Sang Pelayan Tuan Muda Kejam

Sang Pelayan Tuan Muda Kejam
Bab 57.


__ADS_3

Tenggorokan nya terasa kering, Alesya terus berteriak meminta pertolongan bahkan tangan terus menggedor pintu, berharap penghuni yang lain akan datang dan mendengar pertolongan nya.


"Berteriak lah sesukamu, namun itu tidak berguna sama sekali, suaramu akan teredam oleh ruangan in, jangan bilang Kau tidak tahu jika kamar ini kedap suara..". Arthur tersenyum smirk.


Sebenarnya Arthur tidak ingin membuat Alesya ketakutan seperti ini, namun mau bagaimana lagi, saingannya bukan hanya Asher saja namun Kakak nya pun sekarang menjadi ancaman.


Belum di luar sana banyak Pria yang mendambakan Alesya, dengan terpaksa ia harus membuat Alesya berada di sisinya, dan ia tak peduli dengan kesediaanya Alesya untuk bersama nya, mau atau tidak Arthur akan menjadikan Wanita yang terus meraung meminta tolong ini milik nya.


"Tolong..." Alesya terus berteriak seraya menggedor pintu, hingga detik berikut nya mulut nya di bungkam, Arthur mencium nya dengan paksa.


"Mmmmhhh..." Alesya terus menggeleng mencoba melepas diri dari Pria yang terus melahap bibir nya dengan rakus.


Namun tak seinci pun Arthur berpindah, Pria itu terus melu matnya dengan tangan yang mencengkram tengkuk leher nya.


Alesya kembali menangis, lagi-lagi ia mendapat penghinaan seperti ini, namun Alesya tak diam saja ia terus memberontak untuk lepas dari Pria ini.


Hingga tangan kekar nya meremas bagian da da nya secara bergantian, Alesya masih berusaha untuk melepaskan diri.


'Tuhan Tolong Aku'. Jerit Alesya di dalam hatinya


Dan setelah itu terdengar bunyi ketukan pintu dari arah luar, namun tak menghentikan bibir Arthur yang masih melu-mat nya.


"Alesya ini Saya, Apa Kau sudah tidur..". Arthur terdiam sejenak, namun ia terus membungkam mulut Alesya agar tidak bersuara, Ia sangat hapal suara itu.


"Untuk apa Ibunda datang kemari.."Arthur merasa sangat kesal, kenapa Rowena harus datang di waktu yang tidak tepat, di saat ia ingin membuat Alesya menjadi milik nya malam ini.


"Jadilah Wanita pintar dan jangan katakan kejadian malam ini.." Arthur berucap dengan nada yang mengancam, Pria ini tak lebih berbeda dengan Asher, menakutkan.


Alesya berusaha keras untuk menelan salivanya, kemudian ia mengangguk patuh sementara Duchess Rowena masih berusaha mengetuk pintu, Alesya sangat berterima kasih untuk itu, dirinya terselamatkan.


Kemudian Arthur melepas bekapan nya, Pria pergi untuk menyembunyikan dirinya di lemari pakaian milik Alesya, sementara Wanita ini terus menghapus jejak basah setelah menangis tadi.


Pintu pun terbuka, Wanita paruh baya yang tentunya masih sangat cantik menyapa Alesya dengan tersenyum.


"Selamat malam Duchess.." Alesya menekuk lutut setengah setelah membuka pintu lebar-lebar.

__ADS_1


"Ada yang ingin Aku bicarakan, boleh kah Aku masuk.." Rowena terus menelisik wajah Alesya yang begitu sembab seperti habis menangis, ingat kan Dia untuk menanyakan nya nanti.


Namun Rowena hanya ingin melihat wajah Alesya dengan seksama, Wanita cantik pilhan Putranya ini memiliki wajah yang sangat tidak asing.


"Tentu saja Duchess.." Alesya pindah ke samping dan Rowena berjalan melewatinya, kemudian Wanita itu memilih duduk di sofa.


"Kemarilah dan tutup pintu nya.." Perintah Rowena.


Alesya mengagguk patuh melaksanakan perintah Rowena, kemudian ia duduk tak jauh dari Duchess yang masih menatap nya dengan intens, Alesya tidak menyukai itu.


"Jangan takut, kedatangan ku kamari bukan untuk menentang mu bersama Putraku, Aku sudah merestui kalian jika Kau lupa.." Melihat Alesya yang begitu tegang Rowena mulai berbicara dengan lebih kelembutan, ia tidak ingin terlihat menakutkan di depan calon menantu nya


"Trimakasih Duchess.." Alesya menghargai perkataan Rowena, meskipun sebenarnya ia tak berharap menjadi bagian keluarga bangsawan ini, tapi bagaimana keadaan nya nanti Alesya akan berusaha untuk mengikuti arus yang tengah ia lalui.


"Kemarilah lebih dekat, Aku ingin lebih jelas melihat mu.." Rowena menepuk sisi sopa di sebelah nya, cukup lebar dan bisa muat 3 orang dewasa di sana.


Alesya patuh, dan berpindah duduk meskipun ia begitu gugup namun sebisa mungkin ia mencoba untuk tenang.


"Kau sangat cantik, pantas saja Putraku berani membangkang kepada Ibundanya.." Entah ini hinaan atau pujian namun bagi Alesya kecantikan seakan menjadi kutukan baginya, ia harus di kelilingi Pria berkuasa sampai ia harus melarikan diri.


"Angkat lah kepalamu, Kau adalah Wanita yang di pilih Putraku, dan besok jangan kenakan seragam pelayan ini.." Titah Rowena.


"Baik Your Grace.." Rowena tersenyum mendengar itu, Alesya memang bukan pelayan biasa, Wanita ini tak hanya cantik namun juga berpendidikan.


"Bolehkah Aku tahu nama Ibumu.." Kata Rowena, Dirinya belum sempat menyelidiki asal usul calon menantu nya, hanya tahu jika Alesya adalah anak seorang jendral.


"Nama Ibu Saya Clara Florence..." Jawab Alesya. Namun respon Rowena seakan kecewa pada-Nya.


"Apa mungkin memiliki Ibu yang lain, misalkan" Jelas Rowena membingungkan Alesya, apa Wanita paruh baya ini sudah mengetahui jika Alesya bukan anak kandung.


"Apa Yang mulia maksud.!?" Tanya Alesya.


"Oh maaf, hanya saja wajah mu begitu mirip dengan Sahabat ku yang telah menghilangkan 26 tahun yang lalu, dan saat mendengar nama Ibumu, ternyata bukan, Kau paham kan apa maksudku.." Jelas Rowena.


Alesya lalu mengangguk paham ia mengerti maksud dari perkataan Rowena. "Sebenarnya Saya bukan lah Anak kandung mereka, dan Saya baru mengetahui nya belum lama ini.." jelas Alesya membuat Rowena terkejut.

__ADS_1


"Karna itu Kau lari dari rumah karna sudah mengetahui siapa orang Tuamu.." tebak Rowena.


"Maksud Yang mulia apa, Saya tidak paham." alasan Alesya lari adalah semua karna Asher.


Lalu Rowena mengeluarkan sebut foto dan memberikan nya pada Alesya, "Kau bisa lihat, dengan siapa Dia sangat mirip.." Mulut Alesya menganga tak percaya, kenapa potret yang di berikan Rowena terlihat sama persis dengan nya.


"Yang Mulia ini, Siapa..!?.." Alesya masih sangat terkejut hingga tangan nya bergetar, di foto itu ada dus orang Wanita cantik dan ia kenal dengan Wanita yang satunya yaitu Rowena.


"Kau ingin menanyakan bagaimana Kau memiliki rupa yang sama dengan sahabat ku.." Alesya mengangguk kemiripan nya hampir mendekati 85% Alesya seakan melihat dirinya di dalam potret itu.


"Yang Mulia Duchess boleh kah Aku menemuinya, karna sejujur nya Ayahku belum memberitahu ku siapa orang Tua ku yang sebenarnya.." Rowena diam, berarti Alesya tidak tahu siapa orang Tua nya yang asli, padahal tadi Ia sudah bilang jika sahabatnya sudah sangat lama menghilang.


"Dia adalah Ivy Valencia sahabatku, dan Dia telah menghilang 26 tahun yang lalu.." Dan Alesya yang mendengar nya menghilang nafas kecewa.


"Jika kejadian nya sudah seperti ini, Aku harus mengundang Ayah mu kemari Aku yakin Dia mengenal siapa Ivy.." Rowena merasa yakin jika Alesya ada sangkut pautnya dengan Ivy sahabat nya.


Dari awal pertemuan nya dengan Alesya, Rowena sudah merasa ada yang janggal, saat melihat rupa Alesya yang mengingatkan tentang sahabat dan mencoba memastikan melalui Potret yang ia simpan membandingkan kan nya dengan Alesya.


Dan Mereka sangat mirip. "Jika Kau tak memiliki hubungan darah dengan kedua orang Tuamu, maka kemungkinan besar Kau memiliki hubungan dengan Ivy, dan Kita akan tahu saat Ayah mu datang berkunjung, dan juga membicarakan hubungan Kau dengar Putraku, bagaimana mana keluraga kami harus melamarmu.." jelas Rowena panjang lebar.


Kemudian Wanita paruh baya itu berdiri, ini sudah larut malam, dirinya pun sudah mengutarakan apa yang ingin ia ucapkan, meskipun kebenarannya belum terungkap.


"Beristirahat lah..".


.


.


.


.


.


.To be Continued.

__ADS_1


__ADS_2