SANG DERMAWAN

SANG DERMAWAN
EPISODE 69


__ADS_3

[Ting]


[Analisis selesai]


[Proposalnya bertujuan untuk meminta sumbangan pada tuan]


"Owh gitu, keadaan universitasnya gimana Tekno?layak dibantu atau gak?"tanya Darma pada Tekno.


[Kunjungi saja tuan, sekali-kali tuan mandiri tuan. Supaya tau mana yang butuh dibantu dan mana yang tidak perlu dibantu!]


"Hahaha iya dah iya, kamu kesel ya tiap hari hari aku ngandalkan kamu terus?"tanya Darma membuka matanya.


[Tidak tuan, tuan jangan menjadi seperti Nobita yang terus saja mengandalkan Doraemon. Tuan sekali-kali harus mandiri tanpa bantuan tekno]


"Malah jadi ngomongin kartun,"ucap Darma dalam pikirannya.


"Jadi gimana mas?"tanya pria berkacamata itu.


"Boleh saya lihat-lihat kampusnya mas-mas ini dulu?"tanya Darma.


"Boleh mas,"ujar mereka setuju.


Dua orang tadi pun duluan ke kendaraannya. Sementara Darma meletakkan kalung keamanan dulu di meja itu. Setelah menyetel alarm tanda bahaya, Darma pun keluar dan menemui Beni.


"Ben, aku titip tempat ini sama kamu ya. Aku ada urusan."ujar Darma pada Beni.


"Siap, aman bos."ujar Beni menghormat.


"Baiklah, aku pergi dulu."ujar Darma.


"Iya bos, hati-hati di jalan bos!"ujar Beni melambai pada Darma yang sudah menjauh.


Darma pun pergi ke universitas tempat kuliah 2 mahasiswa tadi.


...


Setelah sampai, Darma pun masuk ke lapangan parkir universitas itu. Universitas itu terlihat seperti bangunan yang hampir roboh, mobil pun hanya terlihat 1 buah di tempat itu dan sisanya hanya motor yang berjejer rapi.


Darma pun berjalan ke arah dua mahasiswa tadi. Merekapun menelusuri tempat itu secara keseluruhan. Bangunan-bangunannya kalau bisa dikatakan tak layak untuk di gunakan, ya itulah sebutannya.


Gentengnya sudah sangat tua dan banyak yang bolong dan bahkan ada bolongnya besar. Sehingga kalau hujan maka akan menetes air dari tempat itu.


Terakhir, mereka sampai di ruangan rektor. Ruangan yang sangat sederhana bagi seorang rektor, Universitas ini sepertinya yang paling sederhana dari yang lain. Karena bangunannya sudah sangat tua dan hampir roboh.


"Rektor kami ingin bertemu dengan mas,"ujar mahasiswa berkacamata itu.


Darma pun masuk dan melihat pria berpakaian kemeja coklat, rambut putih, dan sudah tua karena terlihat dari wajahnya yang mengkriput. Pria itu pun menatap Darma lalu ia menurunkan kacamatanya.


"Siapa?"tanya pak rektor itu.


"Ini Mas Darma yang diceritakan oleh Pak Ovick pak.


"Owh iya-iya, silahkan duduk nak!"ujar Pak Rektor itu langsung berdiri dengan wajah bersemangat.


"Terimakasih pak,"ujar Darma tersenyum lalu ia duduk di kursi itu.


Dua mahasiswa tadi pun pergi dari ruangan itu. Tinggal lah Darma dan pak rektor di ruangan itu. Ruangan yang tak terlalu luas dan tak terlalu sempit, di kelilingi oleh alat-alat tulis dan gambar pahlawan serta gambar presiden dan bendera tepat di atas mereka.


"Jadi ini nak Darma yang kemaren nyumbang di STIK kan?"tanya pak rektor itu.


"I...iya pak benar,"ujar Darma mengangguk.

__ADS_1


"Selamat datang di universitas kami, ya....beginilah keadaan universitas kami nak. Universitas yang sangat sederhana, karena di sini kuliahnya gratis tanpa uang SPP kalau misalnya SMA."ujar bapak itu menjelaskan.


"Iya, tapi kenapa ruangannya dan bangunannya seperti mau roboh pak?gak minta bantuan sama pemerintah aja?"tanya Darma.


"Sudah nak, tapi sampai sekarang belum ada jawaban."ujar pak rektor itu.


"Astaga, dari kapan pak laporan ke pemerintah?"tanya Darma dengan ekspresi heran.


"Sudah 1 tahun ini nak, tapi setiap kali kami tanyakan lagi maka mereka selalu bilang nanti,nanti, dan nanti nak. Akhirnya kami dari pihak universitas pun menyerah, setelah itu yaudahlah mungkin sudah takdir kalau universitas ini memang yang paling miskin karena kami tak memungut biaya dari para mahasiswa kecuali seragam dan almamater, buku, dan uang ujian."ujar rektor.


"Uang ujiannya untuk apa pak?"tanya Darma.


"Biaya ujiannya nak, sisanya kami pakai untuk renovasi kelas per kelas. Namun kami tak memiliki daya untuk merenovasi seluruh ruangan di tempat ini."ujar pak rektor itu.


"Tapi dari yang saya lihat cukup parah dan bisa dikatakan gak layak sih pak, kapan mau di renovasi pak?"tanya Darma


"Kami masih nunggu yang mau memberikan sumbangan mas,"ujar bapak itu.


"Biayanya yang saya baca tadi 1 Milyar, cukup itu pak 1 Milyar?"tanya Darma.


"Untuk renovasi saja cukup nak,"ujar bapak itu.


"Boleh kasih daftar jumlah guru dan mahasiswa di sini pak?"tanya Darma.


"Boleh nak,"ujar bapak itu.


Lalu bapak itu pun mengambil sebuah buku dengan data para mahasiswa dan guru di tempat itu.


"Uangku terlalu banyak, aku harus menghabiskannya."ujar Darma dalam hati.


[Hahahaha, uang anda akan semakin banyak jika anda menyumbang dengan jumlah banyak tuan]


"Wadoh diledek tekno, makin banyak nyumbang makin kaya nih berarti."batin Darma sambil melihat-lihat jumlah mahasiswa dan dosen yang ada di universitas itu.


"1 juta mas sebulannya,"ujar dosen itu.


Darma pun mengangguk mendengarnya.


"Bapak ada no rekening kan pak?"tanya Darma.


"Ada mas, ini no rekening saya."ujar bapak itu memberikan buku rekening atas nama universitas itu.


Lalu Darma pun menyambungkan handphonenya dengan bank Tekno, setelah itu ia memproses transfer uang itu di handphonenya.


[Bank Tekno:


Cek saldo➡️


Tarik(minimal 50.000)➡️


Transfer ke Bank lain➡️]


Darma mengklik transfer ke Bank lain


[Masukan no rekening]


Darma pun memasukan no rekening universitas itu. Setelah itu muncul lah nama dan no rekening nasabah.


[Masukan jumlah nominal]


[1.000.000.000.000]

__ADS_1


[Transfer]


Darma mengklik pilihan itu.


[Proses transfer....]


[Selesai]


[Saldo akhir: 6.530.512.571.000]


[Bloop]


[Hadiah sedekah: 1.000.000.000.000×5\=5.000.000.000.000]


[Total Saldo: 11.530.512.571.000]


"Udah pak, dicek aja saldonya!"ujar Darma menyimpan handphonenya.


"Iya nak bentar bapak cek dulu,"ujarnya memeriksa jumlah saldo uang yang ada dalam aplikasi bank di handphonenya.


Bapak itu sangat terkejut melihatnya, pasalnya yang masuk ke handphonenya bukan 9 nol, tapi 12 0 yang muncul. Dengan mulut menganga dan mata melotot, bapak itu menatap Darma.


"I...ini serius nak 1 trilyun?"tanya bapak itu kaget dan masih shock dengan apa yang dilihatnya.


"Benar pak, tapi mohon gunakan dengan tujuan untuk menyejahterakan universitas ini. Uang itu bisa bapak pakai buat gaji guru dengan jumlah 5 juta perbulan, bantuan siswa miskin, dan renovasi kampus di universitas ini!"ujar Darma.


"Nak hiks hiks terimakasih nak, bapak sangat terharu melihatnya."ujarnya menangis lalu ia mengelap air matanya dengan tissue.


"Sama-sama pak, ini demi kemajuan pendidikan di negara ini."ujar Darma.


"Hiks hiks, boleh minta no handphonemu nak?"tanya bapak rektor itu.


"Boleh pak,"ujar Darma memberikan no handphonenya.


"Sudah nak, mohon perkenalan diri di grup itu ya nak. Kamu bapak masukan sebagai donatur sekolah kami."ujar bapak itu.


"Waduh pak, gak usah pak. Saya gak perlu ikut campur di grup dosen dan pengurus universitas ini."ujar Darma menggaruk kepalanya karena pasalnya orang tak berpendidikan sepertinya akan canggung jika ada di grup dosen yang mayoritas pendidikannya S2.


"Gak apa-apa nak,"ujar Dosen itu.


"Iya pak,"ujar Darma menggaruk kepalanya yang tak gatal.


[Bloop]


[Tugas Baru: Selamatkan seorang Mahasiswi dari WC yang akan roboh atapnya]


[Sekarang]


"Astaga,"ujarnya dengan ekspresi kaget.


"Kenapa nak?"tanya bapak itu.


"Saya duluan pak,"ujar Darma berjalan dengan cepat ke luar ruangan.


Darma pun mengikuti GPS tekno dan ia berlari dengan kecepatan tak bisa di hitung manusia. Orang-orang yang dilaluinya terjatuh karena angin dari tubuhnya.


Di WC itu


Seorang siswa sedang cuci muka


Krakkk

__ADS_1


Ia pun menatap ke atas dan.....


__ADS_2