
Bughh
Satu pukulan mendarat ke perut salah satu anak buah preman itu. Pria itu langsung jatuh ke belakang dan ia memegangi perutnya karena sakit.
"Akhh, sakit sekali pukulannya."ujar pria botak bertubuh cebol itu memegangi perutnya.
"Kurang ajar, udah berani lo sekarang."ujar pria yang satu lagi memukul perut Darma.
Namun malah tangannya yang keseleo karena ia memukul besi yang dibalut kulit.
"Akhhh tanganku, keras sekali badannya seperti besi."ujar pria itu mengibas-ngibaskan tangannya karena kesakitan.
"Huuuu kalahkan mereka, kalahkan para preman itu!!"ujar warga sekitar.
Lalu preman tadi menendang tubuh Darma. Namun Darma tak berekasi dan ia malah pergi seolah-olah mengabaikan para preman itu. Preman itu ingin menendang lagi, namun Darma berbalik lalu ia mengepalkan tangannya dan ingin memukul wajah pria itu.
Ia tak memukulnya, namun ia hanya menaruh kepalan tangannya di depan wajah pria itu. Angin kencang dari tangan Darma pun berhembus hingga pria itu jatuh karena kencangnya angin itu.
"Sekali lagi kau menyerang ku, jangan salahkan aku jika tanganku akan menembus wajah dari depan sampai belakang atau perut tembus punggung."ujar Darma dengan senyuman membunuh.
Pria itu langsung gemetar mendengarnya. Darma pun balik badan dan berjalan ke arah rumah kardus itu. Namun ketua preman itu memukul Darma menggunakan besi yang ia bawa.
Darma pung langsung menghadap belakang dan menatap tajam pria itu.
"Kau tu udahlah tukang palak, bencong, berani di belakang. Takut kau nyerang dari depan?iya kan?dasar bencong kau pengecut."ujar Darma tersenyum sinis.
"Eh lo gak usah ngatain gue, lo gak ta-
"Kau bencong, kau gak ada guna, kau itu pengecut, kau mati aja lah bodoh. Gak ada gunamu hidup, kalau gak kau jadi bencong aja lah. Gak jantan kau soalnya, cowok itu nyerang dari depan. Kau nyerang dari belakang, cowok bukan kau?ha?"tanya Darma menjatuhkan mental pria itu.
Jlebbb
Kata-kata Darma masuk ke hati preman itu. Seketika ia terdiam dan memikirkan kata-kata Darma tadi. Karena benar, ia hanya berani main di belakang. Darma pun membeli pelindung diri di toko Tekno lalu ia meletakkannya di atap rumah kardus itu.
Darma pun masuk ke rumah gadis kecil itu. Ia sangat mengenali ruangan itu karena sudah 1 tahun tempat itu ia tinggali. Ia pun menatap setiap sudut tempat itu, tempat yang dulunya adalah tempat ia tidur dan berlindung dari panas.
Saat masuk ke rumah itu, Darma melihat gadis kecil tadi dan adiknya yang berusia sekitar 5 tahunan sedang makan dengan nikmat. Saking enaknya makanan itu, mereka meneteskan air mata yang pertanda bahwa mereka bahagia bisa makan seenak itu.
Darma tersenyum melihatnya lalu ia pun duduk di tikar plastik yang ia rajut sendiri dari pipet yang ia ambil di jalanan maupun pembuangan sampah.
"Enak gak?"tanya Darma pada dua anak kecil itu.
"Hiks hiks, enak om. Makasih ya om."ujar gadis berusia 9 tahunan tadi.
"Iya sama-sama, nikmati makanannya. Setelah ini kita pergi ke panti asuhan ya, kalian harus dapat tempat tinggal yang layak dan kalian harus sekolah."ujar Darma pada dua anak kecil itu.
"Iya om,"ujar gadis kecil itu mengangguk.
"Nama kamu siapa?"tanya Darma pada gadis itu.
__ADS_1
"Aku Via bang,"ujar gadis berumur sekitar 9 tahun itu.
"Adek kamu?"tanya Darma menatap Via.
"Darma bang,"ujar Via.
"Hah?serius?"tanya Darma kaget karena ia bertemu seorang anak yang nama anak itu sama dengannya.
"Iya, kenapa emangnya bang?"tanya Via.
"Nama abang sama seperti adikmu,"ujar Darma.
"Owh gitu,"ujarnya mengangguk.
Setelah itu Darma pun membagikan makanan yang ia beli tadi ke orang-orang yang tinggal di perumahan pemulung itu.
