ibu-ibu.
"Semenjak kepergian ibunya, ayahnya jadi semakin ganas. Dulu ibunya, eh sekarang anaknya. Ayahnya memang laki-laki yang kejam."ujar salah satu dari mereka.
Ayah dari anak itu pun mengikat anaknya lalu mengikat kaki dan tangannya. Setelah itu, ia pun pergi ke dapur untuk mengambil golok.
[Warning!!]
[Tuan, cepat selamatkan anak itu. Dia akan dibunuh oleh ayahnya!]
Darma pun berlari memasuki jendela rumah itu. Para warga pun terkejut karena pemuda yang tadi ada di hadapan mereka kini berlari secepat angin.
Mereka terjatuh karena efek angin dari gerakan yang dibuat oleh Darma tadi.
"Eeeeeh aduh,"ujar salah satu dari mereka.
"Itu apaan barusan?"tanya seorang wanita paru baya yang tak tumbang karena memegang batang pohon.
"Aduhh bokongku, sakit bener keduduk batu."ujar seorang pria lansia.
"Hei manusia, kau pikir aku mau kau duduki. Dasar tak berprikebatuan, hmm mana bau lagi. Belum cebok lah ya."protes batu yang di dudukinya.
Darma pun mengikuti GPS sistem lalu ia masuk dari jendela kamar anak itu.Kebetulan jendela kamar anak itu terbuka, Darma pun masuk dengan melompat.
"Tekno ini ada buktinya gak supaya nanti bisa di laporin ke polisi?"tanya Darma.
[Cctv Tekno memantaunya dari awal tuan, setiap kejahatan yang akan dilakukan oleh seseorang sudah dipantau oleh jutaan cctv sistem.]
"Wiih banyak bener,"ujar Darma kaget.
Setelah itu, Darma pun bersembunyi di bawah di balik pintu. Ia sengaja bersembunyi di balik pintu supaya mudah menciduk penjahat itu. Pria itu pun masuk dengan membawa golok yang sudah di asah. Kamera CCTV tekno juga sudah bersedia merekam aksi keji itu.
"Hahahaha, aku akan membunuhmu."ujarnya akan mengayunkan golok ke arah kepala anaknya itu.
Lalu saat pria itu akan menebaskan goloknya. Darma menariknya ke arah kasur dan menatap pria itu dengan marah. Namun meskipun sangat emosi, Darma tetap menahan dirinya.
"Mau apa kau di rumahku?"tanya pria itu bangkit dari kasur itu.
__ADS_1
Dengan emosi yang sudah sangat, Darma pun agak keras suaranya.
"Orang tua bodoh, kau ingin membunuh anakmu?"tanya Darma sedikit berteriak.
"Kau tak perlu ikut campur, ini urusan keluargaku!!!"ujarnya masih ngegas.
"Iya memang, tapi apa kau tega membunuhnya?"tanya Darma memeluk anak itu.
"Suka-suka aku lah, aku yang punya anak. Sibuk kali kau, pergi kau sana!"ujar pria itu mengusir Darma lalu menatapnya dengan tatapan emosi.
"Tapi apa kau tega ingin membunuhnya, dia anak kandungmu."ujar Darma dengan nada mengingatkan.
"Hahahaha, aku ingin menjual organ tubuhnya agar aku kaya. Istriku dulu aku suruh kerja malah mati duluan."ujarnya tertawa dengan wajah psycopatnya.
"Heh dasar cowok tak berguna, gak ada gunamu sebagai laki-laki. Potong aja itu yang dibawah, trus kasih bebek!"ujar Darma menghinanya.
"Apa kau bilang, rasakan ini anak bangs**."ujarnya melayangkan senjatanya lalu tangannya di tangkap oleh Darma dengan menggunakan teknik kuncian tangan dengan cara menangkap tangannya dari samping lalu ia jepit lengan si pria itu dan kemudian ia tarik pergelangan tangan pria psycopat itu hingga goloknya jatuh.
Bima pun menyerang perut pria jahat itu dengan dengkul hingga pria itu kesakitan dan sesak nafas.
Bughh
"Ughhh sakit sekali,"ujarnya dengan posisi badan seperti kucing berjalan.
"Tekno, selesaikan rekamannya!"ujar Darma.
[Sudah dari tadi tuan,]
"Hah?sejak kapan?"tanya Darma.
[Sejak tuan menangkap tangan pria itu lalu menjatuhkan senjatanya,]
"Wow, momen pasnya ya."ujar Darma.
"Kau akan ku bawa ke kantor polisi dan kau akan dihukum seumur hidup,"ujar Darma.
Lalu pria itu mengambil goloknya dan menusuk perut Darma.
"Haahhh,"Darma terkejut namun ia tak merasakan apa pun.
"Hahaha mampus kau bocil ****(hewan kaki 4 yang warna pink dan suka main di lumpur)."ujarnya berdiri.
Darma pun menyadari bahwa ia tak merasakan apa pun.
Duggh
Bughh
Pria tadi memukul kepala Darma dengan sebuah kayu broti yang ia simpan di lemari. Namun broti itu pecah dan Darma sama sekali tak merasakan apa pun.
"Eh kok gak kerasa tusukannya?"tanya Darma.
[Tuan, kekebalan anda sudah 23% dan di angka segitu senjata kecil seperti golok dan lain-lain tak akan berpengaruh pada tuan.]
"Owh gitu, pantes gak terasa."ujar ujar Darma mengangguk.
Pria itu kaget dan tak menyangka tak kenapa-kenapa. Perutnya tak mengeluarkan darah dan kepalanya juga tidak. Malah broti itu yang pecah. Darma pun menatap pria itu dengan tatapan mematikan.
__ADS_1
Glekkk
Sebuah pukulan pun mendarat di pipi pria psychopat itu lalu pandangannya pun kini menjadi gelap dan ia pun tumbang.