
Saat Darma pulang ke rumah
[Maaf tuan, Tekno terlambat]
[Tugas selesai]
[Hadiah:
Uang: 10.000.000
Poin: 5
Exp: 200
Exp untuk rumah: 200
Poin mutasi: 2%]
Total Keseluruhan
Uang: : Total Keseluruhan
Uang: : 5.004.054.695.000
Poin: 218
Exp level: 5.050
Exp untuk rumah: 6.850
Poin mutasi: 2%]
Mutasi Tubuh:
Kekuatan(75%)
Kecepatan dan Kelincahan Tubuh(75%)
Kekebalan tubuh(75%)
(Senjata berat seperti bazooka, meriam, dan lain-lain)]
"Lah, bisa telat juga?"tanya Darma pada Tekno.
[Author yang lupa tuan, Tekno bisa saja langsung menampilkan hadiahnya. Tapi author lupa menulis misi selesai dan total keseluruhan]
"Hadeh, authornya udah pikun. Mana masih muda."ujar Darma kesal.
{Ya maap author nulisnya malam dan udah ngantuk pas itu, makannya lupa kalau misinya udah selesai hehehe}
[Ngopi thor kalau lupa]
{Asyiaap Tekno, malem gak boleh ngopi}
Kembali ke cerita
Darma pun membawa jajanan tadi ke dalam rumah, rumah itu dalam keadaan tertutup. Lalu Darma pun mengetok pintu rumah itu.
Tok tok tok
Sandra yang sedang hamil pun langsung keluar dari kamarnya dan kemudian ia buka pintu rumah itu.
Ceklek
Darma sedang berdiri di depan pintu dengan membawa kantong besar berisi lidi.
"Apa itu sayang?"tanya Sandra melihat bungkusan itu.
__ADS_1
"Jajanan waktu sekolah dulu,"ujar Darma menaik turunkan alisnya.
"Aaaa aku baru mau minta kamu beli supaya aku yang goreng, eh suamiku peka banget walaupun dari pagi sampai malam kerja eh pas ketemu tau apa yang aku pengen. Sini-sini cium dulu!"ujar Sandra dengan wajah seperti ingin mencium Darma.
Darma pun menahan wajah Sandra dan langsung melihat jam.
"Yaudah, ayo masuk!"ujar Darma merangkul istrinya itu. Jajanan itu pun diambil Sandra.
"Kamu langsung mandi aja trus ganti baju, setelah itu baru kita makan bersama."ujar Sandra menutup pintu rumahnya.
"Iya istriku, panggil ibu sama anak-anak sayang!"ujar Darma masuk ke kamar.
"Iya sayang, kamu mandi aja dulu!"ujar Sandra.
30 menit kemudian
Darma pun keluar dari kamar mandi setelah mandi dan sudah memakai pakaian yang rapi. Ia kembali teringat dengan masa lalunya yang menyakitkan. Masa dimana kalau ingin cuci muka pun ia harus ke wc umum terdekat dan kalau ingin bab harus mencari tempat tersembunyi kalau tak ada wc umum.
Yah begitulah kehidupan orang yang hidup dijalanan. Mau makan susah, minum juga, mau tidur apalagi, mau buang air juga susah, semua susah.
Darma pun kembali ke ruang tamu dan melihat keluarga kecilnya sedang duduk sambil sibuk dengan handphone masing-masing. Lalu Darma pun duduk dan melihat makanan di depannya belum dibuka sama sekali.
"Loh, kok ini belum dimakan?"tanya Darma.
"Kami menunggumu makannya belum ada yang makan,"ujar Sandra.
"Iyo le, kamu ngapain di kamar mandi kok sampe setengah jam baru selesai?"tanya Bu Dian mengkerutkan keningnya.
"Eeeeh...hehe ngecek barang-barang di toko Tekno bu, sama ngecek profil Darma."ujar Darma mengambil telor gulung itu dari plastiknya.
"Kamu ngapain mas di wc?"tanya Sandra berbisik.
"Buang air, ngecek barang sama profil di tekno komputer, trus mandi. Itu aja kok."ujar Darma.
"Yakin??"tanya Sandra dengan wajah meragukan Darma.
"Heh heh, pada main handphone. Ayo dimakan itu makanannya!"ujar Bu Dian pada Celline dan Aurel.
"Iya buk,"ujar Celline menaruh handphonenya di meja dan Aurel juga.
"Celline gimana sekolahnya?"tanya Darma menatap Celline.
"Sekolahnya asik bang, Celline banyak temen disana."ujar Celline lalu ia memakan sosis yang dilumuri dengan saos dan kecap itu.
"Owh syukurlah, Aurel mau sekolah juga gak?"tanya Darma menatap Aurel.
"Sa...saya bang?"tanya Aurel gugup ketika ditanya Darma.
"Iya, kalau mau sekolah akan abang masukin ke sekolahnya Celline."ujar Aurel.
Aurel pun hanya diam dan bingung harus menjawab apa. Celline yang sadar bahwa Aurel belum menjawab pertanyaan Darma pun menyenggol Aurel.
"Rel, kamu ditanya Bang Darma tuh."ujar Celline pada Aurel.
"Eh, eee.... A...Aurel di sekolah yang biasa aja bang. Sekolahnya Celline kayaknya mahal dan anak-anak orang kaya semua."ujar Aurel yang tak enak ingin menerima tawaran masuk ke sekolahnya Celline.
"Gak apa-apa Rel, kamu gak usah mikirin itu. Intinya Aurel sekolah aja disana, masalah mahal atau gak itu urusan abang. Aurel tinggal belajar aja."ujar Darma menjelaskan.
"Eh...Aurel di sekolah negeri aja bang, di sekolah Aurel yang dulu."ujar Aurel.
"Dulu Aurel pernah sekolah?"tanya Darma menatap Aurel.
"Dulu Aurel sekolah di SD Negeri bang. Tapi semenjak ayah meninggal, ibu nikah lagi dan ninggalin Aurel diem-diem di rumah. Setelah itu Aurel tinggal di jalanan."ujar Aurel dengan wajah menyendu sambil menatap ke bawah.
Darma pun menyenggol Sandra.
"Apaan?"tanya Sandra menatap Darma.
__ADS_1
"Peluk Aurel, dia butuh pelukan hangat dari seorang ibu!"ujar Darma.
Lalu Bu Dian pun memeluk Aurel dan mengelus kepalanya. Saat itu juga air mata Aurel jatuh dan ia pun menangis mengingat saat ia terbangun di teras rumah dengan keadaan rumah yang sudah di segel.
"Hiks hiks, gak ada yang sayang sama Aurel. Aurel seharusnya gak lahir ke dunia ini."ujar Aurel.
"Gak gitu sayang. Aurel kan sekarang udah ada di sini, jadi kami ini keluarga Aurel yang sekarang."ujar Bu Dian memeluk Aurel.
"Iya Rel, kami semua di sini keluarga baru Aurel. Jadi Aurel gak usah sedih lagi!"ujar Sandra duduk di samping Aurel dan Celline.
Darma pun tersenyum melihat kehangatan keluarga itu. Kini mereka telah menjadi keluarga baru karena adanya rasa peduli dan kasih sayang.
Setelah adegan sedih selesai
"Besok kita liburan aja gimana?mau gak?"tanya Darma pada ibu, istri, dan adik-adiknya.
"Liburan?"tanya Sandra.
"Iya, terserah aja mau kemana."ujar Darma menghabiskan telor gulung terakhir.
"Hmm, boleh deh keknya."ujar Sandra setuju.
"Yang lain mau?"tanya Darma menatap yang lain.
"Yeee liburan, mau dong."ujar Celline bahagia.
"Aurel mau liburan gak?"tanya Bu Dian pada Aurel.
"M..mau Bu,"ujar Aurel mengangguk tapi ia tetap menatap ke bawah.
"Oke, besok kita liburan."ujar Darma.
Setelah menentukan tempat dan waktu berangkat. Pertemuan mereka malam ini pun berakhir dan mereka kembali ke kamar masing-masing.
23:00
Darma terbangun dari tidurnya karena ingin ke kamar mandi.
[Bloop]
[Tugas Baru: Tangkap maling yang sedang lari]
[Sekarang]
Maling...maling...maling!!
(Suara teriakan dari luar)
"Astaga, baru juga mau ke WC. Ntar dulu lah, baru juga mau buang air kecil."ujar Darma kesal.
[Tuan, segera tangkap malingnya!]
"Njir, jadi aku harus nahan kencing gitu?"tanya Darma
[Malingnya sudah jauh tuan]
"Tekno kampret, okelah aku pergi."ujar Darma menahan untuk tidak buang air kecil.
Darma pun keluar dan melihat GPS Tekno sudah aktif dan benar saja. Maling itu sudah sangat jauh larinya namun ia sembunyi di satu titik.
Lalu Darma pun berlari tanpa suara. Ia langsung menuju ke tempat maling itu berada. Setelah itu, Darma menggunakan kain penghilangnya dan diam-diam berjalan ke tempat maling itu.
Saat sudah di titik maling itu berada, Darma melihat seseorang menggunakan penutup wajah warnah hitam dengan mulut dan mata di lobangi.
"Hehe, disini kau rupanya."ujar Darma berjalan pelan ke arah maling itu.
Kini ia pun berada di belakang maling itu. Lalu pada saat warga akan lewat situ, Darma menangkap maling itu dan menutup mulutnya.
__ADS_1