Sang Pelayan Tuan Muda Kejam

Sang Pelayan Tuan Muda Kejam
Bab 15.


__ADS_3

Kaki seakan terasa lemas, kenyataan yang baru saja ia dengar seakan menikam hingga jantung, seandainya nya ia tak penasaran dengan Wanita yang mirip dengan Ibunya, mungkin Ia tak akan tahu hal yang se-menyakit kan ini.


"Lalu Siapa orang tua ku...". Jantung seakan di remas, hingga air mata tak sanggup ia tahan, Alesya menangis.


Semua Alasan yang menimpa nya selama ini adalah karna ia lahir dari rahim Clara Florence yang ternyata bukan Ibu kandung nya.


Alesya tersenyum getir, setiap penghinaan dan perlakuan kasar sudah ia terima bahkan dirinya kehilangan kesucian yang sangat berharga, demi melampirkan kebencian yang tak seharusnya nya ia terima, Alesya masih mengingat semua itu.


Asher Kau manusia terkutuk, tidak kah Kau menyelidiki nya, Alesya mengepal erat telapak tangan nya.


Dan sorot mata Alesya semakin tajam saat netra itu menatap dimana Asher berada. "Kau.." Alesya mendelik tajam, tak ada ketakutan dalam dirinya lagi akan Pria Tirani itu, bahkan untuk memikirkan keluarga nya pun tidak.


Pantas saja selama ini, Ayah nya sama sekali tak pernah berkujung atau bertanya kabar, karna sebenar nya Alesya tak penting bagi nya, Dia hanya Anak pungut.


"Aku mendengar semua yang Kau katakan dengan Clara..". Bahkan tak ada sebutan Ibu untuk Wanita itu, selama 10 tahun, perlakuan kasar kerap ia dapat kan hanya Ayah nya Edmond yang memperlakukan Alesya begitu baik.


"Lalu..". Asher membalas datar tatapan penuh amarah itu, seolah ia tak peduli namun setitik rasa bersalah itu memang ada, tapi kata maaf tak akan pernah keluar dari mulut nya.


"Lalu, Kau bilang..!". Alesya melangkah maju, ia seakan siap untuk mendatangi Singa yang akan menerkam dan mencabik diri-Nya. "Kau biadab, bajingan tak ada hati nurani..?". Alesya memukul dada bidang itu dengan keras, melampiaskan segala amarah yang di rasa.


" Kau sudah puas..". Asher mengangkat kedua tangan Alesya ke atas, menatap wajah cantik itu dari dekat, Wanita yang selalu ia hina muraahan, ternyata memang tidak lah benar.


Semua praduga nya selama ini, salah.


Wanita ini begitu polos, saat dirinya pertama kali menyentuh nya, merobek selaput da-ra, dengan rudal miliknya.


"Tidak, sebelum Aku membunuhmu..".Tatapan mata itu begitu nyalang dan penuh kebencian, lalu Asher memberikan Alesya sebuah senjata.


" Bunuh lah Alesya...!!". Asher sengaja berjalan mundur memberi jarak dengan Alesya, Sementara itu Tangan Alesya bergetar saat memegang senjata api itu, Dia memang ingin Pria itu mati, tapi bukan dengan tangan nya.


Asher diam, Saat senjata itu telah menodong ke arah nya, Apa kah Alesya berani membunuh nya, kita akan lihat, seberapa besar kebencian nya terhadap Asher.

__ADS_1


Air mata terus mengalir, di dalam ingatan begitu jelas setiap perlakuan kasar yang ia alami, setiap kata hina yang selalu ia telan karna menjadi keturunan seorang Clara dan ternyata bukan ibu kandung nya


Lalu tatapan kecewa yang ia dapat dari Revan, bertambah lagi kehilangan kesucian yang ia jaga membuat ia gila, lalu kemana tempat ia kembali.


Tidak Ada.


Alesya tersenyum getir, saat melihat senjata api masih ia pegang, berganti dengan wajah Asher yang masih dingin, bahkan tak ada kata maaf yang keluar dari mulut busuk nya itu.


"Alesya apa yang kamu lakukan..!!!" Asher berlari saat todongan itu berbalik arah.


