
Rombongan itu akhirnya sampai di Korea, puncak tertinggi di salah satu gedung pusat kesehatan yang sangat ternama.
Kumpulan staf rumah sakit sudah menanti, saat satu brangkar pasien di bawa turun dengan sangat hati-hati.
Di ikuti turun nya sosok Pria dengan aura mendominasi, Para kaum berjas putih itu, menelan saliva, saat sang penguasa mempercaya-kan Wanita yang seperti nya sangat berharga pada mereka.
Jangan melakukan kesalahan, atau hidup mu akan berakhir, slogan itu seolah terpangpang jelas di atas kepala Pria itu, saat datang dengan wajah datar nya.
Alesya langsung di tangani oleh Dokter profesional, melihat kondisi Alesya Dokter menghela nafas, ini akan sulit.
"Tuan Asher, melihat kondisi pasien, kami akan melakukan operasi kembali ada jaringan yang membusuk menyebabkan infeski__". Dengan penuh kekhawatiran Dokter menjelaskan kondisi pasien yang kritis, jika di biarkan terlalu lama, takut nya akan menyebabkan hal yang fatal.
Asher dengan tenang mendengarkan penjelasan Dokter, hati nya terus merasa nyeri saat mendengar kan itu, apa kah dengan kekuatan uang bisa menyelamatkan Alesya.
"Lakukan yang terbaik..". Akhirnya Asher memberi kan kepercayaan penuh, untuk para Dokter yang akan menangani Alesya.
"Kami akan melakukan nya dengan semaksimal mungkin Tuan..!"
Ranjang pasien milik Alesya, di bawa turun menggunakan lift khusus, Asher begitu setia berdiri di samping layak nya seorang kekasih.
Tangan nya terus menggengam tangan kurus dan dingin itu, ia tak tahu kenapa ia menjadi seperti ini ada perasaan tak rela saat dirinya ingin melangkah pergi untuk meninggalkan Alesya.
Padahal Alesya bukan siapa-siapa, sudah jelas wanita itu tidak berharga untuk nya.
Apa kah kenyataan yang baru ia tahu, membuat ia sadar dan menyesal telah melakukan hal buruk pada Alesya.
Tapi bukan itu. Jelas bukan itu
Tak terhitung nyawa manusia yang berakhir dengan tangan atau perintahnya, menurut Asher kekejaman yang ia lakukan pada Alesya terbilang ringan.
Itu menurut nya.
Lalu sekarang apa, melihat wajah pucat yang kini sudah memasuki ruang operasi membuat ia kembali gundah gulana, Asher mengacak rambut rasa nya ia hampir gila.
__ADS_1
"Antonio Aku ingin Alesya selamat, beri tahu mereka jika Alesya ku tak bangun maka bersiap lah untuk ikut di kubur bersama nya..!!!.". Asher memijit pelipisnya, Kepala nya terus berdenyut hingga rasa nya ingin meledak.
Melihat kondisi Alesya, Asher tidak yakin jika Wanita itu akan selamat, sanggup kah jika nanti Alesya akan pergi meninggalkan nya.
"Tuan Anda perlu Istirahat.." Antonio menopang tubuh Asher yang hampir limbung.
Asher mengangkat satu tangan nya, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, hanya perasaan aneh yang tak kunjung ia pahami, dan menurut nya itu bukan masalah.
Antonio menghela nafas pasrah Tuan nya memang keras kepala. Tak sadar kah Tuan nya sudah jatuh cinta pada Alesya, hanya saja Pria ini tak mengakuinya, lihat saja saat Alesya sudah sadar, Tuan nya akan bersikap seperti apa.
Diam-diam Antonio mulai bertaruh dengan diri nya sendiri, sebentar lagi akan di mulai se-seorang layaknya Singa penguasa alam liar akan jatuh cinta pada manusia yang Notabene nya Wanita biasa atau Pria ini akan terus mengangkat tinggi ego nya, dan kembali menyakiti.
Dalam kemelut panjang, yang ia tangkap dari wajah Tuan nya, sebuah notifikasi muncul di ponsel genggam nya. "Tuan Anda harus melihat ini, ada masalah!!..". Asher menoleh pada Antonio dengan tatapan tidak suka, bisa kah masalah pekerjaan asisten nyan yang meng-handle.
Antonio mulai tak nyaman, ini memang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini, tapi salah satu di antara mereka harus pergi dan menyelesaikan masalah.
"Maaf Tuan barang yang harus kita kirim di tahan oleh Rever Charles..". Antonio terus menelan saliva impormasi ini sangat sulit di sampai kan pada Tuan nya, mengingat kondisi Alesya yang menyita sebagian waktu Asher.
Asher kembali memijit pelipis nya. "Siapa yang bertanggung jawab pada barang itu, kenapa bisa sampai kecolongan seperti ini..?!"
Asher berdiri dengan mata yang nyalang, kebuasan nya kali kembali di ra-n-sa-ng. "Antonio Kau tahu..! Aku tak mentolerir ada nya ke-salahan beres kan masalah dan cepat kembali, dan bawa kepala penghianat itu kemari.."
"Bagaimana dengan Raver Charles Tuan, seperti nya Tua bangka itu sudah tak sayang nyawa.."
"Beres-kan seperti biasa, tapi kali ini bawa Dia ke hadapan ku, berani barmain api, maka bersiaplah bertemu dengan kematian.". Asher menyeringai kali ini kematian akan menjemput Pria itu dengan kejam.
Antonio berbalik, Revan Charles adalah musuh bebuyutan Asher, Tua bangka itu tak rela lapak berjualan nya di ambil alih oleh Asher, sama-sama menggeluti dunia hitam memang bukan prahara yang mudah dengan pertumpahan darah baru lah mereka puas.
...----------------...
Waktu operasi masih berjalan ini sudah berlalu selama 1 jam, Asher tertidur di kursi tunggu, para pengawal dengan sigap berjaga mengawal Tuan nya, yang terlelap.
Hingga saat mata terbuka, barulah ia melihat Brankar itu di dorong keluar, Asher melihat arlorji nya hanya 30 menit ia tertidur.
__ADS_1
Ternyata waktu operasi tak memakan Waktu lama seperti Di kota A, mereka sangat Propesional, Asher akui itu. "Bagaimana..!?". Asher bertanya pada Dokter dengan wajah datar, tak menunjuk-kan bahwa sejak tadi ia menunggu selesai nya jam operasi.
" Operasi nya berjalan sukses, tingkat keberhasilan mencapai 80% Tuan.."Dokter itu mengusap keringat, yang di katakan adalah kejujuran, Wanita ini akan segera sembuh.
"Kapan Dia akan sadar..". Asher sudah tidak sabar ingin melihat Wanita itu cepat sembuh dari sakit nya.
" Dua hari dan paling lama 1 minggu, kami akan terus memantau perkembangan pasien..". Jelas Dokter, Dan Asher mengangguk puas.
"Baik lah, lanjut kan perkerjaan mu.." Asher mengibas tangan dan mengusir Dokter itu, Memang tabiat Pria arogan saperti ini, tak ada ucapan terimakasih apa lagi maaf, padahal hati mulai merasa lega saat Dokter itu menjelaskan kondisi Alesya yang membaik.
"Baik Tuan.." Melihat sikap yang mendominasi, Dokter tak merasa sakit hati, yang ada mereka merasa lega, membuat Pria itu tidak marah pun adalah sesuatu yang harus di acungi jempol.
Asher Drake Kharkov, bukan orang yang bermurah hati, mengucapkan maaf apa lagi ber-terimakasih, terutama untuk orang seperti mereka.
Terlalu mustahil.
Brankar Alesya sudah berada di ruang rawat inap VVIP, ruangan mahal yang di desain layak nya kamar hotel.
Tangan kekar itu terulur menarik sebuah kursi, sengaja ia letakan di samping ranjang Alesya, Wajah pucat itu sudah terlihat mulai membaik.
Akhirnya Asher bisa tidur nyenyak malam ini, beberapa minggu terakhir ia tak mendapat cukup tidur, bahkan kantung mata nya semakin menghitam akibat terlalu banyak bergadang.
"Cepat lah sembuh Alesya..".Tangan mungil itu masih berada di pipinya, kini sudah terasa hangat. Ada lengkungan aneh di sudut bibir nya, entah Pria itu senang atau sudah menyadari perasaan nya.
"Alesya..."
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be Contiuned.