
Tepat hari kedua, Jari-jari mungil yang masih setia ia gengam mulai bergerak, Asher bergegas memanggil Dokter untuk segera memeriksa Alesya.
Tombol sudah di tekan, Pria itu tinggal menunggu datang nya Dokter atau perawat, dengan sangat perlahan kelompak mata itu mulai terbuka, Asher tersenyum saat kedua netra itu saling bertemu.
"Akhirnya Kau bangun..".Berbanding balik dengan reaksi Alesya, Wanita itu begitu datar saat melihat Asher, kenapa wajah Pria ini yang pertama kali ia lihat, dan untuk apa senyuman itu.
"Bagaimana keadaan nya..?". Dokter beralih melihat ke arah Asher dimana pria itu ada di sebrang brakar.
"Kondisi Nona Alesya berkembang cukup baik, kurang lebih satu minggu, Nona sudah bisa pulang.." Jelas Dokter, Alesya mendengar bahasa yang cukup ia mengerti, sudah jelas itu bahasa Korea, sangat tak asing di telinga karna ia adalah penggemar drama nya.
"Bagus.." Cukup sebatas itu ia memuji Dokter yang telah berperan besar dalam kesembuhan Alesya. Dokter itu memberi hormat sebelum pergi meninggalkan Alesya dan Asher berdua di ruangan itu.
Aneh nya Asher malah diam, dia tidak berbicara lagi, harus kah ia meminta maaf, seperti nya tidak Asher tak akan melakukan itu.
"Kau tahu ? Aku yang membawamu kemari Alesya uang ku habis banyak untuk menyelamatkan mu..". Setelah lama berpikir akhirnya, ia mengatakan itu.
"Lalu..". Tatapan datar itu Asher lihat, kemana tatapan tajam yang selalu Alesya perlihatkan.
"Hanya berterimakasih, kau tak perlu mengganti nya.."
Trimakasih katanya, dasar Pria gila dan naif, tak bisa kah ia mengucapkan maaf, hidup ku hancur karna ke egois mu keparat.
Alesya memutar kepala ke arah samping, ia tak ingin menjawab atau pun berterimakasih, apa lagi melihat wajah yang membuat ia muak itu, dirinya hanya ingin mati, kenapa Pria ini malah membuang waktu hanya untuk menyelamatkan nya.
Melihat Alesya diam Asher pun memilih memberi ruang untuk Alesya sendiri, tepat sebelum ia pergi, Asher memandangi wajah Alesya mengusap pipi itu dengan lembut, dan melayang kan sebuah kecupan di antara dahi.
Setidaknya Wanita itu sudah sadar, ia merasa cukup lega, Masih ada urusan yang harus cepat ia tangani, sebuah senjata api ia selipkan di saku belakang, tak ada yang tahu Pria itu kemana, yang jelas hari ini Dia akan membunuh seseorang.
Sementara itu, Alesya melihat kepergian Asher, ia mematung mendapat serangan mendadak seperti, itu, Apa Pria itu sudah kesurupan.
Waktu beranjak petang, Alesya begitu jenuh hanya sendirian tampa orang yang ia kenal, hanya beberapa orang pengawal yang berjaga di depan pintu.
__ADS_1
"Selamat sore Nona.." seorang perawat Wanita datang menyapanya, ia melakukan pemeriksaan rutin nya pada pasien. Alesya hanya mengulas senyum, Dia tak ingin menjawab, tubuh nya masih terasa lemah saat ini.
"Dimana kekasih tampan Anda Nona, Saya tak melihat nya sejak tadi.." Perawat mulai mengajak Alesya berbincang, ia sangat tahu jika pasien nya ini merasa jenuh meskipun Alesya tak menjawab, ia akan terus berbicara.
"Nona Anda sangat beruntung, Tuan Asher siang malam menjaga Anda Nona, bukan itu sangat romantis.." Perawat itu tersenyum saat memikirkan wajah tampan Asher, keseharian Pria penguasa selama di sini, itu membuatnya iri pada Alesya.
"Bahkan Saya memotret ini diam-diam agar Nona percaya..". Perawat dengan Nik name Ae-Ri itu memperlihatkan sebuah potret di ponsel nya.
Mata Alesya tampak terbuka, yang di foto memang Asher, Pria itu tertidur dengan keadaan duduk sambil menggenggam tangan nya, ini tidak mungkin.
" Romantis bukan..". Ae-ri memasukkan kembali ponsel nya ke dalam saku, ia melanjutkan kan pekerjaan nya kembali. "Semoga Anda capat sembuh Nona.." Di akhiri dengan senyuman indah, Ae-ri pamit pergi.
'Yang di foto tadi memang Pria gila itu kan'. Hanya beberapa saat Alesya terusik dengan foto itu, setelah nya, ia tidak peduli jika pun Pria itu merasa menyesal Alesya tak akan pernah memaafkan nya.
Sementara itu, Asher susah tiba lobbi rumah sakit, sebuah mobil mewah telah menuggunya, kali ini ia tak di temani Antonio, entah apa yang tengah di lakukan Asisten nya itu, hingga dua hari belum kembali.
"Di mana Kau..". Asher meletakkan gawai itu di dekat telinga, sambungan telpon tengah terjalin dengan Asisten nya.
" Dermaga Kota S Tuan, barang kita di bawa kabur, kami sedang melakukan pengejaran.." Jawab Antonio di sebrang telpon.
" Tidak Tuan Jang___". Antonio tak bisa melanjutkan perkataan nya, sambungan itu langsung di putus sepihak oleh Asher.
"S-i-a-l..." Antonio mengumpat, saat ini ia bersama bawahan yang lain tengah bersembunyi, mereka akan bersiap melancarkan serangan pada pihak musuh.
Antonio mengaktifkan alat komunikasi yang ada di telinga. "Target sudah terlihat, Dalam hitungan ketiga semuanya serang..". Antonio memberi komando tepat saat Revan Charles keluar dari mobil.
" ADA SERANGAN LINDUNGI BOS..".Seseorang berteriak memberitahu yang lain.
Pria baya yang mengenakan setelan hitam dengan aksen topi dan juga cerutu tampak gelisah, ia sudah bersembunyi selama dua hari, dan di saat hari pelarian Dia di temukan, sangat sial.
"Target kita adalah Rever Charles, bunuh semuanya kecuali Dia.." Antonio memberi komando kembali.
__ADS_1
Antonio bergerak dengan lincah, dengan sanjata yang terus melesat ke para musuh nya, ini adalah perang antar Mafia, banyak mayat yang sudah tergeletak.
Antonio mulai kewalahan dengan nafas yang terus memburu, ia bersembunyi di balik container, bunyi suara tembakan terus terdengar ke arah nya.
"Si-a-l.." Amunisi yang tersisa tinggal sedikit, banyak anggota nya sudah tewas, Antonio salah perhitungan, pihak musuh ternyata sudah menyiapkan semua ini.
Antonio terjebak.
"Menyerah Atau mati.." Antonio mendongkak, di kepala sudah ada senjata yang akan melubangi kepala nya, kali ini Ia kalah.
"Menyerah tidak ada dalam kamus- ku.."Antonio berkata dengan datar, padahal kematian sudah ada di depan mata.
"Berarti kematian yang Kau pilih.!." Pria bersetelan itu menyeringai, ini adalah suatu kebanggaan bisa membunuh tangan kanan Asher, pria itu akan kehilangan 1 pilarnya.
Dan keluarga Charles akan menjadi no satu, " Mati lah Kau Antonio Fernandez..". Pria itu kembali menyeringai, bersiap untuk menarik pelatuk.
...Doorrr...
Tubuh kekar itu jatuh dengan kepala berlubang, darah pun mengotori pelipis hingga ke lantai aspal dengan mata yang melotot, dengan artian Pria itu tak menerima kematian nya.
"Terlambat satu detik Kau akan menggantikan tempat nya.." Tangan itu terulur untuk menarik bawahan yang masih menatap nya dengan bingung.
"Trimaksih Tuan, Aku kembali berhutang nyawa.".
"Simpan rasa Trimakasih mu untuk nanti,, saat nya beri pelajaran pada Tua bangka itu, berani mengusiku, bersiap lah untuk mati."
.
.
.
__ADS_1
.
To be Contiuned.