
Di dalam pantulan cermin Alesya bisa melihat bagaimana ia di dandani sedemikian rupa, oleh tangan ahli, Dia menngetahui jika hari adalah hari pertunangan nya.
Sebenarnya Alesya meras kecewa, karna Ayah nya tak bisa datang dan Alesya lebih kecewa lagi karna Aiden sama sekali tidak memundurkan jadwaljadwal pertunangannya.
"Ayah berjanji, Di saat pesta pernikahan mu, Ayah Akan datang.." Saat tengah di dandani Alesya menyempat diri menghubungi Ayah nya yang tengah bertugas.
"iya Ayah, Aku selalu menantikan bertemu denganmu mu, kembali lah dengan selamat..". Harap nya dengan cemas.
" Baiklah, semoga Kau bisa bahagia dengan Aiden.." Ed mengucapkan do'a dengan tulus.
Alesya mengiyakan, meskipun ia tidak tahu ia merasa bahagia atau tidak, semenjak kejadian itu sikap Aiden terasa berbeda memang Dia tak pernah kasar, namun Pria itu lebih posesif lagi terhadap dirinya.
Aiden membuat ia terkurung dari orang luar, tak mengijinkan nya keluar dari Mansion bahkan semua keperluan nya sudah Dia sediakan, Alesya merasa jenuh setiap hari di kurung, bahkan ia tak memiliki teman, karna Mena yang satu-satu nya teman nya di Mansion memperlakukanmu ia begitu hormat.
"Nona, Jangan menangis bukan nya malam ini adalah malam bahagia Anda.." Seorang Wanita yang berprofesi sebagai MUA melihat kesedihan dari klien nya.
"Tidak, ini tangis bahagia.." Alesya terpaksa berbohong, tak mungkin juga ia sedih jika tersiksa di kurung seperti ini meskipun Aiden memberi nya Cinta dan kasih Sayang namun ia pun mengingkan kebebasan.
Wanita itu tersenyum, Siapa yang tidak bahagia bisa bertunangan dengan keluarga seorang Duke, banyak orang yang menginginkan posisinya, termasuk dirinya sendiri.
Tapi mengingat betapa cantik nya Klien yang akan menjadi Calon Istri Lord Aiden perbandingan nya antara langit dan bumi.
"Apa Aku harus menggunakan ini.." Alesya ingin protes kenapa harus memakai topeng segala, terus untuk apa Dia di dandani.
"Tentu saja, Karna pesta pertunangan Anda bertema pesta topeng.." Alesya menghela nafas, Aiden memang se posesif itu padanya, para pelayan saja di larang melihat nya selama lebih dari 3 detik, apa lagi masyarakat umum, Alesya sudah menduga nya.
...----------------...
"Kau tidak mengatakan jika pesta pertunangan kita adalah pesta topeng..". Alesya mengajukan Protes pada Aiden saat ia sudah selesai dengan gaun nya.
"Aku tidak ingin mereka melihat kecantikan yang kamu miliki, hanya Aku yang berhak menikmati semua keindahan yang ada pada dirimu.". Jawab Aiden. Pria itu terus memandangi wajah Alesya tampa berkedip, ia merasa sangat bangga karna Alesya adalah calon istri nya.
"Begitu pula dengan dirimu, tak ku ijin kan Kau melihat Pria lain selain diriku.." Aiden meraih tengkuk Alesya, dan memberi nya sebuah kecupan lembut.
"Aku sangat mencintaimu Alesya, Dan Kau hanya milik ku..". Ucap Aiden seraya memeluk Wanita nya, dengan sangat lama.
Sudah gila dan semakin Fosesif, semua cinta dan kasih sayang yang di berikan Aiden padanya membuat rasa aman dan nyaman nya sangat terusik, Alesya ingin bebas tak ingin di perlakukan sepert ini,karna semakin hari, Aiden membuat ia sesak hanya untuk menghirup nafas saja.
__ADS_1
Aiden menggandeng Alesya dan membawa nya ke aula pesta yang sudah di penuhi dengan tamu-tamu bangsawan nya.
Tak ada satupun yang Alesya kenal, dirinya menjadi satu-satu orang asing di saat Aiden mengobrol dengan koleganya, bahkan saat tiba di atas podium pun, melihat banyak orang yang menggunakan topeng membuat Alesya benar-benar muak.
"Selamat malam semuanya..". Ucap Aiden dengan ssnyum bahagia'nya, Dia mencium tangan Alesya di depan umum dan mengisyaratkan cinta yang begitu luar biasa untuk Alesya nya.
"Trimaksih sudah berkenan hadir di hari bahagia kami__ " Pria itu terus berpidato mengungkapkan rasa cinta untuk Alesya pada kalangan masyarakat yang datang.
"Dan malam ini Aku sangat bahagia bisa bersma dengan Wanita yang sangat Aku cintai dan juga mencintaiku bukan nya begitu Alesya.." Padahal Aiden tidak mengetahui perasaan Alesya padanya, bahkan tidak mengetahui jika Alesya tersiksa selama tinggal dengan nya.
Aiden sama sekali tak peduli, baginya cukup hanya Dia yang mencintai Alesya dan memiliki nya, untuk masalah hati Alesya sendiri itu urusan nanti.
Sementara Alesya terus menunduk, tak ada rona kebahagiaan sama sekali, bahkan di saat banyak orang pun Aiden sangat posesif padanya.
"Alesya apa Kau juga mencintaiku.." Tanya Apa karna Alesya hanya.
"Ya Aku mencintaimu.." Jawab Alesya pada Akhirnya.
Suara tepuk tangan meriah menggema di ruangan itu, saat acara inti sudah terlaksana, banyak kalangan yang begitu penasaran bagaimana rupa calon Istri dari Lord Aiden, tapi tidak untuk satu orang, Pria itu sangat hapal Siapa Wanita yang selalu di gandeng oleh Aiden begitu misterius. Namun dari tampilan luar saja sudah terlihat jika Wanit beruntung itu sangat lah cantik.
"Ku kira Kau tak hadir.." Aiden menyapa sahabat nya.
"Aku pasti hadir di hari bahagia mu kawan.." Jawab Asher, ia merangkul sahabat nya, tampa mengalihkan perhatian nya pada sosok cantik bertopeng itu.
Kedua nya mengobrol dengan akrab membicarakan bisnis hingga Wanita pujaan masing-masing.
Sementara Alesya yang melihati interaksi kedua nya terus merasakan jantung nya berdebar tidak karuan, terutama saat mendengar suara yang begitu dalam dan berat mengingat kan ia akan seseorang.
Tiba-tiba Luke datang, memberikan kabar yang tak mengenakan padanya, Aiden mau tak mau harus pergi. "Asher bisakah Kau menjaga Alesya sebentar, Aku ada ururan yang tak bisa Aku tinggal.." Aiden terasa berat meninggalkan Alesya, namun ia percaya pada Sahabat nya ini.
"Baiklah, cepat selesai kan urusan mu, Tunangan mu aman bersamaku.." Asher menepuk pundak Aiden, tak tahu saja urusan yang Aiden anggap panting itu adalah ulahnya.
"Terimakasih.." Sebelum benar-benar pergi ia memeluk Alesya dan ia tak pernah tahu jika pelukan itu adalah pelukan terakhirnya.
Jantung Alesya terus berpacu saat mendengar nama Asher yang keluar dari mulut Aiden namun ia selalu meyakinkan diri jika A'sher tak mungkin Asher yang ia kenal, karna ia tak yakin jika belum melihat wajah nya. Apa lagi Dunia ini luas banyak di luar sana yang memiliki nama yang sama.
"Lady boleh kah Aku berdansa dengan mu.." Asher mengulurkan tangan dan tidak di sangka Alesya menyambut nya.
__ADS_1
"Baik lah.." Akhirnya setelah sekian purnama Asher bisa mendengar suara itu.
Alesya tampak diam dan mengikuti kemana Asher membawa nya, tentu saja masuk lebih dalam ke aula dansa dimana banyak kalangan yang berdansa di sana.
Musik telah berganti dengan irama yang mengalun begitu lembut dengan pencahayaan yang begitu remang, menciptakan suasana yang menenangkan dan romantis.
Banyak pasangan yang menikmati momen romantis ini, mereka berpelukan bahkan berciuman.
Jantung Alesya semakin berdebar saat kelima jari nya saling berpaut, dan tangan kekar itu berada di pinggang nya.
Alesya tidak mengerti dengan perasaan nya saat ini ia alami, di depan Pria yang memiliki nama yang sama dengan Pria gila itu membuat perasaan nya tak menentu.
Mungkin kah Dia Asher yang ia kenal, dan jika iya bukankah ini sudah terlambat.
Pada akhirnya, kaki nya bergerak mengikuti alunan musik, rangkulan di pinggang nya semakin erat, namun Alesya merasakan kenyaman yang tidak bisa ia mengerti.
Pria itu seakan menghipnotis nya dengan tatapan yang begitu lembut dan ia melihat ada cinta disana, entah cinta itu untuk siapa Alesya sungguh tak peduli.
" Aku ingin melihat wajah mu Alesya.."
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued.
__ADS_1