[Bloop]
[Hadiah sedekah: 2.000.000×5\=10.000.000]
[Total Saldo: 1.961.380.995.000]
...
"Udah kenyang?"tanya Darma pada dua orang anak itu.
"Errrgggh, udah bang."ujar Via.
Anak itu pun mengangguk lalu ia lanjut makan siomay di depannya yang masih ada sedikit lagi.
"Oke, setelah ini kita ke rumah kalian yang pas masih ada ayah dan ibu kalian ya."ujar Darma.
"Hah?ma...mau ngapain om?"tanya Via.
"Om mau menyelidiki pelaku yang membunuh orang tua kalian dan akan om tangkap orang-orang itu,"ujar Darma.
"Jangan om, mereka ada senjata!"ujar Via dengan wajah ketakutan.
"Kalian tenang saja ya,"ujar Darma pada dua orang anak itu.
Mereka hanya diam dengan wajah panik karena terakhir kali di rumah itu mereka diusir oleh pemiliknya. Saat sedang enak-enak makan batagor, tiba-tiba datang seorang wanita dari luar.
"Hai mas pahlawan,"ujar seorang wanita mengenakan baju sekolah, rambut terurai, dan pastinya cantik.
"Eh kamu,mau ngapain ke sini?gak sekolah?"tanya Darma menatap Amira.
"Kebetulan lagi ada tugas sekolah mas,"ujar Amira.
"Owh gitu, sini masuk aja. Kita ngobrol di sini!"ujar Darma.
__ADS_1
Amira pun melihat lantai dari pipet yang di penuhi jejak kaki dan lalat itu pun seakan tak rela kalau tubuhnya menyentuh tempat itu.
"Disini aja mas hehe,"ujar Amira.
"Hadeh, bentar ya dek. Om mau ngobrol dengan tante ini!"ujar Darma mencoba keluar dari tempat itu.
"What?Tante?"tanyanya tak terima karena umurnya belum setua itu.
"Sudahlah, lupakan saja. Owh iya btw tugas sekolah apa yang membuatmu sampai datang ke tempat ini. Biasanya anak orang kaya sepertimu tak akan sudi berkunjung ke tempat ini."ujar Darma mengajaknya masuk ke mobil.
"Kita mau kemana?"tanya wanita itu.
"Ngobrol di mobil aja, di sini panas."ujar Darma membuka pintu mobilnya.
Amira pun mengikuti Darma dan masuk ke mobil itu.
"Hah?akhirnya ada AC."ujar Amira mengipasi tubuhnya.
"Kamu tau darimana aku ada di tempat ini?"tanya Darma menatap Amira.
"Awalnya aku gak tau, tapi pas aku wawancara seorang bapak-bapak tadi mereka pas lagi makan dan dia sempet cerita kalau ada orang yang barusan bagikan makanan ke mereka. Setelah aku lihat ada mobil di depan rumah kardus ini, aku penasaran trus pas aku periksa eh ternyata kamu."ujar Amira mengeluarkan cermin yang ia bawa lalu ia merapikan rambutnya.
"Boleh bawa cermin ke sekolah?"tanya Darma pada Amira.
"Diem-diem aja gak apa-apa, lagian gak tiap hari juga ada razia."ujar Amira.
"Owh gitu, tugasnya udah selesai nih?"tanya Darma pada Amira.
"Udah sih, ini mau balik lagi ke sekolah."ujar Amira menyimpan cerminnya.
"Kirim salam sama pak jendral ya!"ujar Darma.
"Iya, papa sering ngomongin kamu tau. Katanya kamu udah 2 kali membantu tugas Tentara polisi di lautan. Sebenarnya kamu punya kekuatan apa sih, sampai papa tuh pengen kamu jadi menantunya."ujar Amira lalu ia menutup mulutnya.
"Masih sekolah udah disuruh nikah, hahaha kasian kamu."ujar Darma meledek Amira.
"Dih, gak gitu ya. Maksudnya tuh tunggu nanti aku lulus S1."ujar Amira kesal lalu ia membetulkan poninya.
"Lagian kamu cari yang lain aja, jangan sama aku!"ujar Darma.
"Lah, kenapa?kamu udah punya pacar ya?"tanya Amira.
"Lebih tepatnya istri,"ujar Darma.
"Hah??udah nikah?"tanyanya dengan tatapan kaget dan mulutnya menganga.
"Udah, makannya kamu cari yang lain aja!"ujar Darma.
"Hmmm baiklah kalau begitu,"ujar Amira keluar dari mobil itu.
__ADS_1
...