
Dengan suasa hati yang buruk Asher meninggalkan kamar hotel itu, sementara Antonio berjalan masuk tepat setelah Tuan nya pergi.
Membereskan ke-kacauan yang di akibatkan Tuan nya, kali ini korban nya Seorang pe-la-cur dengan wajah yang sangat cantik, di penuhi luka lebam di sekujur tubuh.
"Ini bayaran mu..." Antonio meletakkan sebuah cek di atas na-kas.
"Bayar Aku dua kali lipat, kau tak lihat Tuan mu yang gila menyiksa ku seperti ini.." Dengan meringis Wanita itu melihat nominal yang tertera di atas cek itu.
"Jaga mulut mu busuk mu itu.." Antonio mulai naik pitam, satu lagi Wanita yang berani memaki Tuan nya.selain Alesya tak akan di biarkan seseorang mengatai Tuan nya gila.
"Kenapa.. Tidak suka..". Dengan mata yang menyalang Wanita itu menatap ke arah Antonio.
"Monica, jaga mulut mu selagi Aku masih menahan sabar..!!!" Antonio tak sekedar mengancam, tak sayang kah Wanita ini dengan nyawa nya.
"Tuan mu emang gila, setelah mendapat kepuasan dia malah menyiksaku___"
...PLAKS...
Sudut bibir Monica kembali mengeluarkan darah, Antonio menampar nya dengan keras. "Sekali lagi mengatai Tuan ku, maka peluru ini akan bersarang di kepalamu.." Antonio mengeluarkan senjata nya, tepat di depan mata Monica.
Monica langsung ambruk, kali ini Wanita itu benar-benar ketakutan, dan ini semua karna Alesya, nama Wanita yang selalu di sebut saat pelanggan itu menyiksa dirinya.
"Tuan ampun, jangan bunuh Aku.." Monica berlutut di kaki Antonio, Pria ini tak kalah kejam dangan pelanggan nya tadi, Sosok tampan yang tak tahu Dia Siapa.
Antonio memilih pergi untuk mengejar Tuan nya, yang memungkinkan tengah mencari pelampiasan lain, untuk meredam emosi nya.
"Jika tahu akan seperti ini, Aku tak akan mau melayani Pria itu.." Monica meringis sekujur tubuh di buat sakit, bahkan wajah berharga-nya ikut menjadi korban.
"Kau tahu Siapa Alesya, Monic...?" Suara Asing masuk ke dalam ruangan, Wanita itu menoleh dan tersenyum.
"Tuan lihat ini, Dia menyiksaku..". Dengan nada manja nya ia mengadu, dengan nada manja seperti biasa itu, akan langsung meluluhkan hati Tuan nya.
...Plaks...
__ADS_1
Dalalm 1 malam tiga orang menamparnya, dan kali ini lebih keras lagi. "Tuan apa salahku.." Monica menangis, Dia masih bisa menahan saat ia di tampar Asher dan juga Antonio, namun di tampar dengan orang yang yang ia cinta, ini sangat melukai hatinya.
"Kau tahu apa salah mu, dan Kau tahu apa perintah mu Monica....!?" Pria itu menatap Monica dengan datar, namun aura membunuh nya sudah terlihat.
"Tuan tolong ampuni Aku.." Monica memeluk kaki Pria nya, tangan nya ter-ulur untuk mengusap sesuatu yang ada di sekitar paha.
Pria itu melengguh, Monica memang pintar memancing gai-rah nya, hingga tangan kekar itu membawa Wanita itu untuk sejajar dengan nya.
...Sraks...
Dengan sekali tarikan, balutan kain yang kekurangan bahan itu, di sobek dengan paksa, benda kenyal yang menggantung langsung jadi incaran.
"Tuan, boleh kah kali ini Aku tak memakai mulutku, Pria itu membuat nya sakit.." Monica memohon, Asher memang menyiksa nya dengan brutal.."Lain kali Aku berjanji, tak akan gagal.."
"Tidak, lakukan seperti biasa, Atau Aku membunuhmu Monica..". Wanita itu menghela nafas pasrah, cara meredam emosi pewaris Charlie grup hanya lah satu, puas kan bi-ra-hi Pria itu, maka Kau akan bebas.
...----------------...
Sementara itu, Alesya sudah kembali ke Mansion sejujurnya ia sangat takut melihat Asher kembali murka padanya, meskipun 1 bulan lalu ia berniat untuk mengakhiri hidup nya namun jika di bayangkan mati dengan cara tragis, ini tak menyenangkan sama sekali.
Hingga malam berganti pagi, Alesya bernafas lega Asher tak mendatangi untuk menghukum nya, pintu kamar di ketuk, seotang pelayan datang seperti biasa. Melayani nya bak Tuan Putri di rumah ini.
"Apa Dia di Rumah, Martha.." Alesya membuka suara, biasa nya jam segini Pria itu akan minta di temani sarapan sebelum berangkat ke kantor, Tapi kali ini, sarapan nya malah di kirim ke kamar.
"Seperti nya Tuan muda tidak pulang malam tadi Nona.." Martha menjawab, ia masih sibuk menata rambut Alesya.
"Bagus lah, lebih baik Dia tidak pulang selamanya..". Dan saat itu terjadi Alesya akan yang paling bersorak senang di antara semuanya.
"Nona, tidak kah Anda terlalu kejam terhadap Tuan.." Ucap Martha.
Alesya mendelik tak suka, Lagi-lagi ia yang di salah-kan "Jika Kau yang berada di posisiku Apa yang akan kamu lakukan Martha, dia menyiksamu, menghina mu, bahkan memisahkan mu dari kekasih mu, Apa Kau bisa menerima nya.."
"Tak cukup kah ia mengambil ke-pera-wanan ku, bahkan Aku menyakiti kekasih ku, agar Asher tak membunuh Revan, Coba kau bayangkan jika Kau berada di posisi ku.."
__ADS_1
Alesya membungkam mulut pelayan itu dengan perlakuan pahit yang selama ini Dia alami. "Jika Kau tak tahu apa-apa lebih baik, Kau diam Marta..." Alesya berdiri. Ia kesal setengah mati pada orang-orang yang selalu membela Pria kejam itu.
"Nona Anda mau kemana.." Marta berlari mengejar Alesya yang sudah menghilang di balik pintu.
"Jangan ikuti Aku Marta, Aku muak dengan mu, ternyata Kau sama saja dengan mereka.." Alesya menunjuk semua pengawal yang ia lewati.
"Tidak Nona, meskipun Anda tidak suka, Saya akan tetap menemani Anda.." Alesya berdecak sebal, percuma saja ia berbicara tak mungkin di dengar.
Alesya bahkan menyenggol Da-da bidang Antonio, saat ia berada di halaman belakang. "Kenapa...!. Apa Kau ingin memarahi ku juga.." Alesya langsung memaki Antonio yang tidak tahu menahu untuk mood seorang Wanita, hanya bisa menatap datar.
"Nona Anda mau kemana.." Antonio langsung berlari mengejar langkah kaki Alesya.
Namun terlambat, Antonio sudah melihat tubuh Alesya mematung dengan bergetar takut. "Ada apa dengan darah di tubuhmu Asher..". Alesya jatuh terduduk, Ia begitu syok saat melihat tampilan Asher, Pria itu begitu mengerikan.
Dengan kantung mata menghitam dengan sekujur tubuh di penuhi darah, ingat Asher itu adalah pembunuh berdarah dingin, bukan nya tukang jagal yang di penuhi darah binatang.
Semua yang melekat di tubuh Pria itu adalah darah manusia, entah apa yang sudah di lakukan Pria itu, yang jelas Asher telah melakukan suatu yang buruk.
Mata Alesya semakin melotot saat beberapa kantung mayat di seret keluar dari pintu yang ada di belakang Pria itu.
"Kau takut..". Asher mendekati Alesya nya. "Kau tahu Aku seperti ini karna mu Alesya.." Asher mencengkram dagu dengan tangan yang masih berlumuran darah.
Alesya takut setengah mati, tubuh nya bergetar hebat, Asher memang tak mencengkram nya kuat, namun Pria ini sangat menyeram kan, bahkan tubuh itu masih bergetar saat Asher sudah melepasnya, Pria itu pergi tak mengatakan apa pun lagi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued.