
Kesaharian Alesya tak jauh dari seorang Putri, bedanya ia menjadi tawanan rumah yang tak di ijinkan berinteraksi dengan orang luar. Itu sangat membosan kan.
Hanya sekumpulan orang-orang yang mematuhi satu Tuan yang selalu menemani, yang jelas Tuan mereka bukan-lah dirinya, meskipun Alesya di perlaku-kan layak nya Tuan rumah.
"Nona, Tuan ingin Anda menemani nya makan malam..!" Alesya tak mengatakan apa pun saat Martha memberi tahu nya, ia hanya beranjak pergi ke tempat Pria gila itu berada.
Setiap hentakan kaki, terasa berat saat melangkah Alesya bagai burung yang mendiami sangkar emas.
Saat seorang sudah duduk bergabung, Asher melihat sekilas kemudian Asher mulai menyantap hidangan yang sudah oleh juru masak. Sejak tadi ia menunggu hadir nya Wanita cantik itu.
Alesya duduk dengan canggung, ia terus melirik Pria yang selama dua hari ini mendiami nya, setelah kajadian malam itu, ada rasa bersalah yang menghinggap di hatinya, Harus kah ia menerima takdir dan memaafkan segala perlakuan Asher padanya.
"Nona Anda ingin makan apa..". Martha bertanua, sudah beberapa menit berlalu Alesya masih terlihat diam.
Alesya menghela nafas, Biasa nya Asher yang menanyakan itu, namun kali ini suara Martha yang terdengar, Alesya merasa ada yang hilang, dan Ia diam beberapa saat.
"BLUNO..!!!." Tubuh Alesya langsung terhentak kaget. Ia melamun tadi, Asher berteriak sangat marah. Ia tak paham siapa lagi yang membuat Pria gila itu naik darah.
Tak sadar kah itu karnamu Alesya.
Dengan tergopoh-gopoh, Pria yang berprofesi sebagai koki itu menghampiri Tuan nya, Dia menyeka keringat dingin saat ber-sitatap dengan wajah Tuan nya.
Bluno tidak tahu apa kesalahan nya, sampai di panggil seperti ini.
"Bluno, Apa yang kau hidangkan di atas meja, sampai Alesya ku tak mau makan HA.." Asher murka, Pria itu melempar piring berisi makanan tepat di wajah Pria paruh baya itu.
"Maaf Tuan.." Bluno tak mengerti, semua hidangan yang tersaji tidak ada masalah, semua kandungan gizi selalu ia sajikan sesuai keahliannya nya, ia bahkan sekolah mahal hanya untuk bisa membuat semua hidangan yang ada di atas meja.
Lalu ini terjadi karna seorang Wanita..!!!?
__ADS_1
Dan Semua hidangan mahal terbuang tercuma, Asher murka hanya Alesya diam karna melamun,, bukan ia tak ingin makan atau tidak berselera, hanya ada sesuatu yang lain yang mengganggu pikiran nya.
"Aku ingin makan ini, Apa Kau ingin membuang nya juga.." Alesya menyelematkan piring terakhir, jika semua hidangan yang begitu lejat terbuang percuma, ini akan membuat ia kelaparan, karna akan menunggu lama saat Bluno memasak nya lagi.
Asher menatap datar wajah Alesya, ia berbalik pergi dan membuat semua orang bisa benafas dengan lega.
"Tuan Bluno Aku minta maaf, semua makanan mu..!?". Alesya menggigit bibir nya, ia merasa bersalah, hampir semua hidangan yang terasaji indah itu sekarang berada di lantai.
"Anda tidak perlu minta maaf Nona, ini sudah menjadi pekerjaan Saya, Apa Anda ingin di masakan sesuatu Nona.?." Bluno bertanya, ia takut Nona yang sangat berpengaruh bagi emosi Tuan nya itu, ingin memakan sesuatu. Mengingat Wanita itu belum makaan sama sekali
"Tidak, sebaik nya Anda obati luka Anda Tuan Bluno.." Alesya melihat kulit yang melepuh, Asher menyiram nya dengan sup panas, apa ini karna nya.
"Trimakasih Nona.." Bluno membungkuk hormat, Dengan tatapan nanar Pria itu menatap hidangan yang terhambur di lantai bahkan kini sudah berakhir di tong sampah.
Sementara Alesya menggigit bibir, Ia masih merasa bersalah, ia makan dengan lahap dengan menu seadanya, yang di buat oleh Bluno.
Dan ketika malam itu berlalu dengan sinar matahari yang mulai menggantikan, kejadian serupa berikut nyai terjadi lagi, kali ini di kamar nya. Martha pelayan Pribadi Alesya, di seret keluar dengan paksa.
"Asher apa Kau ingin membunuh nya, cepat suruh anak buah mu berhenti, sudah ku Katakan itu bukan salah nya.." Alesya sangat murka melihat Martha di siska semacam ini.
Mendengar itu Asher bukan nya menyuruh para pengawal nya berhenti, yang ada Dia malah menyuruhnya para pengawal nya terus menyakiti Martha bahkan pelayan itu sudah lemas dan hampir mati.
Alesya terus meraung menyerukan suaranya, namun Pria itu seolah tuli, melirik ke arah nya sekalipun tidak. "Asher hentikan, Kau gila..." Alesya Mencoba menyelamatkan Martha, namun Antonio mencegah nya.
"Tenang lah Nona, Apa kau tahu nasib malang Martha karna siapa.." Antonio bersuara sangat pelan.
Alesya diam membatu, sebenarnya ada apa dengan Asher, kenapa dengan Pria gila ini. "Antonio lepas, Aku tak bisa membuat Martha mati, Kau tahu dia satu-satu nya teman di tempat ini.." Alesya menangis ia berlutut untuk memohon, namun percuma Asher tak peduli.
Ada apa dengan Pria itu, kenapa semuaa orang yang melakukan kesalahan terhadap nya menjadi seperti ini, Asher benar-benar sakit.
__ADS_1
"No...na To...long.." Martha bersuara sangat liriih, dengan mata sayu nya Martha masih berharap jika Alesya menolong nya, karna hanya Wanita-wanita itu yang bisa, menghentikan kegialaan Tuan nya.
Alesya dengan kuat menghempas tangan Antonio, ia berlari ke arah Asher. "Lepaskan Dia Aku mohon, Dia teman ku satu-satu nya.." Alesya berhambur memeluk Asher dengan erat, saat ini ia akan bertaruh dengan diri nya, apa kah Asher akan luluh, dengan Alesya yang menyerah kan diri.
Asher diam mematung ia tak menjawab perkataan Alesya, pelukan Wanita ini benar-benar langsung merubah suasana hati nya, terlihat sudut bibir itu sedikit melengkung meskipun tidak terlalu kentara.
Namun perubahan ekpresi itu di tangkap oleh Antonio, kalau saja lensa mata nya bisa menyimpan sebuah Video mungkin ia akan nonton bersama dengan para pembaca.
Ini jelas adalah salah satu ke ajaiban Dunia cinta.
"Lepas kan Dia.." Itu suara Antonio. seprti yang sudah di jelas kan, Keajaiban pun datang, bahkan Asher tak peduli lagi bagaimana nasib pelayan itu.
Asher tampak diam, ia masih terkejut dengan apa yang di lakukan Alesya dan mata itu tampak berbeda saat wajah cantik itu memenuhi penglihatan nya.
Lalu detik berikut nya tubuh Alesya sudah melayang,, Asher memangku nya ala bridal style dan kaki nya melangkah naik menuju anak tangga hingga tiba di lantai atas.
Antonio dan para pelayann mencoba untuk terus menahan ekpresi antara senang dan tidak percaya.
Pintu di buka dan di tutup oleh seorang pelayan, Akhirnya akan ada kedamaian di rumah ini, Pelayan itu turun dengan raut wajah bahagia.
Tuan buas nya, telah bertemu dengan sang pawang.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.To be continued..