...Dorrr...


Terlambat, hidup tampa kepastian membuat ia memilih kematian, peluru itu sudah bersarang di dalam tubuh Alesya.


Alesya langsung jatuh dengan darah yang mulai mengotori lantai, ia harap peluru itu mengenai organ vi-tal, yang akan cepat melepas paksa nyawa-nya dari sang raga.


"Alesya Kau gila.." . Asher langsung membawa Alesya cepat untuk segera untuk di bawa ke rumah sakit, Asher tak memikirkan jika Alesya akan berbuat gila dengan menyakiti diri sendiri.


Antonio mendengar suara tembakan begitu pula anggota rumah yang lain, Pria itu bergegas naik, dan saat sampai ia melihat Tuan nya menggendong Alesya. Antonio langsung cepat menyiapkan mobil, berbalik arah dan berlari menuruni anak tangga.


"Cepat lah Antonio..". Tubuh Alesya sudah dingin darah pun begitu banyak mengotori lantai mobil dan juga pakaian Asher.


"Bertahan lah..".Asher terus memeluk tubuh dengan wajah pucat itu, Alesya masih sadar saat melihat wajah Asher mencemaskan nya. Wanita itu tersenyum dengan getir.


"Biarkan ---Aku ----mati..". Dengan suara yang amat lemah, Alesya mengatakan itu, ia tak mengharapkan kehidupan lagi untuk di jalani, biar lah kematian membawa nya, tak ada yang mengharapkan atau menginginkan diri nya.


"Tidak...". Asher menggeleng dengan cepat, ia mengusap lembut wajah yang sudah terasa dingin itu. " Aku tidak akan membiarkan mu mati, Kau harus hidup dan berada di sisiku selama nya.." Tak ada Jawaban dari Alesya, Wanita itu kehilangan kesadaran nya.


"Antonio cepat lah...!!!.". Asher semakin gusar, tubuh Alesya semakin dingin, apa lagi mata Wanita ini sudah tertutup, ia takut jika Alesya tidak selamat.


Saat tiba di rumah sakit Alesya segera di tangani "Selamat kan Dia.." Asher memberikan tubuh Alesya kepada dokter, detik itu juga Alesya langsung di operasi.

__ADS_1


Antonio melihat Tuan nya termenung, Pria itu tak lagi panik seperti tadi, cenderung diam. Tatapan nya tertuju pada lumuran darah yang ada di tangan "Antonio Aku mau Wanita ku selamat.!." Antonio mengangguk paham, dia akan meminta pihak rumah sakit untuk pengobatan terbaik.


"Antonio, Apakah Alesya akan selamat.??." Asher menatap asisten nya dengan tatapan nanar, mungkin kan ia akan kehilangan Alesya setelah ini.


Karna Wanita itu memilih kematian dari pada membunuh nya, padahal ia hanya menggertak. Asher yakin Alesya tak akan berani untuk membunuh nya.


Ada penyesalan yang Antonio lihat dari wajah Tuan nya, bahkan ia terus melihat Arloji karna sudah 2 jam operasi belum selesai, ia melihat suster tampak keluar masuk seraya membawa kantung darah.


Bersiap lah untuk skenario terburuk, Author akan membawa Alesya pergi, dan Novel di buat End.


"Aku tidak akan membiarkan kamu mati, Alesya kau harus menemani ku seumur hidup mu..!!" Asher bermonolog sendiri. ia terus menatap ruang operasi belum ada tanda-tanda akan selesai.


"Tuan, Anda harus mengganti pakaian Anda..!". Pria itu memberikan setelan ganti untuk Tuan nya, Asher ke kamar mandi untuk mmembersih-kan diri, mencuci wajah dan tangan yang berlumur darah yang sudah mengering.


Ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin, ada rasa yang tak bisa ia jelaskan, dan merasa tak tega melihat kondisi Alesya seperti ini.


Tak pernah ada seorang pun, yang menggelitik hatinya sampai seperti ini, apa lagi kenyataan yang baru ia ketahui, asal-usul Alesya sebenernya.


'Alesya kau membuat ku Gila.'.


.


.


.


.


To Be Contiuned.


.

__ADS_1


__ADS_2