Sang Pelayan Tuan Muda Kejam

Sang Pelayan Tuan Muda Kejam
Bab 40


__ADS_3

Vivian ter-gugu di tempatnya, ia menatap lamat wajah Pria tampan yang selalu mengkhawatirkan nya dalam kurun waktu yang lama.


"Aku akan bercerita tapi tidak disini..". Vivian melirik Brian sekilas. Dokter tampan itu cukup paham, padahal dirinya bukan orang asing bagi kedua nya.


Tapi ok lah, Dia mengalah, dan memberi ruang kerja dan istirahat nya untuk Vivian dan juga Antonio.


Setelah Brian keluar Vivian langsung mengunci pintu, ia berbalik dan kembali ke arah Antonio menuntun Pria itu untuk duduk di sofa.


Seolah terhipnotis Antonio menurut bahkan membiarkan Vivian duduk mengang-kang di atas kedua pahanya.


"Aku merindukan mu.." Dengan berani Wanita itu mengecup Antonio, namun Pria itu tak membalas.


Yang ada Antonio mencengkram dagu Vivian meskipun tidak kuat, namun membuat Wanita itu mendengungus kesal.


"Aku ingin ber-cinta, sudah sangat lama Aku tak merasakan nya.."Jujur nya. Tangan yang kiri menurunkan tali gaun hingga ke bawah. "Kau tak merindukan ku.."


Jemari Vivian menuntun tangan kekar Antonio untuk menyentuh da-da nya. "Jika Kau tak mau, Aku akan mencari pelampiasan lain..". Ancam nya.


"Hentikan Vian, apa kau tak malu, bersikap semurah ini..". Antonio sangat tak menyukai sifat ja- lang yang dimiliki Vivian.


"Kau jelas tahu, kenapa Aku bisa berakhir seperti ini.." Vivian mengerakan pinggul nya kedepan dan belakang seraya mengucapkan kalimat-kalimat yang sensual di telinga Pria itu.


Hingga sebuah senyumam pun terbit, sesuatu yang di bawah sana mulai bereaksi. "Stop Vivian, Aku benci kau melakukan ini.." Kedua tangan Antonio mencengkram bahu Vivian dengan kuat, ia terus berusaha untuk tidak terbujuk akan rayuan Wanita yang menyesatkan ini.


"Sebaiknya katakan apa yang terjadi selama dua tahun ini.. " Desak nya.


"Hm..." Vivian menghela nafas sudah setengah telanjang seperti ini, Antonio tidak tertarik namun benda di bawah nya tak bisa membohongi.


"Saat Aku membuka mata, yang pertama Aku lihat adalah ruangan serba putih dan yang Aku tahu itu adalah rumah sakit..". Vivian mulai bercerita, Namun percayalah pinggul nya tak kunjung diam seraya menampil wajah rayuan menggoda untuk Antonio.


"Dan Kau tahu, Aku tak ingat bagaimana Aku bisa berakhir di rawat disana, Aku tak ingat siapa jati diriku sebenarnya..". Tangan nya mulai membelai da-da bidang Antonio, membuka satu per satu kancing kemeja itu.


"Kau Amnesia..". Tebak Antonio.


Dan Vivian mengangguk membenarkan. "Setelah 2 bulan Aku mendapat perawatan, Beberapa orang asing datang, mereka membawa ku ke suatu tempat, bahkan mereka menutup kepala ku.." Dengan tangan nya bagian atas Pria itu sudah di buat polos.

__ADS_1


Sementara Antonio masih setia mendengar cerita Vivian, meskipun dengan sekuat tenaga ia menahan hasrat, jujur saja ia memiliki perasaan untuk Vivian sejak dulu, namun yang tidak ia sukai Wanita ini tak bisa setia hanya pada satu lelaki.


Wanita ini sangat gila akan hubungan yang menjurus ke arah ranjang dengan liar, atau bisa disebut seorang ja-la-ng.


"Berhenti menggerakkan pinggul mu Vivian, dan fokus lah bercerita.." Wajah Antonio sudah di buat merah, selalu saja ia kalah akan kelakuan bi-nal Wanita yang satu ini.


"Mungkin yang harus pokus itu adalah kamu Antonio, bisa kondisikan milik mu agar tidak berdiri, dan itu sangat menusuk emmmmh..." Vivian berkata itu seraya menggigit bibir, dan itu sangat sek-si dan menggoda. Sumpah demi apapun, Antonio mulai terbuai dengan permainan gila ini.


"Cukup hentikan..". Antonio memutar tubuh, ia membuat Vivian terduduk di atas sofa, sementara ia langsung berdiri seraya merapikan pakaian. "Dan berhentilah bersikap ja-lang Vivian.."


Setelah mengatakan itu ia keluar meninggalkan Vivian.


"Wah.. setelah bangkit dari kematian pun Kau tak pernah berubah..". Dokter tampan itu masuk, ia pikir sudah tidak ada orang di dalam ruangan nya, ternyata masih ada Vivian dengan tampilan sangat berantakan.


"Apa Kau tidak ingin menutup aset mu itu.." Sindirnya, benda kenyal dan sintal itu terekspos dengan bebas.


"Kenapa, Kau ingin menyentuh nya.."


"Maaf, Kau bukan selera ku..". Balasnya.


"Benarkah..". Vivian menatap lekat wajah dokter tampan itu, dengan tampilan yang masih sama, kaki jenjang nya melangkah mendekati Pria yang bersahabat dengan Tuan nya.


Sementara Wanita itu tertawa dengan puas, mengerjai pria yang sok jual mahal itu.


...----------------...


1 minggu sudah berlalu begitu saja, tak ada yang berubah dari keseharian Wanita itu, ia di kurung tampa di biarkan untuk keluar sari hunian mewah nan megah itu, hanya di ijinkan untuk berkeliling Mansion.


Dan sebuah taman yang memiliki labirin menjadi...tujuan nya kali ini. "Nona Tuan sudah kembali.." Amarta mengatakan itu dengan antusias, padahal Alesya biasa saja,,Wanita itu melihat sekilas kemudian kembali berbalik, Dirinya tak senang sama sekali.


"Aku tidak peduli Martha, Pria itu kembali atau tidak..." Acuh nya tak peduli.


"Aku hanya ingin pergi dari tempat ini__.


"Ya memang sebaiknya, Kau pergi dari sini ja-la-ng..". Suara yang ter.dengar ketus itu menginterupsi. " Lagi pula, Aku sudah kembali dan Kau tidak di butuh kan." Lanjut nya lagi dengan sangat percaya diri sekali.

__ADS_1


Alesya melirik sekilas dengan wajah datar nya, ia acuh tidak menanggapi apa yang di katar ular keket itu.


"Atau Aku akan membantu keluar dari sini, bagaimana..!?". Namun Alesya tetap saja acuh, ia pikir Vivian hanya membual.


"Jangan bicara sembarangan Vian.." Martha menginterupsi, nada nya sangat jelas dirinya tidak suka.


"Lebih kamu diam, atau Kakak membuat kamu kembali kepelatihan.."Ancam nya.


Alesya melihat secara bergantin interaksi dua Wanita ini, apa mereka bersaudara. "Jangan bilang dia Kakak mu Martha.."


"Kalau iya kenapa, apa kau tidak melihat kemiripan di antara kami.." Vivian sampai mensejajarkan wajah nya dengan Martha, sekilas kedua nya mirip.


"Ya, Tapi tida dengan kelakuan mu, tentunya..". Ucapan itu mengandung kata sindiran.


"Ok Aku tak peduli, yang jelas Kau tidak tahu bagaimana Aku menjalani hidup, namun tawaran ku untuk membantu mu, keluar dari tempat ini Aku tidak bercanda.." Vivian berucap dengan serius.


"Untung nya Kau membantu ku Apa..". Alesya cukup tertarik dengan tawaran itu, namun tetap saja ia harus hati- hati dengan Wanita yang baru ia kenal ini.


"Tak perlu kau tanya apa untung nya buat ku, yang jadi pertanyaan, Kau mau atau tidak__"


"Stop Kak, Jangan pernah berbuat yang akan membuat Tuan marah.." cegah Martha.


"Sttttt..." Vivian meletakkan jari telunjuk nya di mulut memberi kode agar adik nya itu diam tak banyak bicara. "Selama Kau diam dan tak membuka mulut, semua akan aman.."


"Bagaimana Alesya apa Kau tertarik....!?".


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be contiuned.


__ADS_2