
Alesya dengan panik menuruni ranjang, bahkan saat langkah terus mendatangi kamar mandi, tubuh nya masih dalam ke adaan polos.
Raungan Asher begitu jelas terdengar, apalagi saat nama Revan di sebut, Alesya sangat yakin Pria terkasih nya tak akan lolos dari incaran Pria gila ini.
Tangan nya terulur memutar knop pintu, suara air mengalir terdengar ke telinga, begitu pula cermin yang sudah retak dengan noda darah menjadi pusat perhatian Alesya.
Pria itu mengguyur seluruh tubuh nya di bawah air shower yang terus mengalir, hingga tampa ragu Alesya melingkar kan kedua tangan nya di, menempelkan buah da**da nya di punggung Asher.
Alesya merasakan amarah yang menggebu dari Asher, ia tak bisa membiarkan ini, Revan harus selamat dari amukan singa jantan yang terus meraung.
Namun Alesya mendadak bingung, ia tak tahu bagaimana cara mamadam kan amarah Pria ini, tubuh sudah melekat, bahkan ia memeluk Asher dari belakang tapi tak ada respon, Alesya di abaikan.
Wanita ini membawa tubuh nya untuk berdiri tepat di depan Asher, Alesya turut mengguyur dirinya bersama Pria ini, dirinya seakan Wanita yang terhina dan terus merendah sebagai mana pun ia menyentuh, Asher terus mengabaikan nya wajah nya datar tampa Ekpresi.
Pria ini kembali bersikap dingin padanya seperti dulu, namun Alesya tidak menyerah demi keselamatan Revan ia akan berkorban.
Namun Pria itu melengos meninggalkan Alesya begitu saja tampa bicara sepatah kata pun, ia benar- benar sudah di abaikan kali ini.
Apa yang terjadi, kenapa ia merasa tak terima di abaikan oleh Asher, bahkan hingga fajar mulai menyingsing Alesya masih berada dalam guyuran air, Pria itu tak kembali atau peduli padanya.
"Nona apa yang terjadi...". Martha datang dengan berlari, ia langsung mamatikan keran air.
Alesya tak tahu harus berkata apa, bahkan ia tak tahu sebenarnya Dia kenapa, marah benci atau takut, ia sungguh tak tahu, lalu ia menangis seraya memeluk Martha.
"Tubuh Anda sangat dingin Nona, Anda Harus berpakaian.." Martha membantu tubuh Alesya berdiri, ia memapah nya hingga memasuki kamar.
Sejak tadi ia diam, Alesya di bantu bersiap dan berdandan Adik nya menikah hari ini meskipun mempelai Pria nya adalah sang kekasih, tetap ia harus datang.
Mungkin ini yang terakhir ia bertemu dengan Pria itu, Tampan dan Baik, Alesya sangat mencintai Revan meskipun sudah berapa kali ia menyakiti nya, dan Hari ini dirinya lah yang tersakiti.
Four Season Hotel.
__ADS_1
Alesya sudah tiba di tempat acara itu di selenggarakan, dengan balutan gaun mewah dengan taburan swarovski tampilan Alesya tampak memukai ia jadi pusat perhatian saat dua orang penjaga membukan ia pintu.
Alesya datang terlambat, saat tiba tamu undangan sudah banyak yang hadir dan di atas podium, ia melihat Adiknya terus tersenyum bahagia.
Lalu Revan kekasihnya, tampak muram sudah jelas Pria itu tidak bahagia dengan pernikahan nya apalagi setelah melihatnya. "Alesya Kau datang.." Alesya di sapa seorang teman semasa kuliah, Dia Elena, salah satu sahabat dan rekan kerja Revan, tentu Dia tahu tentang hubungan-nya.
"Tentu El.. ini pesta pernikahan Adik-ku.." Alesya tersenyum getir. Pasti lah ia yang di tertawakan pada akhirnya.
"Ya Aku tahu, Tapi___" Elena tidak tahu apa yang sebenar terjadi, ia pikir mempelai sahabatnya adalah Alesya, Wanita yang di kencani selama 3 tahun.
Semuanya mahasiswa banyak yang tahu pasangan ini, dan berita pernikahan ini tentu sangat mengejut kan mereka, Dan dari sini Alesya bisa melihat orang-orang saling berbisik membicarakan nya.
Namun Alesya tak peduli, langkah nya dengan pasti menaiki podium dengan tersenyum bahagia. "Kakak turut bahagia atas pernikahan mu Celia.." Alesya memeluk Adiknya, ia tak benci atau marah Revan menikah dengan adiknya itu lebih baik dari para menikah dengan dirinya nya yang tubuh nya sudah ternoda oleh kebuasan Asher.
"Kakak Aku minta maaf, Aku tahu Kakak pernah bersama dengan Suamiku, tapi Aku tidak mau anak ku lahir tampa sosok Ayah.." . Wajah Celia di buat muram, padahal dalam hatinya ia bersorak dengan bahagia, Akhirnya ia mendapatkan Revan Pria yang di cintai Kakaknya.
Boleh-kah Alesya tak menjawab-nya, Hati nya bagai di tusuk ribuan jarum saat ini. Namun dengan sekuat tenaga ia terpasksa tersenyum. "Berbahagia-lah...". ia memeluk Celia dan setelah itu berniat pergi.
Revan hanya bisa menatap nanar kepergian Alesya, semua tamu undangan melihat ketidak bahagia-an sang mempelai Pria.
"Ayah Aku harus pergi.." Alesya menghampiri Ayah nya, ia akan pamit.
"Kau akan kembali ke tangan Pria kejam itu.." Tanya Ed tak suka, Putri nya seakan tak punya pilihan lain.
"Tak ada tempat untuk ku kembali Ayah, meskipun Aku tak ingin, mereka akan tetap membawa ku..". Begitu miris kehidupan nya saat ini, Cinta nya sudah benar-benar hilang dan Asher kecewa padanya. Bahkan Pria itu tak muncul lagi, ia tak berani untuk menanyakan meskipun ia penasaran.
Dengan perasaan yang campur aduk ia pergi meninggalkan aula, hingga tak sengaja menabrak bahu seseorang. "Maaf kan Saya Tuan.." Sesal Alesya. bodoh nya ia jalan tak hati-hati.
"Tidak apa Nona..". Pria itu mengeluarkan sapu tangan ia mengusap noda yang mengotorinya setelan nya.
"Ya ampun, Saya sungguh minta maaf Tuan, pakaian Anda kotor, biar Saya yang bersihkan.." Alesya mengeluarkan sapu tangan miliknya dan tangan nya mulai bergerak dengan hati-hati membersih noda.
__ADS_1
Prian itu menyeringai. "Nona, apakah Anda ingin bebas dari Pria itu.." Alesya mendongkak melihat wajah Pria tampan ini.
"Maksud Anda..?"
"Aku akan membantumu bebas darinya, membawa pergi dan tak akan di temukan, Kau tentu paham maksud ku.." Pria tersenyum, Wanita di depan nya sangat cantik. Dia ingin memiliki nya.
Pria itu menyelipkan sebuah kertas kecil di tangan Alesya. "Hubungi Aku, Jika Kau sudah menentukan pilihan..". Pria itu pergi meninggalkan Alesya bersamaan dengan datang nya Martha.
"Nona apa Anda baik-baik saja.." Martha tampak cemas, bahkan Wanita itu datang dengan berlari. "Nona Pria itu berkata apa pada Anda..". Martha langsung mengutarakan ke tidak sukaan nya.
Alesya langsung memandang wajah Marta dengan penuh tanda tanya. "Kau mengenal nya.?."
"Dia bukan Pria baik Nona, Dia adalah musuh dari Tuan Asher." Jelas Martha . Asisten Pribadi Alesya langsung manarik lengan Wanita itu untuk segera meninggalkan aula hotel.
"Lalu apa menurut mu Asher lebih baik, dia bahkan sangat kejam pada ku Martha.". Alesya tampak terseok-seok mengikuti langkah Martha, entah siapa yang ia temui tadi namun Asisten Pribadi nya ini sangat ketakutan dan baru kali ini Alesya melihat Martha mengeluarkan senjata.
"Perketat ke amanan Melvin Frederick sudah bergerak lindungi Nona..". Martha memberi komando, dan Alesya di paksa masuk ke dalam mobil. Alesya celingukan melihat tingkah Martha, benarkah Pria tadi berbahaya.
"Melvin Frederick.."
.
.
.
.
.
To be continued.
__ADS_1