
Tampa Rowena sadari setelah kepergian nya, Always pun keluar dari kamar, ia tidak ingin berdua dengan Serigala lapar seperti Arthur, cukup Asher yang menjamah nya seperti itu.
Hingga langkah kaki nya menuntun untuk masuk ke kamar Aiden, untuk malam ini ia terpaksa bersembunyi di kamar Pria itu setidaknya ia tidak akan di lecehkan seperti tadi, Aiden sangat baik dan menghormati nya.
Dengan mengendap Alesya berhasil masuk kedalam kamar Aiden dan tak lupa ia mengunci pintu ia takut ada orang lain yang masuk selain dirinya, dan sofa lah yang menjadi tempat tujuan nya.
Alesya menghela nafas lega, saat melihat Aiden sudah tertidur dengan pulas tak tahu saja Pria itu hanya pura-pura tidur saja.
Membaringkan tubuh nya di atas sofa, namun pandangan nya masih tertuju ke dalam potret 2 wanita yang sangat cantik, terutama Wanita yang begitu mirip dengan nya.
"Ibu.. Apa ini benar kamu.." Alesya merasa sangat yakin jika Wanita bernama Ivy Valencia ini adalah ibunya, mengingat betapa miripnya ia, hingga pada Akhirnya nya Alesya tertidur.
Aiden sejak tadi yang berjaga itu langsung beranjak dari ranjang, lalu melangkah mendekati Alesya, ke-dua tangan nya terulur untuk mengangkat tubuh Alesya dan mmemindahkan nya ke atas kasur yang empuk.
"Bermimpilah yang indah my future Wife.." Aiden membawa selimut ke atas leher, kemudian ia membawa Alesya untuk ia rengkuh dan mendarat sebuah kecupan di kening Wanita nya.
Sementara Arthur yang masih di dalam kamar Alesya sudah berteriak marah, ini semua karna Ibundanya Alesya tak jadi miliknya malam ini, sudah di pastikan Wanita itu lari, namun Arthur memutuskam untuk tidur di kamar itu.
Keadaan kamar sudah di buat redup dan waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, namun perbincangan Ibundanya dan Alesya membuat ia berpikir keras, Ia sangat tahu siapa Ivy, meskipun ia hanya melihat nya sewaktu masih kecil.
"Apa hubungannya Nyonya Ivy dengan Alesya.." Arthur terus bertanya-tanya. "Mungkin Aku harus mengambil salah satu Foto yang ada di ruangan rahasia Ayah,.." Ucap Arthur. Ia harus memastikan hal itu.
Malam semakin larut dan Arthur masih terjaga namun atensi nya melihat ke arah pintu, seseorang masuk dan ia sangat tahu jika itu Alesya karna seorang Wanita yang masuk.
Namun wangi tubuh nya sangat berbeda, hingga saat Wanita itu semakin dekat Arthur sengaja menyalakan lampu dan ia tak pernah menyangka jika Daisy yang ia lihat.
"A..Arthur.." Daisy tergagap saat melihat siapa yang ada di atas ranjang.
"Apa Kau ingin membunuh nya Daisy.." Arthur duduk dengan tenang padahal Wanita di depan nya tengah membawa pisau dapur.
__ADS_1
"Sedang apa Kau disini, bukan nya ini kamar Alesya.." Daisy menurunkan pisau nya, target nya bukan Arthur melainkan Alesya, tapi kenapa ia bisa salah masuk kamar.
"Tidak perlu tahu mengapa Aku ada disini, yang ingin Aku tanyakan untuk apa Kau membawa pisau itu kemari, Apa Putri seorang mentri ingin menjadi pembunuh malam ini.!?." Ucap Arthur seraya melihat tampilan Daisy dari atas sampai bawah, Wanita ini begitu cantik dan ia penasaran bagaimana rasanya seorang Anak Mentri pertahanan.
"Dia memaksaku melakukan nya, Dia merebut Aiden dariku.." Daisy menjawab dengan terpaksa lagi pula Arthur sudah tahu niat nya apa.
"Tapi Aku tak akan membiarkan mu menyakiti nya.." Arthur mulai menuruni ranjang, kaki nya sudah menapaki lantai dengan mata yang terus memandangi Daisy.
"C'k. jangan bilang Kau juga menginginkan nya.." Daisy memutar bola mata nya jengah, dan kali ini Ia melihat Arthur sudah berjalan ke arahnya.
"Tentu saja Aku menginginkan Dia, jauh sebelum Kakak ku bertemu dengan Nya.." Dan kali ini Arthur sudah berdiri di depan Daisy, tangan nya terulur mengambil pisau yang di pegang Wanita cantik ini, kemudian membuangnya.
"Bagaimana jika kita berkerja sama.." Arthur memandangi wajah Daisy dari dekat hingga tatapan nya jatuh pada bibir Wanita itu.
Daisy yang di pandangi seperti itu tampak biasa dan tidak takut, justru ia terpesona dengan ketampanan yang di miliki Arthur.
"Tentu saja memisahkan Aiden dari Alesya..". Ucap Arthur, bahkan tangan nya mulai turun naik mengusap permukaan kulit putih nan mulus itu hingga sebuah jari melepas sebuah kaitan yang ada di bagian atas.
" Bagaimana Kau setuju.."Ke-dua tangan Arthur sudah berada di antara kadua sisi bahu sudah siapa untuk menurun gaun malam yang di kenakan Daisy.
"Baik lah Aku setuju.." Daisy mengangguk seiring gaun nya yang melorot hingga ke lantai, hanya meninggalkan bagian segitiga yang menutupi bagian inti.
"Tubuh mu sangat indah.." Puji Arthur. kemudian ia membawa Daisy ke arah ranjang, mendorong tubuh yanh hampir tela njang itu hingga terlentang.
Mata nya menatap lapar ke arah Daisy, sementara tangan nya mulai sibuk melepaskan semua pakaian yang di kenakan hingga ke adaan Pria itu udah polos tampa sehelai benangpun.
"Wow... Milikmu sangat luar biasa apa itu bisa membuat ku menjerit.." Daisy berbaring dengan posisi yang menantang, ia mulai meremaa bagian da-da nya di depan Arthur.
"Kau meragukan ku.." Arthur sangat tidak sabar ia langsung mendekat dan menarik dengan kasar kain segitiga yang menutupi lembah kenikmatan itu Kemudian ia membuka kedua paha Daisy lebar-lebar.
__ADS_1
Dan setelah itu Daisy melengguh kenikmatan di saat lidah Arthur tengan menari di intinya, dengan ke-dua tangan yang terus meremas payu daranya.
"Oh Arthur cepat masuki Aku Ahhhhh... Aku.. tidak tahan.." Daisy terus meracau meminta untuk di masuki sementara Arthur masih bermain dengan Daisy ia sangat suka melihat nya seperti ini, jika tadi tidak ada Rowena mungkin yang ada di bawah kendali nya adalah Alesya.
"Unch Arthur Ahhhhh.. Masuki Aku.. " Dan pada Akhirnya Daisy menjerit karna mendapatkan pelepas pertamanya karna permainan lidah Arthur Wanita itu terus menelinjang seraya meremas Payu dara nya, dan kemudian Wanita itu mulai menggilla saar pusaka besar nan berotot itu mulai memasuki dirinya.
"Ku kira Aku yang pertama.." Arthur mendengus kecewa, ia selalu ingin merasakan rasa nya seorang Virgin, ia pikir Daisy bisa menjaganya, ternyata sama saja.
"Tidak Emmmmh.. Kau yang kedua.. " Katanya dengan terus mende sah nikmat, milikmya terus di pompa tampa henti.
"Siapa yang pertama.." Tanya Arthur. ia hanya penasaran saja.
"Kakak ku,. Ahhhhh ..Arthur lebih cepat lagi..". Arthur yang mendengar nya hanya bisa tersenyum meledek, meskipun ia tahu jika Daisy dan Felix adalah lah saudara tiri, tetap saja ia tak paham mengapa Daisy melakukan itu dengan kakaknya sendiri.
Dan malam itu terus berlanjut dengan suara era ngan dan leng guhan, entah berapa lama mereka melakukan itu dan Arthur terus menggempur Daisy hingga ia terus memuntahkan lahar panas nya di rahim Daisy.
.
.
.
.
.
.
To be continued.
__ADS_1