
Rauangan yang begitu memilukan menggema di ruangan itu, Alesya merasa lelah dan muak dengan kehidupan nya, kenapa ia harus di kelilingi Pria Tirani, maka jangan salah kan jika kematian yang ia pilih.
...Plak...
Arthur langsung memukul lengan Alesya agar pisau itu terlepas dari tangan nya, dan terdengar bunyi benda tajam yang sedikit menggores kulit mulus nya, Alesya sudah sudah sangat siap jika ia harus mati detik ini juga.
"Tampa ijinku, Tuhan pun tak bisa mengambil nyawamu..". Pria mencengkram dagu Alesya, hingga pada Akhirya ia kembali melu-mat bibir Alesya di depan para pelayan nya.
Madame Anet dan Olivia yang melihat itu tak bisa menolong Alesya, ia pun baru mengetahui jika Tuan muda Arthur yang terkenal baik dan bijak ini ternyata bisa bertindak sangat gila, tak peduli banyak pelayan yang melihat nya, Pria itu terus melanjutkan aksinya.
"Lepas,,, BRENGSEK..". Alesya mendorong sekuat tenaga, kemudian ia menampar Pria itu dengan sekuat yang ia bisa, hingga sudut bibir Arthur berdarah.
"Kau berani menamparku.." Arthur menjadi kalap, dan menyeret Alesya pergi dari tempat itu.
Melihat kepergian Tuan Muda kedua dengan wajah sangat marah, Madame Anet langsung berlari memasuki lift, tujuan nya adalah kamar Aiden.
Wanita paruh baya itu berlari seperti orang gila, sementara Olivia mengikuti kemana Arthur membawa Alesya.
"LORD AIDEN..!!!.". Suara Anet membuat Aiden terperanjat kaget, begitu menggelegar dan memekakan telinga untung saja kamar itu luas.
"Maaf kan kelancangan Saya Tuan muda, tapi Nona Alesya sedang dalam bahaya.." Dengan susah payah akhirnya Anet bisa menyelesaikan kalimat nya meskipun Aiden masih terkejut dengan datang nya Anet barusan.
"Apa yang terjadi..! katakan dengan benar Anet.." Cecar Aiden.
Anet pun menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mengeluarkan nya dengan perlahan ia pun mencobanya untuk tenang dan mulai bercerita dengan apa yang baru saja ia lihat.
Belum saja Anet menyelesaikan cerita nya, Wanita itu di buat sangat terkejut melihat Tuanya berdiri tegak di atas kedua kaki nya sendiri.
"Tuan Anda...!!". Anet hanya membekap mulut tidak percaya, ternyata Tuan nya sudah sembuh, tapi kapan..!?.
"Anet kemana Arthur membawa Alesya ku.." Arthur sudah siap dengan senjata laras pendek milik nya yang baru saja ia ambil dari laci.
Lagi-lagi Anet di buat tercengang, mungkin kan hari ini akan menjadi hari di mana seorang Kakak membunuh Adiknya.
__ADS_1
"ANET..." Teriak Aiden.
"Tuan Arthur membawanya ke arah belakang Tuan.." Anet tidak tahu kemana Arthur membawa Alesya, yang ia lihat Pria itu membawa nya ke sana, sementara area belakang sangat lah luas.
Tak banyak berpikir, Aiden langsung berlari, begitu pula dengan Anet yang mengikuti Tuan nya berlari hingga ke-dua nya pun sudah turun menggunakan lift dan disana Olivia datang dengan tergopoh-gopoh.
"Alesya di bawa ke Paviliun utara Tuan Muda.." Ucap Olivia. Dan detik berikut nya ia di buat terkejut saat melihat Tuan Muda Aiden berlari melewati nya.
Dan sekarang bukan waktunya untuk terkejut bagaimana Tuan Muda Aiden bisa berdiri karna tak hanya dirinya saja yang mengetahui jika Aiden sudah lama lumpuh.
Aiden yang sudah tahu kemana Arthur membawa Wanita nya langsung berlari dengan manaiki Buggy car ia sudah sampai.
"Tuan tolong tenangkan diri Anda..".Anet tidak ingin Tuan muda nya jadi kriminal karna menembak adik kandung nya sendiri.
Wanita paruh baya itu mencegah saat Aiden sudah menyiapakan senjatanya. "Tergantung sejauh mana Dia menyentuh Alesya ku..". Pria itu dengan tatapan gelap dan juga tajam segera berlari dan menendang pintu itu hingga rusak.
Lagi-lagi madame Anet di buat tercengang, ternyata kaki itu sudah bisa merusak sebuah pintu
Saat di dalam ia mendengar jeritan Alesya, yang berada di lantai atas, Pria itu langsung beralari di ikuti Anet dan juga Olivia dan di belakangnya nya di ikuti banyak pengawal mansion, mereka harus bisa mencegah Tuan muda Aiden agar tidak berbuat gila.
Dengan satu kali tembakan di iringi sebuah tendangan pintu itu berhasil di rusak oleh Aiden, Pria itu langsung membuang senjata laras pendeknya.
Dan apa yang ia lihat sungguh membuat ia sangat murka, pakaian yang di kenakan Alesya hampir terkoyak habis.
Sementara Arthur yang berada di atas Alesya, yang baru saja melu-mat bibir Wanita itu dengan paksa, tampak mematung. Sudah jelas Dia merasa sangat syok, Kakak nya berdiri tepat di depan nya.
Tampa banyak kata Aiden langsung menarik tubuh Arthur yang hanya menggunakan celana boxer, ia mengempaskan Adiknya dengan keras ke lantai.
Hingga dalam hitungan detik Aiden sudah berada di atas Arthur yang kini menghajar Adiknya dengan pukulan beruntun.
Tak ada perlawanan dari Arthur, dirinya masih Syok melihat kakaknya berdiri hingga Wajah tampan nya sudah babak belur dengan darah yang mengucur.
"Tuan Hentikan.." Dua pengawal menahan Aiden yang hendak memukuli Arthur kembali. Sementara Olivia dan Anet sudah menutupi tubuh Alesya dengan selimut.
__ADS_1
Alesya tak berhenti menangis, Wanita itu hampir saja di perkosa oleh Arthur jika barang satu menit saja Aiden terlambat datang.
Aiden yang di tahan kedua Pria bertubuh kekar dada nya terus naik turun dengan tatapan yang begitu tajam pada adiknya, sangat terlihat Pria itu sangat marah.
"Kenapa Kau melakukan nya pada Wanita ku Arthur.." Dengan menahan semua amarah Pria itu berbicara.
"Dia Wanita ku lebih dulu, sebelum Kau menganggap nya Wanita mu.." Jelas Arthur. Ia mencoba untuk duduk dengan menahan rasa sakit yang di sekitar wajahnya, Kakak nya memukul nya sangat kuat.
"Dan Kau telah merebutnya dari Ku Kak.." Arthur mencoba untuk berdiri, dan melihat Alesya terlihat kacau dan terus saja menangis, seharusnya ia membawa lari Wanita itu jauh dari tempat ini, ia pikir Aiden tidak akan menggangu aksi nya, tidak di sangka Kakaknya yang di kira lumpuh sudah berdiri dengan tegak.
"Apa Ayah dan Ibunda tahu jika Lord Aiden bisa berdiri dengan kokoh seperti ini.." Ucap Arthur seraya mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Aku tahu Kau menginginkan posisi pewaris, dan Aku akan memberikan nya untuk mu, tapi lupakan Alesya..". Kata Aiden.
"Posisi pewaris!!! Aku sudah tak menginginkan nya lagi, Aku hanya ingin Alesya.." Ucap nya dengan tegas, ia tak mau kalah dengan Kakaknya, kalau Perlu ia akan membunuh Aiden jika tak mau memberikan Alesya padanya.
"Untuk itu, Aku tidak akan mengalah, Aku sangat mencintai Alesya...". Kata Aiden tak mau kalah.
"Benarkah, bagaimana jika Alesya sudah sering Aku tiduri apa Kau masih menginginkannya.??."
"????".
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued.