
Dan sekarang tinggal di rumah Pria gila itu lagi, meskipun seharusnya predikat itu di ganti dan lebih tepat nya menjadi Pria aneh.
Tak ada kata kasar atau perlakuan kejam, ia di perlakukan sangat baik di tempat baru ini, tak ada kekangan bahkah ia pun di bebas kan berkeliaran di sekitar Mansion yang luas nya tak bisa ia ukur, apa lagi melihat para pelayan yang bekerja, membuat Alesya tidak terlalu jenuh, meskipun di belakang nya ada beberapa pelayan dan juga pengawal.
Di tambah lagi Alesya di bebaskan juga menggunakan ponsel, dengan begitu ia bisa menghubungi keluarganya.
Bukan nya itu sangat aneh.
Tak seperti saat Dia tinggal di kediaman Aiden, Pria itu sangat posesif padanya, membuat diri nya tak lagi nyaman, bahkan membatasi pergerakan nya. Tapi bukan berarti Alesya nyaman dengan A'sher, dan harus di garis bawahi semua penderitaan ini terjadi karna Pria tirani itu.
"Martha..." Teriak Alesya. Seharian ini Dia mencari Wanita itu.
Martha menoleh, dan melihat Siapa yang memanggilnya ternyata Alesya, pantas saja Tuan nya itu membawa nya kembali dari pelatihan.
"Kau kemana saja, sejak tadi Aku mencari mu.." Alesya langsung memeluk Martha begitu gadis manis itu tiba, Wanita itu begitu merindukan Martha yang selama ini menemani nya.
Martha yang mendapat pelukan, langsung membalasnya. "Berkat Nona, Aku bisa kembali ke sini.." Jawab Martha.
"Memang nya selama ini Kau dimana..". Tanya nya penasaran.
Lalu Martha menceritakan dimana ia selama ini, kehidupan di pelatihan dan di kediaman Asher tentu saja berbeda, di tempat pelatihan Ia harus terjun siap terjun ke lapangan setiap hari ia harus begitu dekat dengan kematian. Sementara disini ia hanya harus fokus menjaga Wanita Tuan muda nya yang sangat cantik.
"Apa tempat itu begitu menyeram kan.." Kata Alesya setelah mendengar cerita Martha entah kenapa ia merasa bersalah.
"Sebenarnya tidak, semua pengawal Pribadi Tuan Muda sebagian besar menjalani pelatihan disana sebelum terjun ke lapangan, bisnis Tuan muda memang menyebabkan banyak musuh yang tak terhitung banyaknya, Dan musuh terbesar nya adalah Melvin Frederick". Jelas Martha.
Yang sampai saat ini selalu mencari gara-gara dengan Tuan nya, karna selalu kalah bersaing.
"Melvin Frederick..!?". Alesya mengulangi nama itu. Nama nya begitu tak asing di telinga sangkin banyak nya Pria yang membuat ia terkena mental ia sampai tak ingat dengan yang satu ini..
"Iya Nona, Seseorang yang hampir membuat Anda meledak di dalam mobil, untung saja Tuan Muda Datang tepat waktu kalau tidak bukan hanya nyawa Nona saja yang melayang begitu juga Saya dan Pete.." Jelas Martha.
__ADS_1
Martha berpikiran Alesya sudah mengetahui pengorbanan Tuan muda nya karna menguping waktu itu, atau pun mendesak Antonio, karna pada waktu itu Dia pun melihat nya.
"Apa maksud dari ucapan mu Martha_ Maksud ku apa nya dengan mobilnya meledak apa ini ada hubungannya dengan luka yang di punggung Asher waktu itu.." Alesya cukup terkejut mendengar pernyataan ini.
Dan sekarang ia ingat Siapa Melvin Frederick, Pria yang ia temui di pesta pernikahan adiknya dan juga pelaku penembakan yang menyebabkan mobil terguling, peristiwa itu masih tersimpan dengan jelas di memorinya nya.
Martha langsung mengatupkan mulutnya dengan rapat 'mati Aku". Seharus ia tak pernah berpikir seperti itu, apalagi Dia sudah terlanjur memberi tahu Alesya sebagaian cerita heroik Tuan nya.
Apa lagi Alesya, kini terus mendesaknya untuk menceritakan dengan detail peristiwa itu. "Martha jika kamu tak bercerita, maka Aku akan kabur lagi, dan membuat kamu yang di salah kan.." Alesya mulai mengancam.
"Nona, Tidak kah Anda melupakan hal yang tadi Saya ucapkan.." Martha menggigit bibir nya. ia sangat takut jika Alesya berniat kabur lagi, bisa-bisa kepala nya berlubang dengan peluru.
"Tidak, katakan atau Aku akan benar-benar kabur.!!." Alesya mengancam dengan nada yang serius, meskipun sebenarnya ia tak berniat kabur lagi jika pada akhir nya ia harus di temukan oleh Aiden ataupun Arthur.
Kakak beradik itu sangat meresahkan, apa lagi mengingat jika ia hampir di perkosa, mungkin untuk saat ini terkurung di tempat Asher bukan pilihan buruk, apa lagi sudah 1 minggu ini Pria itu tak banyak tingkah.
"Nona.." Martha mencoba memelas, berharap Alesya tidak mempersulit diri nya, namun Wanita cantik itu terus menatap nya dengan tajam.
"Apa Kau lebih suka Aku melarikan diri, dari pada memberi tahu kebenarannya!?." Alesya tidak akan mudah terbujuk dengan wajah memelas wanita ini.
"Emmm Nona, kasihanilah Saya Nona..". Wajah Martha semakin memelas, namun melihat Alesya wajahnya tidak berubah dan pada Akhirnya Martha hanya bisa menghela nafas pasrah.
" Baik lah Nona, Saya akan menceritakan semuanya pada Nona.." Martha mengalah saja. Jika dengan ia bercerita bisa merubah perasaan benci Alesya terhadap Tuan muda nya.
Mata Alesya tampak berbinar, saar Martha menyetujui keinginan nya, segera ia membawa gadis manis itu untuk mencari tempat yang nyaman untuk bercerita, tentu saja setelah menyuruh para pengawal nya untuk menjaga jarak.
Dan sebuah kursi memanjang yang Alesya pilihan dengan pemandangan indah di sekitar nya, dimana udara ynag berhembus sangat lah segar dan menyejukkan, sangat cocok menghabiskan waktu untuk bersantai.
Berapa kali Martha menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan, dirinya begitu engan untuk bercerita. "Apa Kau ingin membuat ku mati penasaran Martha.." Alesya mulai kesal. Bukan nya tadi gadis ini sudah menyetujui tapi kenapa sampai sekarang Martha belum membuka suara nya.
"Sabar Nona.." Martha hanya bisa menjawab seperti itu. Alesya hanya mendengus dengan kesal.
__ADS_1
"Ok, mungkin cerita nya akan di mulai saat aksi pengejaran setelah pulang dari pesta pernikahan Adik Anda, tentu Nona masih ingat kan.." Dan Alesya menjawab dengan sebuah anggukan.
"Dan pelaku pengejaran di sertai tembakan itu semua ulah Melvin Frederick Dia adalah Rival Tuan muda di dalam Dunia bisnis..". Lanjut Martha dengan cerita nya.
Alesya dengan serius mendengar kan cerita itu, jujur saja, Waktu itu ia merasa sangat takut mendengar suara tembakan yang terus menghantam mobil yang ia tumpangi, hingga menyebabkan mobil itu terguling berkali-kali, sampai membuat Alesya tak sadar kan diri, dan setelah itu tak ada yang ia ingat lagi, sebelum tersadar di rumah sakit.
"Setelah kedatangan Tuan Muda, Melvin langsung meninggalkan TKP, yang telah membuat Mobil kita terguling, dan karena itu juga terjadilah kebocoran bensin, Tuan muda berusaha keras mendobrak pintu untuk menyelamatkan Anda, meskipun saat itu mobil sudah mulai memercikan api..". Alesya masih mendengarkan cerita Martha, meskipun hati nya mulai merasakan perasaan lain.
"Berkat bantuan Tuan muda, Akhirnya kita bisa keluar dari mobil, tapi tidak dengan Anda Nona, Tuan masih berusaha mengeluarkan Anda dari dalam mobil, tak peduli Tuan Antonio terus berteriak, begitu juga kami karna Api semakin membesar, Tuan masih berusaha mengeluarkan Nona.." Alesya Diam mematung mendengar cerita Martha.
Apa benar yang ia dengar jika Asher menyelematkan dirinya, tak peduli dengan nyawanya yang menjadi taruhan nya.
"Saya dan Pete terpaksa menjauh terlebih dulu, dari kejauhan kami melihat api semakin malahap mobil dan beberapa saat Tuan muda telah berhasil membawa Nona menjauh dari kobaran api di situlah mobil meledak.." Jantung Alesya semakin berdetak lebih cepat, namun ia tetap mendengar kan cerita Martha, yang membuat hati nya semakin terusik.
"Namun posisi Nona dan Tuan muda begitu dekat dengan radius ledakan hingga pada akhirnya bagian onderdil mobil mengenai tubuh Tuan muda tepat nya di bagian punggung..". Alesya semakin gelisah, ia sangat ingat bagaimana darah merembes begitu banyak, ia tak membayangkan sebagai mana dalam nya luka itu.
"Martha..". Tenggorokan Alesya seakan tercekat, ia tak tahu harus berbuat apa, harus kah ia mengucapkan Terimakasih pada Pria itu.
Tentu saja harus Pria itu telah menyelamatkan nya, padahal bisa saja Asher membuat nya mati di dalam mobil, kenapa harus menyelamatkan nyawanya.
"Dan apa yang Saya lihat, bagaimana Tuan muda melindungi Anda dari ledakan, Dia tertatih seraya terus membawa Nona jauh dari api, hingga pada Tuan tak sadar kan diri.." Dan Martha mengakhiri cerita nya dengan menghela nafas panjang.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued.