Sang Pelayan Tuan Muda Kejam

Sang Pelayan Tuan Muda Kejam
Bab. 9


__ADS_3

Kali ini mata itu terlihat berbinar dengan senyuman terus merekah, saat kendaraan sudah mendekati area perumahan, akhirnya Alesya bisa pulang dan bertemu Ayah dan kedua adiknya.


Beberapa jam lalu, Alesya berhasil keluar dari hutan dengan selamat, ia menyetop sebuah kendaraan pengangkut barang, dengan menceritakan kronologis yang ia alami selama ini, akhirnya sang supir merasa iba, dan membantunya.


Apalagi melihat Wanita cantik ini, di penuhi luka lebam, tak mungkin juga ia berbohong apa lagi melukai diri sendiri, sangat tidak mungkin!, karena bagi Wanita kecantikan adalah aset ynag paling ber-harga, bahkan di luaran sana banyak yang rela meronggoh kocek dalam uang mereka, hanya untuk mempercantik diri.


Bahkan yang lebih ekstrim adalah operasi plastik, di jaman sekarang, tak jarang bagi mereka yang memiliki uang pasti melakukan itu, kecuali mereka yang tak memiliki dana yang memadai, memilih untuk memakai make up. Seperti Author contoh nya.


"Terimakasih banyak Tuan.." Hanya sebuah senyuman manis yang bisa ia berikan untuk Pria paruh baya yang menolong nya itu.


"Sama-sama, lebih baik kamu cepat masuk, atau orang-orang dari keluarga Kharkov akan segera melihat mu..". Supir itu memperingati Wanita cantik ini, anak buah Kharkov menyebar di seluruh kota, memang daerah kekuasaan keluarga Tirani itu sangat lah luas.


Alesya mengangguk paham, sebuah kain panjang ia pakai untuk menutupi kepala, Alesya dapat dari orang yang menolong nya tadi, karna sejak semalam ia tak mengganti pakaian nya.


Masih dengan gaun pesta yang sudah tercabik-cabik.


Saat petang ia tiba di rumah yang Alesya tinggali selama 24 tahun, terlihat sepi seperti tidak ada penghuni, beruntung kebiasaan penghuni rumah menyiapkan kunci cadangan yang hanya di ketahui anggota rumah, dengan begitu ia bisa masuk.


"Akhirnya.." Alesya mengistirahatkan tubuh nya di atas sofa. Melihat sekeliling ia pun bisa bernafas dengan lega, sudah sangat lama ia tak menginjakkan kaki di rumah ini.


Dalam kesunyian, Alesya termakan dengan hawa lelah dan letih, tubuh seakan remuk dan pada akhirnya ia terlelap di busa empuk berwarna coklat itu. Namun saat terbangun ternyata hari sudah gelap. Tapi..!.dimana keluarga nya, kenapa mereka belum pulang.


Alesya langsung gelisah, dan ia langsung terkejut saat mendengar suara dering telpon. "Halo..".


" Kak Ale..". Wajah Alesya langsung berseri, baru saja ia memikirkan keluarga nya, Cecilia menghubungi no telpon rumahnya.


"Iya Dek, ini Kakak! . Kakak pulang. Kalian dimana kenapa tak ada satupun orang di rumah..?..". Alesya sangat tak sabar ingin mendapat kabar hingga ujung kuku terus ia gigit, karna sang adik tak bersuara lagi.


" Kak Ale tolong Kak_". Alesya tidak bersuara lagi. Ia membekap mulut, jeritan sang adik membuat lutut nya bergetar.

__ADS_1


"Aku beri waktu 3 jam untuk kembali..! jika lebih dari itu..!. ucap kan selamat tinggal untuk adik mu tersayang mu Alesya..".


"Asher jangan coba-coba melukai nya Brengsek.." Tidakah Alesya menyadari saat ini ia tengah berurusan dengan siapa, tidak..!. Wanita itu sangat murka dengan Asher yang menyandera Adik nya. Dan saat itu terjadi ia mendengar teriakan dari Adik nya. Jantung yang ada di d**ada nya langsung berpacu cepat, Alesya sudah salah bicara.


"Ahhhhk. Jangn pukul Aku. Ahhhhhk. .. Kak Ale tolong Aku kak!..". Dengan tangan bergetar ia terus memegang Handel telpon itu. Apa yang di lakukan Asher pada adiknya.


"Tuan.. Aku mohon jangan sakiti Adik ku.." Alesya berlutut. kaki nya terlalu lemas untuk terus berdiri, ia terisak seraya memohon..". Aku akan pulang Tuan, Aku akan pulang, tapi jangan sakiti Adik ku.."


"Sekarang baru sadar memanggilku Tuan." Dan Alesya terus mendengar jeritan Cecilia. "Tolong Kak___.". Dan panggilan itu di akhiri sepihak oleh Asher.


"Sial***an, Asher Kau brengsek.". Alesya mengumpat dengan kesal, bersusah payah ia kabur hingga tiba di rumah, dan kali ini ia harus kembali, dan lagi-lagi menyerah kan diri demi nyawa sang Adik.


Tapi ada yang ia lupakan, hingga sampai detik ini, Alesya tak pernah mengetahui dimana Pria itu tinggal, dan itu membuat ia sangat gila hanya untuk memikirkan nya.


Sementara waktu kian menipis, tak ada jalan lain, akhirnya ia menghubungi no yang tadi, panggilan berdering lama sekali. Alesya hampir putus asa.


"Halo..". ucap nya. saat panggilan sudah ter-hubung.


"Ya Tuhan bagaimana ini..!" Waktu terus berlalu, sementara taksi online yang ia tumpangi masih belum sampai Alesya terjebak oleh macet.


"Pak.. Stop..!!.". Alesya langsung menyuruh supir itu untuk berhenti, netra nya melihat Antonio, taksi itu pun menepi, kepalanya nya langsung menyembul keluar setelah Alesya memberi nya ongkos.


Antonio berwajah datar, saat ia melihat Alesya lari Tergopoh-gopoh, ke arah nya. "Cepat berangkat, Adik ku dalam bahaya.." waktu nya sudah tidak banyak ia tidak tahu seberapa jauh, hunian yang miliki Pria Tirani itu , Alesya takut jika ia terlambat dirinya akan kehilangan Cecilia.


Antonio hanya melihat datar ke arah Alesya, sungguh muak ia ke Wanita ini, merepotkan dan pembangkang, kenapa tak mati saja saat di perburuan tadi.


Dan selalu begitu, Kepala Alesya di tutup saat hendak memasuki mobil. "Antonio cepat lah..". Alesya terus gelisah, ia benar-benar takut saat tiba, adiknya sudah terbujur kaku dan tak bernyawa.


"Diam lah Alesya..". Alesya bergidik. Suara Pria ini tak kalah dingin nya dengan Asher, tapi bukan Alesya namanya jika ia tak mau diam, dan terus menyuruh Pria itu terus mengemudi dengan cepat.

__ADS_1


Antonio memutar matanya jengah, ia ingat membenci mahluk bernama Wanita ini, terutama Ibu nya, Ahhh sial. Kenapa ia malah mengingat Wanita jahat itu.


Tubuh sesampai itu langsung di seret dengan paksa saat kendaraan beroda empat itu, tiba di sebuah manor.


"Tak bisa Kau lembut sedikit..." Alesya menggerutu. Dengan pandangan yang gelap ia hanya bisa terus berjalan dengan terseok-seok.


Tak ada tanggapan dari Antonio, Pria itu memang irit bicara, akan terlihat hormat hanya pada Asher saja.


Penutup kepala itu, Akhirnya di lepas. Alesya menelan saliva, Dia kembali ketempat terkutuk ini. "Tuan menunggumu..". Antonio mendorong Alesya. meskipun tidak lah kuat.


"Dimana Adik-ku Antonio.."


"Kau tahu, waktu mu sudah habis, temuilah Tuanku, atau nyawa adikmu melayang.." Antonio tidak peduli, ia melengos setelah mengatakan itu, Ia tak perlu mengkhawatirkan Wanita itu kabur, penjaga di mana-mana. Jika itu terjadi maka kepala Alesya akan berlubang saat ia menemukan nya.


"Dasar Brengsek.". Alesya mengumpati Pria itu di dalam hati, ia berbalik menuju tangga langkah nya tertuju di mana Pria gila itu berada.


"Kau terlambat.." Wajah datar itu, menyambut kedatangan Alesya, saat Wanita yang anggap murahan itu, tapi ia merindukan kehangat dari tubuhnya yang membuat ia mabuk akan nikmat nya ber- cinta.


Munafik.


"Tuan.. di mana Adik- ku.." Alesya langsung berlutut, memeluk kaki Asher, ia menangis berharap Pria itu mengasihani nya. "Bukan kah Aku sudah kembali, tolong lepas kan Cecilia Tuan.."


Asher tak peduli, mau menangis darah pun, Dia tak akan terenyuh. Hati nya memang sudah lama mati."Terlambat, Anak buah tengah menikmati tubuh adik mu itu, Apa Dia seperti dirimu Ale, tersegel dan nikmat..".


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued.


__ADS_2