
Ed Ayahnya memberi tahu jika hari pernikahan Cecilia akan di adakan di salah satu hotel berbintang, mereka mengundang tokoh-tokoh penting, dan para pembisnis hebat
Namun calon pengantin Pria masih di rahasia kan dari Alesya, dan itu permintaan Cecilia agar penghuni rumah tidak memberi tahu nya.
Alesya memutuskan untuk menyerah tak lagi penasaran, toh besok ia akan bertemu dengan calon Suami adik nya itu dan saat petang Edmond dan kedua adik kembar memutuskan untuk bermalam di Four Seasons hotel, sementara Alesya ingin bermalam di rumah saja.
Alesya sangat rindu dengan kehidupan saat ia tinggal di rumah ini, tangan nya melambai ke arah mobil yang di tumpangi keluarga nya, Ia tersenyum, dan Ia berbalik lalu menutup pintu.
Netra nya berpencar melihat sekelling rumah, langkah kaki nya terus naik menapaki anak tangga hingga membawa nya ke atas, dan kenangan itu melintas, saat ia berdiri tepat di pinggir balkon.
Alesya tersenyum dan menyelip anak rambut di belakang telinga nya, ia melihat kekasih nya melambai tangan.
Seolah para pengwal yang berdiri di halaman itu adalah Revan kekasih nya. "Revan Aku merindukan mu .". Alesya bermonolog sendiri, seharusnya Revan dan dirinya sudah melangsungkan pernikahan itulah janji mereka saat berpisah dulu.
Namun semenjak kehadiran Asher, semua hancur harapan dan keinginan nya, menjadi Istri dari seorang Revanus Archi tak mungkin terjadi.
"Kau apa kabar, Apa Kau tahu jika Aku masih mencintaimu..". Alesya berbalik. ia memutuskan untuk menyudahi ke galauan tentang cinta nya yang kandas, hanya saja ia sangat ingin di pertemukan dengan Revan kembali dan me-minta maaf.
"Harus Aku menelponnya.." Gawai tipis itu sudah ada di tangan, sudah sangat lama ia tak mengaktifkan ponsel nya. Banyak notifikasi yang masuk, dan itu dari Revan nya.
Alesya Lagi-lagi tersenyum, melihat isi pesan yang di kirim dari Revan,. "Aku tidak salah memberikan seluruh hatiku padamu Revan..". Ia mengurung kan niat nya untuk menghubungi Revan, lebih baik ia lupakan semua perasaan itu.
Namun siapa sangka ponsel Alesya bergetar, sangat jelas nama kekasih nya tertera di layar. Alesya begitu gugup saat ingin menggeser tanda hijau, hingga layar nya kembali redup.
Namun Lagi-lagi ponsel nya kembali bergetar, Revan menghubungi nya kembali.
"Halo...". Akhirnya Alesya bisa mendengar suara Pria terkasih nya, air mata nya meluncur tampa permisi, namun Alesya masih diam Ia tak mengeluarkan kata sepatah kata pun.
"Alesya apa Kau disana dan mendengar ku.." Revan kembali berbicara, namun tak ada sahutan.
__ADS_1
"Alesya Sayang, Aku tahu Kau di sana..". Sekilas ia mendengar suara segukan, dan ia menebak itu Alesya kekasih nya, meskipun Wanita itu memilih bersama Pria lain.
Alesya menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan, ia terus mengulang itu agar lebih tenang, ia mencoba menguat kan hati nya untuk berbicara untuk terakhir kalinya dengan Revan, ini adalah keputusan Alesya.
"Halo Alesya Kau masih disana.." Revan hampir menyerah namun saat mendengar suara grusukan Ia mulai menajam kam pendengaran, Rupa nya Alesya mencoba membuat tubuh nya lebih nyaman dan bersandar di sofa.
"Iya.. Ini Aku..". Hanya sebatas mengatakan itu, namun Revan senang nya bukan main.
"Alesya ini benar kamu Sayang, Aku tak sedang bermimpi..?." Di sana Revan tak bisa diam, ia merasa gelisah dan ingin bertemu dengan Alesya, ia sangat rindu.
"Iya Ini Aku Revan, ini nyata.." Jelas Alesya. ia kembali mengusap jejak basah di pipinya.
"Apa Kau di rumah.." Alesya mengangguk padahal Revan tidak tahu. "Alesya jika Kau di rumah, boleh kah kita bertemu, untuk yang terakhir, Aku sangat merindukan mu Ale..." Mohon nya
Alesya sudah tidak sanggup menahan tangis nya, Ia pun sangat merindukan Revan, ia ingin memeluk Pria itu lagi, bahkan ingin marasakan lembut bibirnya. "Aku mencintaimu..".
Sadar kah Alesya telah mengatakan itu, ucapan itu berasal dari hati nya, secara tak sadar mulut nya berbicara. Hingga Ponsel nya mati karna ke habisan daya.
Hingga pukul dua dini hari, seseorang masuk melalui jendela, Alesya tak sadar ia masih terlelap dalam tidur nya, hingga seseorang itu duduk di tepi ranjang ia membelai lembut wajah Alesya nya.
Wanita itu merasa terusik hingga lambat laun kedua mata-nya terbuka dengan perlahan, namun beberapa saat kemudian ia tersenyum. "Bahkan Kau datang ke mimpi ku.." Alesya mengusap lembut wajah tampan itu.
"Ini bukan mimpi Ale, ini nyata Aku di sini.." Dahi Alesya mengerut, benarkah ini nyata bukan mimpi nya.
Namun tampa ijin Pria itu mengecup Bibir Alesya, dan itu bisa di rasakan Alesya. "Maaf Aku melanggar untuk tidak menciumu..". Barulah Alesya bangkit. ia langsung terduduk dan mencoba melihat lebih jelas.
"Jangan nyalakan, Atau mereka akan tahu .." Pria itu melarang Alesya untuk menyalakan lampu, susah payah ia menyusup kemari.
"Maaf.." Hanya kata itu yang keluar dari mulut nya.
__ADS_1
Pria itu membawa Alesya masuk ke dalam dekapan nya. "Kau tahu Ale, Aku sangat merindukan mu.." Begini erat saat Pria itu memeluk Alesya, hingga debaran jantung itu terasa oleh nya.
"Revan ini beneran kamu.." Alesya merasa enggan untuk membalas pelukan itu, padahal ia sangat ingin.
Pria itu mengangguk. "Iya Alesya Aku disini." Akhirnya Alesya membalas pelukan Revan, mereka berpelukan sangat lama, dan sangat tak ingin jika waktu ini akan berakhir namun realita nya tidak sesuai, mereka seakan di pisahkan oleh Jurang yang begitu dalam.
"Boleh kah.." Revan membawa wajah Alesya untuk melihat nya, ia menyentuh bibir itu dengan jari meminta Alesya untuk menyetujui keinginan nya.
Alesya menatap Revan dengan penuh cinta..Wanita itu mengangguk ia memberikan ijin untuk Revan lebih menyentuh nya, selama berpacaran Alesya hanya mengizinkan Revan untuk memeluk nya saja, tapi kali ini berbeda.
Seseorang telah menghancurkan kan prinsip nya, ia ingin bebas di sentuh setelah menikah, namun Pria Tirani itu mengambil semua nya, terus menikmati tubuhnya, dan sial nya ia menikmatinya.
Alesya sangat mengutuk keberadaan Asher dalam hidup nya, memisahkan ia dari Revan dan satu hal yang ia benci, Alesya sempat terpesona dengan ketampanan Asher.
"Tapi maaf, Pria itu telah menjadi orang yang pertama.." Sesal nya. Alesya menundukkan kepalanya, kenapa harus Pria itu yang mengambil semuanya.
Andai ia tahu, Alesya tak akan pernah menolak permintaan Revan untuk menyentuh nya lebih, tentu ia ingin, hanya saja ia berteguh dengan prinsip nya.
Melakukan hal di ranjang dengan Suaminya, namun Asher menghancurkan segala. Harus kan ia melakukan itu dengan Revan sang pemilik hati..??.
Jawaban nya...???
.
.
.
.
__ADS_1
.
.