Sang Pelayan Tuan Muda Kejam

Sang Pelayan Tuan Muda Kejam
Bab 52.


__ADS_3

Kata-kata itu terdengar jelas di telinga Alesya, namun ia tetap pergi seolah-olah ia tak mendengar nya, setelah itu ia keluar dari kamar Aiden dan kembali ke kamar nya untuk untuk mandi kembali dan mengganti pakaian nya yang basah kuyup.


Kamar nya bersebelahan dengan Aiden jadi tidak jauh dalam beberapa puluh menit ia sudah kembali rapi dengan rambut yang sudah di sisir kali ini ia tak mengikat rambut nya karna masih basah.


Saat ia hendak keluar kamar ia melihat Madame Anet sudah berdiri di pintu kamar nya dengan raut wajah yang memerah, Wanita paruh baya itu terlihat tampak marah.


"Kau meniggalkan Tuan muda saat sedang mandi.." Madame Anet mencecar nya dengan nada tinggi.


"Aku...". Alesya tergagap, ia memang meninggalkan Aiden saat di kamar mandi, salah Pria itu sendiri kenapa berani mencium nya.


"Sudah Aku bilang jika Tuan meminta mu, maka lakukan, Kau tahu akibatnya Tuan muda jatuh dari kamar mandi.." Marah nya lagi.


Alesya tak menanggapi kemarahan Madame Anet ia langsung bergegas keluar kamar, dengan berlari ia sudah tiba di kamar Aiden.


Sementara Madame Anet sebisa mungkin menahan diri untuk tidak tersenyum, ia merasa berdosa memarahi Wanita malang itu, dengan terpaksa Bersandiwara seperti ini.


"Tuan maaf kan Saya..". Alesya sudah berlutut di bawah ranjang, saat ini ada dokter keluarga yang membalut pergelangan Pria tampan itu.


Padahal ia hanya meniggalkan Pria itu selama dua puluh menit, kenapa di saat ia pergi meniggalkan Tuan nya karna kesal, Pria itu malah terluka.


"Tak ada luka fatal yang Tuan muda alami, semua baik-baik saja...".. Ucap sang Dokter bernama Andrews.


"Dan untuk kamu, sebaiknya jangan biarkan Tuan muda mandi sendiri.." Dokter Andrews pun ikut memaharahi Alesya.


Alesya merasa bersalah dan menangis seketika. "Lord Aiden tolong maaf kan kelalaian Saya, Saya memang pantas di hukum.." Alesya terus menunduk seraya menyeka air mata nya.


Aiden memandangi Anet dan juga Dokter Andrew, Pria itu menyuruh ke-dua nya untuk segera keluar dan meninggal dirinya dan Alesya berdua.


Sementara Madame Anet dan Dokter Andrews hanya bisa menghela nafas pasrah, sebenarnya mereka merasa bersalah karena telah membohongi Wanita malang ini, pada Akhirnya nya mereka pergi juga.


"Aku rasa Tuan muda Aiden sangat menyukai pelayan itu, baru kali aku melihat nya bertingkah ke kanakan seperti ini.." Seru Dokter Andrews saat sudah berada di luar.


"Aku pun berpikir sama, Alesya memang Wanita yang sangat cantik, tak heran jika Tuan muda melakukan trik kotor seperti itu.." Balas Anet. dan keduanya hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian berlalu pergi dari lantai tiga.


Sementara Alesya ia masih berlutut dan terus mengucap kan maaf. "Berhentilah berlutut, dan kemarilah.." Suara Asher menginterupsi tangisan Alesya.

__ADS_1


Alesya mencoba berdiri, namun ia masih menunduk karna masih bersalah. "Kemarilah Alesya.." Asher menepuk sisi ranjang nya. "Dan jangan membantah, atau Aku tidak akan memaafkan mu.." Lanjut nya dengan suara yang datar, ia berusaha menjadi Tuan muda dingin dan arogan seperti nya hanya dengan begitu ia bisa menaklukkan Alesya.


Dan pada Akhirnya Wanita itu menurut ia duduk tepat di samping Aiden yang terus memandangi nya, hingga tangan itu terulur untuk mengelus rambutnya.


"Matamu terlihat bengkak Alesya.." Dan suara itu kembali mengalun lembut, ia tidak bisa berkata dingin terhadap Alesya.


Dan apa yang di lakukan Pria itu selanjutnya, adalah mencium kedua mata Alesya yang bengkak karna menangis dan itu karna ulah nya.


"Berhentilah menangis, Aku tak tega melihatmu seperti itu.." Tangan kekar itu masih mengelus rambut Alesya. "Kau semakin terlihat cantik saat rambutmu tergerai bebas seperti ini.." Pujinya.


