
Wanita yang di ketahui telah tiada, kini telah kembali tampa cacat, ini sudah hampir 2 tahun berlalu dari kejadian itu.
"Tuan Apa kau tidak mengharap kan kehadiran ku.." Wajah Vivian langsung sedih, sejak tadi ia memeluk dan mencium Asher, namun Pria itu tak membalas nya.
Biasa nya saat dulu Asher akan membalas nya dan kedua nya akan berakhir di ranjang dengan peluh yang membasahi seluruh tubuh.
"Tidak, bukan seperti itu Vian, hanya saja Aku tak menyangka jika Kau masih hidup.." Ucap Asher dengan jujur. Selama ini ia telah berpikir jika Vivian telah benar-benar pergi meninggalkan nya, bahkan segala amarah yang di tumpah-kan pada Edmond pun, semua karena ia telah kehilangan Vivian, bahkan apa yang ia lakukan pada Alesya, masih menyangkut hal yang sama.
Apa setelah ini ia akan membebaskan Alesya, karna Vivian telah kembali.
"Apa perlu Aku mengingat kan semua ini di ranjang, untuk memberitahu Tuan, bahwa Aku adalah Vivian, ini sudah sangat lama Tuan ku, Aku rindu." Wanita itu tersenyum nakal dan tidak malu sama sekali membicarakan hal frontal seperti itu di depan orang banyak. Apa lagi Pria di depan nya ini dulu sudah candu akan service nya di atas ranjang.
Alesya mendengar itu semua, secara tak sadar ia mengepal tangan melihat mesra dan frontal nya Wanita itu. 'Dasar ja---la----ng'
"Tuan Dia Siapa, Apa Dia pengganti ku..?" Vivian melirik ke arah Alesya, ada wajah baru di tempat ini, pakaian yang di kenakan adalah brand ternama dan Dia sangat cantik dan lebih menjengkelkan nya, Dia lebih cantik dari dirinya, sudah jelas Dia bukan pelayan di rumah ini.
"Dia bukan siapa-siapa, dan juga bukan pengganti mu Vivian.." Jelas Asher dan membuat Vivian mengembalikan senyum cantik nya.
"Apa Tuan tak merindukan ku.." Lagi-lagi Vivian mengecup bibir Asher.
Asher tak menjawab, dan Dia melihat Alesya masih diam seperti orang bodoh. "Martha bawa Dia ke-kamar nya.. ". Titah nya.
"Baik Tuan.."
"Vivian, ikut Aku ke ruangan ku.." Asher langsung menarik tangan Vivian untuk ikut dengan nya, dan semua itu Alesya melihat nya, dengan wajah kesal ia mengikuti langkah Martha hingga masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu tahu Siapa Vivian itu..". Tanya Alesya mengejut kan Martha, ia pikir Alesya tidak akan terlalu peduli, atau malah akan senang dengan begitu keinginan nya untuk pergi dari tempat ini akan terkabul kan. Bukan nya itu bagus, Alesya bisa terbebas dan kembali menjalani kehidupan nya dengan normal.
"Ya saya tahu, Vivian itu adalah asisten Pribadi nya Tuan Asher Nona, dan dulu nya Dia sangat dekat dan sangat di sayangi oleh Alm. Nyonya.." Jelas Martha.
"Benarkah... Lalu kemana Dia selama ini.." Dari nada bicaranya, sudah jelas Alesya tak suka dengan kehadiran Vivian, mungkinkah Wanita itu cemburu. Sudah jelas tidak pikir Martha. ia tahu seberapa keras dan benci nya Alesya pada Tuan nya.
"Menurut kabar, 2 tahun lalu Vivian terlibat pertikaian dengan musuh Tuan Asher melibat kan aparat polisi, dan Vivian sendiri terbunuh dengan tubuhnya terbakar habis.."
__ADS_1
"Jika Dia mati dan terbakar kenapa Dia datang dengan wajah cantik tampa cacat Martha, kenapa tak datang dengan wujud hantu misal nya, bukannya itu tak masuk akal, apa mungkin Dia mata-mata yang menyamar.."
Oh Alesya apa Kai lupa dengan kekuatan uang, wujud buruk rupa yang katanya lebih seram dari hanti bisa berubah menjadi spek bidadari, asalkan uang mu cukup.
Martha diam, Alesya berkata ada benar nya, namun Martha tak berani berucap tampa adanya bukti, biar itu menjadi urusan Tuan nya.
"Martha apa kau berpikir sama dengan ku.." Alesya bertanya lagi, karena Martha masih diam tak menjawab nya.
"Entah lah Nona, Saya tidak terlalu yakin untuk itu lebih baik kita tak usah ikut campur urusan Tuan, karena Tuan tidak menyukai nya.." Alesya menghela nafas, Ada apa dengan nya, apa yang di katakan Martha memang benar, tak perlu untuk ikut campur urusan Pria gila itu.
Lalu kenapa Dia ingin sekali tahu.
"Nona bukan nya ini adalah kabar baik buat Anda, Tuan sudah mendapatkan mainan nya kembali, bukan nya dengan begitu Anda bisa terbebas dari Tuan.." Martha berbinar saat mengatakan itu, ia tahu bagaimana menderita nya Alesya selama di Mansion ini.
"Hah...". Alesya malah bingung di tanya seperti itu, ia tak tahu kenapa dirinya tak senang sama sekali, yang katanya ini adalah kabar baik untuk nya. Dia memang sudah sangat menderita selama ini, tapi kenapa untuk pergi begitu berat, apalagi Alesya hanya mainan bagi Pria itu.
Dan yang di katakan Martha memang benar ini adalah kabar baik, Ia akan cepat terbebas karena Asher mendapatkan mainan nya lagi, harus nya ia senang kan.!?. Ya.. Dia harus senang, Dia akan terbebas dan menjalani kehidupan yang semestinya.
Melihat Alesya seperti itu, Martha hanya bisa mengulum senyum. "Baik lah Nona, Saya tidak akan mengganggu Anda lagi, beristirahat lah, nanti Saya akan kembali untuk mengantar makan malam..". Martha membungkuk dan pamit undur diri.
Alesya mengehela nafas panjang, kenapa dengan dirinya nya, kenapa ia tak suka melihat kedekatannya Asher dan juga Vivian, apa lagi saat Wanita itu datang langsung memeluk di tambah mengecup, dan sial nya Asher hanya diam saja.
Akhirnya Alesya memilih mencari udara segar, suasana hati nya benar-benar buruk. dan tempat yang ia tuju adalah balkon, kamar nya dan kamar Asher bersebelahan bahkan balkon mereka pun sama.
Dan saat tiba ia menciun asap rokok, ssaat itu ia melihat ada Asher di sana dengan cerutunya. "Bukan nya tadi sudah mau pergi..". Alesya bermonolog sendiri.
"Tuan udara disini sangat dingin.." Seorang Wanita cantik memberikan Pria itu mantel. Alesya memutar bola mata nya jengah saat melihat itu.
"Aku tak mau jika Tuan sampai sakit.." Alesya rasanya ingin muntah, mendengar nada manja itu.
"Sudah lama sekali tidak ada seseorang yang memperhatikan Aku, Vivian. Kau tak pernah berubah masih sama seperti dulu.." Dan saat ini Asher yang berbicara.
Alesya merapatkan tubuh nya di dinding, entah kegilaan apa yang ia pikiran hingga memutuskan untuk menguping.
__ADS_1
"Tuan, Kau pun tahu bagaimana perasaan ku terhadap mu, Aku hanya setia dan selalu .mencintaimu.." iuh... Alesya benar-benar ingin muntah sekarang juga, kenapa mulut Wanita itu begitu manis.
"Namun penjelasan mu tadi, Aku masih tidak percaya, Aku melihat tubuh mu sendiri terbakar dan itu benar-benar adalah kamu.." Dari yang Alesya dengar Pria itu tak percaya jika yang ada di depan nya itu adalah Vivian.
Namun interaksi kedua sangat terbuka bahkan Pria itu sampai bicara panjang lebar sedang kan dengan nya, Alesya sungguh tak bisa berkata-kata, Vivian memang spesial.
"Haruskah Aku melompat dari sini agar Anda percaya, Aku bukan mata-mata Tuan, asal kan Tuan tahu bagaimana susah nya aku kembali.." Vivian menangis, bahkan Wanita itu sudah nekat mendekati pagar pembatas balkon.
"Jangan gila Vivian.." Asher menarik Wanita cantik itu, hingga pelukan itu terjadi.
"Tuan kenapa..?, Tuan tidak membalas ciuman dariku___"
"Nona makan malam Anda sudah siap.." Martha memanggilnya dari dalam kamar.
"IYA..." Alesya sengaja berteriak, ia sudah benar-benar jengkel mendengar suara mereka yang membuat ia meradang.
"Tuan Apa Wanita itu tinggal di sebelah kamar Anda.". Vivian mendelik tak suka, dulu saja ia tidak di perilaku seperti itu.
"Kenapa, Kau ingin tinggal disana.." Tanya Asher.
"Bolehkah.."
Ahhh sudah, Alesya sudah benar-benar muak mendengar nya, mungkin malam ini ia harus berkemas untuk besok pindah kamar, ia berbalik dengan wajah kesal sembari menghentakan kaki.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be Continued.