Sang Pelayan Tuan Muda Kejam

Sang Pelayan Tuan Muda Kejam
Bab 45.


__ADS_3

Seharian ini Dia kurung di kamar hotel, perutnya sudah terisi dan ia pun telah mengenakan pakaian yang sudah di sediakan.


Tiba-tiba pintu pun terbuka dengan keras dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Asher, pria itu datang dengan wajah merah gelap seakan ingin membunuh seseorang dengan tatapan tajam nya.


"Apa Kau tahu, bahwa Kau sangat menarik di mata Arthur, bahkan Pria itu rela memberiku sebuah pulau Pribadi nya hanya untuk melepaskan dirimu dariku.." Pria itu berucap dengan sinis dengan hentakan kaki yang terus menggema di ruangan itu.


Alesya benar-benar tak paham, sebenarnya apa yang di bicara kan Pria gila ini.


"Kenapa Kau terharu.." Tanya nya dengan sinis.


"Sebenarnya ada apa dengan mu, Kau datang dengan marah dan seperti orang gila, dan kenapa pula kau tak memberikan Aku bersamanya, dengan begitu Kau bisa mendapatkan sebuah pulau, dari pada Wanita murahan seperti ku" Alesya terus berjalan mundur hingga tubuh terpojok kursi sofa.


"Kau memang harus di hukum.." Pria itu menyeringai, kemudian ia menarik Alesya untuk keluar dari kamar hotel.


"Kemana Kau akan membawa ku brengseek.." Umpat Alesya sepanjang jalan.


"Aku akan membawa mu untuk melihat kematian.."Jawab Asher.


Dan kali ini Alesya sudah di bawa jauh dari hotel, melintasi banyaknya nya ladang gandum dan banyak pula perternakan dan mobil yang di kendarainya masuk ke dalam hutan.


Di tempat nya, tubuh Alesya sudah bergidik takut apa lagi melihat senapan laras panjang yang kini telah di isi peluru.


Mungkin salah satu nya akan bersarang di kepala nya.


Dan saat tiba belasaan orang tampak berlutut dan ingatan nya kembali pada kejadian waktu itu, beda nya ia berdiri di samping Asher namun tak ada kemungkinan jika sebentar lagi ia akan berada di posisi itu lagi.


Tampa Alesya tahu, Asher membawanya untuk melihat saat ia sedang berburu dan ingin memburu bawahan nya yang sudah berkhianat.


"Ahhhkk.." Pekik Alesya saat suara senjata itu meluncur dan melubangi kepala salah satu tawanan nya.


"Hentikan.. Kau Gila, apa Kau tak lihat jika Dia itu manusia, bukan hewan buruan.." Ucap Alesya bahkan tangan itu mencoba menahan senapan Asher, namun buru-buru di tepis oleh Pria itu.

__ADS_1


"Bagiku mereka adalah hewan buruan yang layak mati, karna telah berani mengkhianati Tuan nya.." Asher kembali menembak dan kali ini ia sudah membuat buruan nya lari terkocar kacir.


Alesya yang melihat langsung, bagaimana kejam dan mengerikan nya Pria ini. Belasan orang yang sudah di lepas membuat Asher terus pokus pada buruan nya begitu pula dengan Antonio dan para pengawal nya mereka sudah berpencar dan meninggalkan Alesya seorang diri.


Ini adalah kesempatan emas, maaf kan lah Alesya karena memanfaatkan kematian belasan orang itu untuk membuat orang lain tak pokus terhadap dirinya.


"Aku harus bisa pergi dari tempat ini.." Alesya merobek pakaian yang di kenakan nya, dan setelah itu ia berlari sekuat tenaga tampa menoleh kebelakang lagi, seraya menguncir rambut nya ke atas.


Tak peduli banyak nya ranting yang terus menggores kulitnya, ia terus berlari dengan kencang, kali ini Dia tak akan pulang Atau mengabari keluarga nya.


Ayah nya adalah seorang jenderal polisi, Asher tak berani menyentuh nya, ia harus pergi dan mencapai perbatasan.


Tak ada yang sadar jika Alesya sudah menghilang, semua pengawal dan Antonio sibuk memantau lari nya para buruan termasuk Asher,, yang kini tubuh nya sudah berlumuran darah, bahkan kali ini menggunakan pisau untuk untuk membunuh para pengkhianat nya.


Entah berapa lama, ia menghabiskan waktu untuk mengahabisi para tawanan nya, dan saat kembali Asher tak melihat Alesya nya.


"Dimanan Alesya ku.." Tanya nya pada Antonio, yang seharusnya menjaga Alesya, dan beberapa saat ia menyesal membawa Alesya melihat nya untuk memburu para pengkhianat.


Sementara Antonio yang mendapat pertanyaan itu, hanya bisa menelan saliva. Alesya telah melarikan diri.


Asher melayang pukulan ke pipi Antonio, ia begitu murka tak melihat Alesya di sampingnya saat ini.


"Cari Dia sampai dapat.." Raung nya dengan marah, bahkan pria itu melampiaskan kekesalan nya yang terus mendendang para bawahan untuk segera berlari mencari Alesya nya.


"Kalian akan tahu akibatnya jika malam ini Aku tak bisa melihat wajah Alesya ku, CARI CEPAT.." Raung nya nya lagi. Pria itu langsung masuk ke dalam hutan untuk mencari jejak Alesya.


Ini adalah hutan rimba, dimana hewan buas masih berkeliaran dengan bebas, Asher terus masuk kedalam hutan, bahkan ia mengendus bau parfum yang di kenakan Alesya, namun itu sama sekali tak perguna, tidak ada tanda-tanda adanya Alesya hingga pencarian terus berlanjut hingga malam.


"ALESYA DI MANA KAU.." Asher terus berteriak, Pria itu seakan sudah gila terus berteriak di keheningan malam yang begitu mencekam.


Sementara Alesya sudah bersembunyi di salah satu jurang yang tidak terlalu dalam atau mungkin juga dalam, karna ia sama sekali tak bisa melihat, karna hutan ini sangat lah gelap, hanya sedikit cahaya bulan yang sedikit memberi ia penerangan, ia memeluk sebuah akar merambat sebagai pegangan, ia akan bermalam di sini hingga datang nya pagi.

__ADS_1


Alesya mendengar suara gaduh yang tepat berada di belakang nya, dan ia mendengar suara Asher yang terus memanggil nama nya, jantung nya terus berpacu sebisa mungkin ia terus membekap mulut, selain takut di temukan oleh Asher, di bawah kakinya pun mulai di rayapi serangga dan sebisa mungkin ia menahan untuk tidak bersuara.


"Apa Aku akan ketahuan.." Alesya melihat mobil melintasi tempat itu, dengan beberapa mengawal yang sudah mulai turun ke jurang.


" Alesya tidak ada di disini, apa mungkin Wanita itu sudah keluar dari hutan dan Aku sangat yakin di depan sana adalah jalan utama.." ucap para pengawal, mereka sudah tampak lelah namun mereka juga takut akan murka nya sang Tuan.


"Kalian menemukan nya.." Asher mulai turun, ia menggunakan flase kamera nya untuk menerangi apa yang ia lihat.


"Tidak Tuan, seperti nya Nona sudah melewati jalan utama.." Jawab para pengawal.


Asher melihat kedepan dan memang ada jalan utama, namun kendaraan sangat jarang melewati tempat ini. "Jangan ada yang keluar dari hutan sebelum Alesya ku di temukan..".


"Baik Tuan.." Sementara Alesya yang tepat di bawah terus meremas tangan nya, dengan jantung yang terus berpacu, ia terus membekap mulut agar tidak membuka suara, ia terus menunggu sampai rombongan itu pergi.


Alesya terus menunggu hingga datang nya pagi, karena saat ini pun ia tak bisa tidur, banyak nya serangga terus merayap ketubuh nya, berdoa lah semoga tak ada hewan melata yang hinggap di tubuh nya saat ini.


Mata sayu itu perlahan terbuka dan saat ini ia mulai melihat pajar, Alesya memutuskan untuk keluar dari jurang saat ini. Dan beruntunglah saat keluar tak siapapun yang berada di tempat itu selain dirinya.


Dengan tertatih Alesya terus menyeret langkahnya untuk menuju jalan utama yang tak jauh di depan nya, ia bersembunyi di balik semak seraya menunggu kendaraan datang.


Dan dari jauh ia melihat sebuah truk berukuran besar, tampa takut tertabrak ia merentangkan ke-dua tangan untuk menghalau laju nya kendaraan itu.


"Tolong Aku..."


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued.


__ADS_2