
Pelayan rumah makan itu pun membawa makanan dan minuman pesanan Darma.
"Ini makanan dan minumannya mas,"ujar wanita itu tersenyum.
"Terimakasih mba,"ujar Darma mencuci tangannya.
"Sama-sama mas,"ujar pelayan restoran itu lalu ia pergi.
Saat akan makan, Darma menatap ke depan dan tak sengaja ia melihat sosok ibunya bersama seorang anak. Ia pun diam terpaku dan terus saja menatap wanita itu. Wanita itu kini berpakaian lusuh, rambut acak-acakan, dan kulitnya kotor karena mungkin tak pernah mandi.
Darma pun bangkit dan mendekati wanita dan seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan itu. Kemudian saat sudah sangat dekat, Darma pun menatap lekat wanita itu. Tak terasa air mata Darma menetes, wanita itu adalah ibunya yang awalnya ingin mengadopsinya namun Darma dibawa ayahnya.
Pada akhirnya Darma ikut ayahnya dan tinggal bersama ibu tirinya. Ibu tiri dan kakak tirinya sangat jahat padanya. Pasalnya, ibu tirinya selalu memarahinya dan kakak tirinya selalu menyiksanya. Oleh karena itu, ia kabur untuk mencari ibunya. Namun akhirnya ia harus hidup menjadi gelandangan karena tak kunjung menemukan ibunya.
"I..ibu,"panggil Darma pada wanita itu.
Wanita itu menatap lekat Darma lalu ia mulai mengenali Darma. Darma pun membuka kacamatanya dan air perlahan air matanya perlahan jatuh ke lantai.
"Kamu si...siapa?"tanya wanita itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ibu gak ke..kenal Darma?"tanya Darma air matanya menetes.
"Darma, ini ka..kamu nak?"tanya wanita itu memegang wajah Darma.
Darma pun memeluk ibunya lalu ia pun menangis dengan derasnya. Ibunya juga memeluk Darma dengan tangisan yang tak bisa dibendung lagi.
"Ibu...huhuhu,"ujar Darma menangis.
"Darma....maafkan ibu nak, ibu sudah meninggalkanmu waktu itu huhuhu."ujar wanita itu menangis.
"Ayo ibu kita masuk ke dalam!"ujar Darma menggandeng ibunya masuk ke dalam.
Hal itu pun jadi tontonan orang yang makan di tempat itu dan juga orang-orang yang lewat. Setelah itu, wanita tadi pun duduk di samping Darma.
"Hiks hiks, ibu kenapa bisa jadi kayak gini?"tanya Darma pada ibunya.
"Jadi begini nak....
30 menit kemudian
"Owh gitu, jahat juga orang itu."ujar Darma mengelap air matanya.
"Yah begitulah nak, begitu ayahmu selingkuh. Ibu langsung cari suami baru, tapi pada akhirnya ibu juga di tinggalin untuk yang kedua kalinya."ujar ibunya Darma.
__ADS_1
"Bu, aku laper bu. Mau makan bu mau bu."ujar gadis kecil di samping ibunya Darma.
"Ini siapa buk?"tanya Darma pada ibunya.
"Ini anak angkat ibu, dia ibu temukan saat sedang memulung dan sedang menangis di depan restoran "ujar ibunya Darma.
"Owh gitu, bentar ya buk."ujar Darma.
"Mba!"panggil Darma pada pelayan tadi.
"Iya mas?"tanyanya mendatangi tempat itu.
"Ibu sama adik angkat saya mau pesen makanan sama minuman,"ujar Darma.
"Owh begitu, sebentar ya mas saya ambil alat pencatatnya dulu."ujarnya pergi mengambil kertas untuk memesan pesanan.
"Mau pesen apa?"tanyanya setelah kembali dari meja kasir.
Lalu ibunya Darma dan adik tirinya pun memesan makanan dan minuman. Setelah itu, pelayan itu membawa kertas berisi pesanan itu ke tempat mereka membuat makanan.
"Oh iya btw nama dia siapa buk?"tanya Darma menatap adik angkatnya itu.
"Namanya siapa nak?"tanya Bu Dian ibunya Darma.
"Owh Celline, ibu sekarang tinggal dimana?"tanya Darma.
"Ibu gak punya tempat tinggal nak,"ujar Bu Dian mengelap ingusnya yang menetes.
"Hah?jadi ibu tidur dimana?"tanya Darma terkejut.
"Ibu biasa tidur berpindah-pindah sesuai tempat ibu berhenti,"ujar Bu Dian.
"Jadi, ibu sering kena hujan?"tanya Darma.
"Terkadang iya, terkadang gak."ujar Bu Dian.
"Ibu tenang ya bu, mulai hari ini ibu bakal tinggal sama Darma dengan nyaman dan bakal hidup bahagia."ujar Darma mencium tangan ibunya.
"Jangan nak, nanti ayahmu marah."ujar ibunya Darma menolak.
"Tenang aja buk, Darma udah gak sama ayah kok."ujar Darma.
"Kok bisa?kamu diusir?"tanya Bu Dian dengan wajah kaget dan heran.
__ADS_1
"Iya buk, Darma dibuang sama ayah ke pemukiman pemulung."ujar Darma.
"Astaga pria itu benar-benar tak punya hati, trus gimana jadinya nak?"tanya Bu Dian penasaran.
"Kalau seingat Darma waktu itu Darma lagi tidur buk, trus pas bangun udah ada di tumpukan kardus. Waktu pagi itu Darma dibangunin sama bapak-bapak yang ada di situ dengan cara di tendang sampe Darma masuk ke lumpur."ujar Darma mengingat masa-masa itu.
"Astaga, jahat sekali bapak itu. Trus gimana pas kamu tau kamu udah di buang sama ayahmu?"tanya Bu Dian dengan serius mendengarkan kisah anaknya itu.
"Ya waktu itu Darma bingung buk, karena pas tidur Darma merasa masih ada di rumah ayah. Eh pas udah bangun udah ada di tempat kumuh itu. Akhirnya Darma nangis dan mencari jalan kerumah ayah tapi Darma gak tau jalannya dan Darma lagi ada dimana juga Darma gak tau buk."ujar Darma meneteskan air matanya.
"Anakku, andaikan ada ibu di sisimu waktu itu. Pasti akan ibu lindungi kamu."ujar Bu Dian mengelus pipi Darma.
"Gak apa-apa buk, udah terjadi juga kok."ujar Darma mengelap air matanya.
"Trus sekarang kamu masih sekolah atau udah kerja nak?"tanya Bu Dian.
"Kalau masalah itu nanti aja ya Darma ceritain buk, sekarang ibu makan aja dulu. Trus baru nanti kita beli baju dulu untuk ibu sama Celline."ujar Darma tersenyum menatap Celline.
"Iya nak, sekali lagi terimakasih ya nak karena kamu telah mau menerima lagi ibu sebagai ibumu."ujar Bu Dian tersenyum haru.
"Ibu akan tetap jadi ibunya Darma buk, tapi ayah....
Katanya-katanya terhenti karena sakit hati yang ada padanya. Waktu itu Darma disiksa oleh keluarga baru ayahnya dan ayahnya membiarkan dan malah menontonnya di siksa. Sakit hati sudah pasti dan hal itu yang harus di rasakan oleh Darma.
Namun pada saat itu ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia masih sekolah dan makannya juga masih ditanggung ayahnya. Tetapi sejak ayahnya membuangnya, perasaan benci mulai timbul dalam hatinya.
Perasaan benci yang teramat dan bagai api yang semakin membara. Berawal dari percikan kecil dan akhirnya membesar. Sampai sekarang api itu tak pernah padam mengingat penyebab api itu muncul masih ada dalam ingatan.
"Kamu benci padanya nak?"tanya Bu Dian pada Darma.
"Yah....begitulah buk, sakit hati karena hal itu masih ada di hati Darma buk."ujar Darma mengaduk-aduk es batu pada tehnya yang mulai mencair.
"Kamu jangan terlalu membencinya nak, bagaimanapun juga dia adalah ayahmu."ujar Bu Dian pada Darma.
"Iya buk, Darma gak benci kok buk. Cuma sedikit kecewa aja."ujar Darma berbohong dengan senyuman palsu untuk membuat ibunya percaya.
"Maafkan dia nak, kecewa itu wajar tapi kamu harus pikirkan kalau dulu dia pernah memberimu makan dan menjagamu."ujar Bu Dian.
"Iya buk,"ujar Darma tersenyum.
Jangan lupa like, komen, subscribe, dan vote kalau suka sebanyak-banyaknya ya. Supaya author lebih semangat lagi nulisnya!
Terimakasih
__ADS_1