
Merekapun sampai di sebuah rumah batako yang tak di plaster. Rumah itu terletak di perumahan kumuh dan berada di tepi jalan raya.
"Ibu, ayah, adek pulang."ujarnya membuka pintu rumahnya.
Darma hanya berdiri melihat kondisi rumahnya.
"Masuk mas!"ujar Risa menarik tangan Darma.
"Eh iya,"ujar Darma masuk ke rumah itu.
"Duduk dulu mas!"ujarnya menarik tangan Darma agar duduk di sofa yang terlihat sudah usang itu.
Darma pun duduk di sofa itu. Setelah beberapa menit kemudian, ayahnya Risa pun muncul dari dalam rumahnya. Ayahnya Risa memiliki ciri-ciri kulit sawo matang, tinggi badan sedang, rambut disisir ke samping, dan berkumis tebal.
"Om!"ujar Darma menyalim ayahnya Risa.
"Ini Darma ya?"tanya ayahnya Risa membalas salaman dari Darma.
"Iya om,"ujar Darma kembali duduk.
"Ada tujuan apa nih ke sini?"tanya ayahnya Risa tersenyum.
"Tadi saya ketemu Risa om di jalan, dia curhat tentang keadaannya. Jadi tujuan saya mau ngasih ini om, saya harap bisa membantu om dan sekeluarga."ujar Darma menyerahkan uang 30.600.000 itu kepada ayahnya Risa.
"I...ini ba...banyak sekali,"ujar ayahnya Risa dengan ekspresi terkejut, shock, dan mulut menganga serta matanya melotot.
"Iya om, om kalau mau buka usaha bisa pake uang itu dulu. Nanti kalau kurang kabarin saya aja om, biar saya tambahin kurangnya berapa."ujar Darma tersenyum.
Ayahnya Risa menangis mendengar hal itu. Ia tak menyangka hal ini akan terjadi. Disaat ia sedang dalam kesusahan dan sangat kacau kehidupannya, datang seorang malaikat penyelamat.
"Hiks hiks, ini beneran kan nak?"tanya ayahnya Risa menangis bahagia melihat yang didepannya lalu ia menatap Darma.
"Eh jangan nangis om, aduh jadi gak enak saya om."ujar Darma merasa gak enak dan ia menggaruk kepalanya.
"Ayahku menangis bahagia mas,"ujar Risa memeluk ayahnya.
"Saya gak tau harus membalas kebaikan sampeyan ini dengan apa, saya gak punya apa-apa lagi."ujar ayahnya Risa mengusap air matanya.
"Gak usah di balas pak, saya ikhlas membantu bapak!"ujar Darma tersenyum.
"Kamu seperti malaikat penyelamat kami nak, akhirnya tuhan menjawab doa saya."ujar ayahnya Risa.
"Mungkin tuhan mengirim rezeki bapak melalui saya, berterimakasih lah pada tuhan pak."ujar Darma.
"Iya nak kamu benar, eh kok masnya gak di kasih minum. Buatin min-
"Gak usah pak, saya juga mau pulang. Kasian ibu sama istri saya nungguin di rumah."ujar Darma.
"Owh gitu, yaudah lah kalau emang gitu."ujar ayahnya Risa mengiyakan apa yang dikatakan Darma.
"Saya pamit dulu om,"ujar Darma berdiri lalu ia ingin menyalim ayahnya Risa.
"Eh kenapa buru-buru sekali mas pahlawan, baru mau saya buatkan minum."ujar ayahnya Risa.
"Udah malem pak, besok saya harus ke tempat kerja."ujar Darma.
__ADS_1
"Kerja dimana?"tanya ayahnya Risa.
"Saya kerja di gudang beras pak,"ujar Darma.
"Tapi kamu sebagai bos kan?"tanya bapak itu.
"Hehe iya pak, saya pimpinan di perusahaan itu."ujar Darma menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Pantes, kalau udah nyumbang sebanyak ini pasti bukan orang sembarangan."ujar bapak itu mengangguk.
"Diman!!keluar lo!!"ujar suara keras dari dalam rumah.
"Astaga, itu suara siapa teriak-teriak malam-malam?"tanya Darma dalam batinnya.
"Haduh tukang tagih hutang, wes lah tak hadapi."ujar Pak Diman.
"Tunggu pak!"ujar Darma.
"Kenapa nak?"tanya Pak Diman.
"Hutang bapak berapa pak?"tanya Darma.
"5 juta nak, biar pake uang ini aja."ujar Pak Diman ingin melangkah ke depan.
"Pak, bapak gak usah keluar. Bapak istirahat aja dan uang itu untuk buka usaha. aja. Tutup pintu rumah ini, biar saya yang menghadapi mereka!"ujar Darma dengan sifat kejantanannya.
"Tapi-
"Tidak apa-apa pak,"ujar Darma tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu, sekali lagi terimakasih nak. Saya gak akan melupakan jasa-jasa kamu kepada keluarga kami."ujar Pak Diman menepuk pundak Darma.
"Ris, antar mas ini ke depan pintu!"ujar Pak Diman.
"Iya pak,"ujar Risa berjalan lalu ia menggandeng tangan Darma.
"Eh eh, nanti bapakmu marah loh."ujar Darma pada Risa.
"Gak apa-apa nak,"ujar Pak Diman tersenyum.
"Eh...iya pak hehe,"ujar Darma tersenyum lalu merekapun berjalan.
"Aku pu-
Cup
(Ciuman di pipi)
Risa mencium pipi Darma. Darma kaget dan tak menyangka kalau hal itu akan terjadi. Ia pun dengan heran memegang pipinya. Risa ingin mencium bibir Darma, namun ditahan oleh Darma.
"Eh...jangan di bibir!"ujar Darma.
"Kenapa, bibir aku gak seksi?"tanya Risa yang seperti sudah jatuh cinta dengan Darma.
"Aku belum dapat dari istriku,"ujar Darma gemetaran.
__ADS_1
"Hehe, lucu deh kamu. Yaudah ambil yang dari istri kamu dulu, kalau kurang ada bibirku."ujar Risa menggoda Darma.
"Eh...hehe aku keluar dulu, kamu tutup aja pintunya!"ujar Darma berbalik arah lalu ia pun keluar.
"Bye pahlawanku,"ujar Risa melambaikan tangan pada Darma.
"Hehe iya bye,"ujar Darma yang sudah gemetaran karena aksi dari wanita abg itu.
Darma pun keluar dan sudah ada 3 orang berpakaian hitam, ikat kepala merah dan baju premannya ada rantai serta rambut mereka gondrong. Ada yang badannya kurus, ada yang gendut, dan ada yang tubuhnya tegap dan tinggi.
"Mau apa kalian?"tanya Darma keluar dari rumah itu.
"Wiih pahlawan kemalaman bos,"ujar pria bertubuh kurus dan cukup tinggi itu.
"Mana Diman?!!"tanya pria bertubuh tegap dan tinggi itu dengan suara agak keras.
"Kalian kalau ngomong emang suka teriak-teriak gitu ya?"tanya Darma heran.
"Gak usah banyak bacot lo, suruh Diman keluar!"ujar pria bertubuh tegap dan tinggi itu.
"Berapa hutangnya?"tanya Darma menaikan satu alisnya.
"5 juta,"ujar pria itu tanpa banyak omong.
"Bisa transfer gak?"tanya Darma.
"Bisa, ni no rekeningnya."ujar pria itu membuka handphonenya lalu ia buka gambar no rekening tujuan.
"Oke bentar,"ujar Darma memproses pengiriman uang itu.
[Saldo di potong: 5 juta]
[Sisa saldo: 9.530.396.000.000]
"Tuh, udah masuk belum?"tanya Darma pada pria itu.
Lalu pria itu memeriksa saldonya dan ternyata sudah masuk.
"Oke, sudah masuk. Kasih tau ke Diman, kalau ngutang jangan kelamaan bayarnya!"ujar pria itu lalu ia berjalan ke arah tempat mereka datang.
"Eh...kek ada yang aneh,"ujar Darma merasa ada yang aneh.
"Bos, kita gak adu bacot dulu?"tanya anak buahnya yang badannya gendut.
"Lagi males ngebacot sama males berantem gue,"ujarnya terus berjalan.
"Bang!bang!"Ujar Darma memanggil para preman itu.
"Apaan?"tanya pria itu menatap Darma.
Darma pun berjalan ke arah para preman itu.
"Apaan?"tanyanya memasang wajah sangarnya.
"Kita gak adu bacot sama berantem dulu?"tanya Darma karena biasanya kalau ada masalah seperti ini diakhiri dengan baku hantam.
__ADS_1
"Hoaaam males ngebacot sama males berantem gue, cari preman lain aja kalau lo mau berantem."ujarnya lalu ia ia pergi meninggalkan Darma.
Darma pun menatap kepergian para preman itu. Para tetangganya Risa ternyata sedang menguping dari tadi. Saat Darma menghadap ke belakang, mereka pura-pura berbincang-bincang satu sama lain.Tanpa mempedulikan hal itu, Darma pun pergi dari tempat itu.