"Tuan tolong maaf kan Saya.." Meskipun Alesya masih bingung dengan perlakuan Aiden yang aneh ini, ia tetap harus meminta maaf karna sudah lalai dalam tugasnya.


"Kesalahan mu sangat fatal untuk seorang pelayan Pribadi, harus kah Aku memaafkan mu".


"Lalu Aku akan di pecat.." Alesya kembali menunduk, jika ia di pecat dari sini kemungkinan ia akan di usir, haruskah ia kembali ke negara nya, tapi ia tak mau bertemu dengan Asher.


"Kau mau di pecat.!?." Aiden malah bertanya balik.


"Jangan Tuan, jangan pecat Saya.." Alesya memohon untuk itu.


"Apa jaminan nya, kau bekerja tidak benar, dan meninggalkan Tuan mu saat sedang butuh bantuan mu, bukan nya sudah jelas tugas mu adalah melayani Aku.." Aiden berkata dengan tegas dengan nada yang datar. seolah-olah ia kecewa dengan kinerja Alesya.Tapi kenyataan nya, ia ingin tertawa terbahak-bahak saat ini


"Sudah Aku bilang, Jika sedang berbicara lihat lawan bicara mu, apa segitunya Kau tidak menyukai ku.." Lagi-lagi Aiden mengangkat dagu Alesya untuk melihat ke arah nya.


"Maaf Tuan.."


"Panggil Aku Aiden saat kita sedang berdua.." Titah nya.


"Kenapa Saya harus memanggil Anda seperti itu..". Tanya nya dengan polos.


"Karna mulai saat berdua Kau bukan pelayan Pribadi ku__.


"Bukan nya Tuan bilang tak ingin memecat Saya.." Alesya langsung menyela padahal Pria itu belum menyelesaikan kalimatnya.


Aiden sebisa mungkin untuk tidak tersenyum, tingkah Alesya sangat imut baginya. "Apa Kau setakut itu untuk di pecat, dan satu lagi jangan menyela saat orang lain tengah berbicara, itu tidak baik."

__ADS_1


"Maaf Tuan, Saya tidak bermaksud..". Detik berikut nya, pintu di ketuk dari luar.


"Tuan muda, Yang mulia Duke dan Duchess Rowena sudah tiba, beliau menunggu Anda.." Ucap Madame Anet.


Aiden mendengus kesal, kenapa orang Tuanya datang saat tidak tepat, tak tahukan jika Putranya ingin berduaan dengan Seorang Wanita.


"Alesya tolong bantu Aku naik ke kursi roda.." Aiden sudah siap dengan posisi nya, ia merentang kan tangan dan bersiap mendapat pelukan dari Alesya.


Dan siapa sangka saat tubuh Aiden sudah berpindah, Pria itu tak melepaskan pelukan nya. "Jadilah Wanita ku Alesya.." Kata itu kembali keluar dari mulut nya.


"Tuan Anda.." Alesya mencoba menetralisir apa yang ia dengar baru saja, dan lebih mengejutkan Pria itu berdiri, tampa melepaskan pelukan nya.


"Jangan bilang ke siapa pun, jika Kau melihat nya,.." Aiden berkata tepat di telinga Alesya, ia menyapingkan rambut yang menghalanginya, sebenernya Aiden sudah lama sembuh, dan ia terus merahasiakan ini dari keluarga nya, terutama Adiknya Arthur.


"Tuan Anda.." Alesya merasa ini tidak nyata, Tuan muda yang di ketahui lumpuh ternyata bisa berdiri.


"Kau tahu, Kau orang pertama yang melihat Aku berdiri tegak seperti ini, Kau tahu kenapa Alesya.." Kini Aiden menatap mata cantik milik Alesya.


Dan dengan lugunya, Wanita itu menggeleng. "Karna Kau orang yang spesial, entah kenapa Aku tak ingin kehilangan mu, dan ingin memilikimu, dan menjadikan kan kamu Istri ku.." Ucap Aiden dengan tulus.


Tangan nya terus turun naik membelai rambut Alesya, hingga sebuah kecupan mendarat di kening Wanita itu.


"Maaf Tuan, Saya hanya seorang pelayan tidak pantas bagi Anda untuk menjadikan Saya sebagai Istri.." Jawab Alesya.


"Kau bukan pelayan, Dan Kau pantas bersanding denganku, bukan kah di negara mu, Kau adalah seorang anak jendral..". Alesya di buat bungkam, ia tak mengerti kenapa Pria ini bisa tahu.


"Kenapa Tuan bisa tahu.."


.


.


.


.

__ADS_1


.


.To be continued.


__ADS_2