Sang Pelayan Tuan Muda Kejam

Sang Pelayan Tuan Muda Kejam
Bab 19


__ADS_3

Untung lah Asher tiba tepat waktu di lokasi, terlambat sedetik saja, nyawa Antonio akan melayang.


Secara teori tim Antonio kalah jumlah dengan pihak musuh, andai Asher tak datang mungkin ini akan menjadi kehilangan yang amat besar.


Tak hanya barang yang ada di container yang akan hilang, namun ia pun akan kehilangan bawahan yang setia.


"Hentikan tingkah bodoh mu itu, Pak Tua.." Tepat sebelum speed boat itu melesat, Asher melayangkan sebuah tembakan ke kaki kiri Rever, Pria paruh baya itu menjerit. Kaki nya telah bersarang sebuah peluru.


"Tuan Asher, Aku mohon ampunilah nyawa ku.." Dengan menahan sakit,, Rever berlutut di sisi kemudi, ia mengemis untuk hidup nya.


"Tak segampang itu, Kau telah mengacaukan bisnis ku Rever, maka bersiap lah untuk mati.." Senjata sudah di bawa naik kembali, bukan Asher namanya jika, Ia mengampuni nyawa musuh nya.


.


Rever menatap tajam ke arah Asher, Pria baya itu sudah tahu jika diri-Nya tak akan lolos dari kematian, karna dengan memohon pun percuma. Pria itu tak akan melepas kan nyawa nya begitu saja, dan ini akan berakhir jika salah satu di antara mereka ada yang mati.


"Asher, Putraku tak akan diam saja, Dia akan membalas dendam atas kematian ku..". Rever mengeluarkan sebuah ancaman, tentu saja itu bukan omong kosong, Putra nya Melvin pasti menuntut balas atas kematian Ayah nya.


"Jadi, Ini kata-kata terakhir mu, Rever.." Detik selanjutnya suara tembakan terdengar, kepala Pria baya itu meledak, Asher menembak nya beberapa kali.


Namun tak Asher sadari, Jika Rever tidak berniat membawa dirinya mati sendirian. "ANTONIO LOMPAT...!!!" Asher berteriak panik saat melihat sebuah granat terlepas dari tangan Rever.


...BYUUURRRR...


...BOOOOOMM...


...BOOOOOOMMM...


Ledakan maha dasyat menggema, dan menimbulkan kepanikan bagi masyarakat sekitar, Tubuh Rever ikut hancur bersamaan dengan meledak nya sebuah granat, serpihan kapal pun berhamburan di sertai api.


"Tuan Anda baik-baik saja.." Antonio berenang mendekati Asher, kedua nya melompat ke dalam air tepat sebelum Granat itu meledak.

__ADS_1


Asher menggangguk, tak ada luka yang fatal yang ia dapat, hanya sedikit memar di wajah tampan nya akibat gelombang kejut dan serpihan kapal yang berani melesat ke arah nya akibat dari ledakan tadi.


Asher dan Antonio mulai menyelam, banyak masyarakat yang mulai berdatangan dan sebentar lagi akan ada pihak polisi yang akan meninjau lokasi.


Cukup jauh ia dan asisten nya berenang menjauhi TKP, hingga sebuah tangan terulur menyodorkan bantuan saat mereka tiba di tepian, itu adalah anak buah Asher.


Berdiri di tepian Asher melihat kerumunan manusia yang terlalu jauh dari tempat nya, tak ada penyesalan atau takut sekali pun, ia berbalik berniat untuk pergi.


"Kalian sudah mengaman-kan barang nya.." Asher bertanya seraya menyugar rambut nya kebelakang, Pria itu terlihat sangat tampan meskipun ada sedikit luka di wajah.


"Kami sudah meletakkan nya di tempat yang aman Tuan..". Jelas nya.


" Bagus.. ". Pria itu menepuk bahu, Asher memang sudah terbiasa menghadapi hal yang seperti ini, di hadap kan antara hidup dan mati.


Asher melengos meninggal kan Dermaga yang sudah di penuhi aparat dan juga masyarakat itu.


"Ingat hilangkan semua bukti kejadian hari ini, paham..!!!". Sebelum mengikuti langkah Tuan nya, Antonio memberi perintah.


"Baik Tuan.."


Hari berlalu begitu saja, semenjak Alesya sadar Asher tak pernah berada di samping Wanita itu, tak lagi menunggu siang malam bahkan tertidur di atas kursi seraya menggenggam tangan.


Asher kembali ke negara nya, melanjut kan semua pekerjaan yang tertunda, Jangan harap Alesya akan merindu kan Pria itu, semua sikap romantis Asher menurut nya hanya bualan, atau cerita sembarangan yang di buat Ae-ri saat ia menemani-nya.


Menurut nya semua itu mustahil, seorang Pria berdarah dingin yang tak segan membunuh bahkan menyiksa-nya bersikap seperti itu.


"Dokter bilang, kondisi mu sudah sangat baik, tidak terasa ya, Kau di sini sudah satu minggu, Aku pasti akan merindukan ma Ale..". Seperti nya Ae-ri tengah melakukan pemeriksaan terakhir nya, mengingat kondisi Alesya sudah baik dan hari ini memungkinkan Dia akan pulang.


" Tapi sejujur-nya Aku tidak senang Ae-ri. Jika boleh Aku memilih, Aku ingin pergi sejauh mungkin tampa ada yang mengenali.." Seputus asakah Alesya saat ini, sejujur-nya ia merasa bingung untuk menata kehidupan nya kembali.


Alesya tidak tahu harus memulai nya dari mana, sedangkan tak ada tempat untuk kembali, semua orang se-akan tak menginginkan nya, sudah selama ini pun sang Ayah tak mencari atau sekedar bertanya kabar.

__ADS_1


"Hemmmp.." Ae-ri menghela nafas berat, selama Alesya di rawat disini, Wanita cantik itu menceritakan kisah nya, cukup tragis dan memilukan.


Jujur saja Ae-ri sempat memuji bahkan merasa iri jika berada di posisi Alesya, tapi setelah mengetahui cerita yang sebenarnya. Kebencian muncul dari hati nya, Wanita cantik berusia 27 tahun itu, mengutuk Asher dengan segala umpatan yang ada.


Pria itu pantas mati dengan kejam, dan sial nya Dia sangat tampan, Bahkan Ae-ri jatuh cinta pada awal pertemuan nya saat Pria itu turun dari pesawat, dengan wajah datar dan karisma yang mendominasi.


"Tapi menurut ku, Kau bisa membalas dendam Alesya, Kau tahu semua yang aku ceritakan padamu, itu bukanlah omong kosong Alesya, Yang aku lihat Dia sangat peduli padamu." Ae-ri sangat yakin akan hal itu, jika Asher mencintai Alesya.


"Lalu.." Alesya menatap Ae-ri dengan serius, apakah ia bisa membalas dendam pada Pria Tiran itu, namun belum sempat Ae-ri menjawab, Antonio datang di ikuti para bodyguard.


Ae-ri panik, melihat keberadaan Pria kekar yang tak kalah tampan itu, Ia bergidik ngeri. Antonio adalah bawahan setia Asher pasti lah Pria itu sama saja dengan Tuan nya, pembunuh berdarah dingin., Bahkan saat Ae-ri menyapa nya pun, di balas dengan tatapan datar, seolah tatapan itu mengatakan, 'Pergilah'.


Ae-ri menatap Alesya, sosok cantik yang memiliki nasib yang malang. "Baik lah Alesya, aku tahu setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan, tetap optimis dan jangan menyerah ok, dan Jangan lupa menghubungi ku." Ae-ri mengakhiri ucapan nya dengan sebuah rangkulan perpisahan.


Perawat itu berbalik seraya mengambil alat-alatnya, Kemudian membungkuk hormat dan pergi dari ruang rawat Alesya.


Alesya menatap kepergian Ae-ri, dirinya masih bingung dengan perkataan yang baru saja Wanita itu bisikan, apa kah Alesya harus membalas dendam dengan cara seperti itu..!?, akan kah ia bisa..?.


Menurut nya itu adalah pilihan yang sulit dan seakan mustahil, yang Dia ingin kan adalah kembali ke kehidupan damai nya bersama keluarga.


Tapi beberapa minggu terakhir dirinya baru di sadarkan, jika dirinya hanya sendirian tampa keluarga, bahkan jati dirinya...?. Alesya tidak tahu.


Jika itu memang benar...?. Maka bersiap lah untuk penderitaan mu Asher.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued.


__ADS_2