
Martha melihat Alesya sangat tergesa saat menaiki anak tangga, dengan terpaksa ia mengikuti Wanita itu untuk kembali naik ke atas menuju lantai 2.
"Nona...!. Apa yang sedang anda lakukan.." Martha benar-benar di buat tak paham, melihat kelakuan Alesya.
"Sssttt.." Alesya meletakkan jari telunjuk di bibir nya, memberi kode agar Martha diam, Alesya tahu ini bukanlah tindakan terpuji, ia menguping bagaimana Dokter bersuara di dalam.
"Asher, sebaiknya luka di punggung mu harus cepat mendapatkan penanganan, jika terus di biarkan lukamu akan terinfeksi dan itu tidak baik, Aku menyaran kan agar kau segera di rawat..". Ucap Brian dengan tegas, Dia Adalah seorang Dokter sekaligus sahabat Asher dan kali ini Asher, Dia sangat berharap Pria ini tak keras kepala dan segera mendapatkan perawatan.
"Aku tidak mau ke rumah sakit, berikan Aku obat seperti biasa.." Balas Asher dengan dingin, dan seperti biasa ia keras kepala.
"Asher, obat yang Aku resepkan hanya untuk mengurangi rasa sakit, obat itu tak mampu membuatmu sembuh Total, bahkan di sampingmu Ada dua wanita saat ini, bukan nya Kau harus menjaga stamina mu". Kata Dokter Brian, ia tak tahu lagi harus membujuk Pria ini dengan cara apa.
"Antonio tolong bujuk lah, Tuan mu untuk segera di rawat di rumah sakit..".. Dokter Brian langsung angkat tangan, ia begitu cemas melihat luka sahabat nya yang semakin hari semakin mengerikan.
"Brian, kenapa luka di Tuan ku ini sangat parah.." Vivian membuka suaranya dengan sesegukan, ia tak berhenti menangis, luka yang ia lihat di tubuh Tuan nya sangat dalam dan parah.
Ini mengerikan.
"Tuan ku sebenar nya siapa yang telah melakukan ini pada Anda. kenapa Dia sangat kejam..". Vivian tak ada henti nya menangis.
"Antonio .., lebih baik Kau bawa Vivian keluar, kepala ku sangat sakit mendengar tangisan nya sejak tadi..". Ucap Asher merasa jengah, Wanita memang mahluk merepot yang hanya bisa menangis, dia saja tidak begitu.
"Tuan kenapa Anda tega seperti ini, Aku menangis karena Aku tak tega melihat Anda seperti ini.." Wanita itu mulai menyeka air matanya, ia tak ingin di usir, bagaimana mana pun ia harus berada di sisi Asher.
"Antonio, cepat katakan, siapa musuh Tuan yang telah melakukan ini, kenapa Kau malah diam tak membalas..". Vivian menatap Antonio, berharap Pria itu memberinya penjelasan.
Antonio yang di tanya, tak tahu harus berkata apa, jika Vivian tahu keadaannya Tuan nya karna menyelamatkan Alesya mungkin Wanita itu akan terkena serangan jantung.
"Vivian ke keluar.." Ucap Asher dengan dingin, ia benar-benar sudah jengah dengan Vivian.
"Aku tidak mau, Aku ingin di sini bersama Anda tuan..".Tolak nya.
"KELUAR....!" Asher berteriak, seraya berdesis punggung nya kali ini benar-benar sangat sakit.
__ADS_1
Sementara Vivian di buat terkejut, untuk pertama kali Asher berteriak padanya, Pria nya benar-benar sudah berubah dan ini jelas tidak baik, Vivian harus melakukan sesuatu.
"Vivian ..! Jangan keras kepala..." Antonio langsung membawa Wanita itu pergi.
Mendengar derap langkah yang semakin mendekati pintu, Alesya langsung bergegas pergi dari sana, dan masuk ke dalam kamar nya. Sejauh ia menguping Alesya tak mendapat petunjuk bagaimana Pria itu bisa terluka.
"Ada apa dengan ku, kenapa hati ku sangat sakit mendengar Pria itu terluka parah.." Alesya bermonolog sendiri, ia bersandar di pintu kamar dengan suasana hati yang sampai saar ini tak ia mengerti.
"ANTONIO LEPAS..".Vivian menghempas tangan itu begitu kasar, ia mendelik tak suka ke arah Antonio., Pria itu benar-benar menyeretnya.
Dan kedua-nya berdiri sejajar tepat di depan kamar yang tempati Alesya.
" Sekarang katakan, Siapa orang yang telah membuat Tuan ku seperti itu.." Kedua tangan sudah mencengkram kuat kerah milik Pria itu, bahkan menarik nya hingga wajah Pria itu menurun dan sangat dekat dengan dengan wajah nya.
"Katakan atau Aku akan memberi tahu Asher jika kita telah tidur bersama.." Vivian menyeringai. Meskipun sudah 2 tahun berlalu, Ia selalu tahu bagaimana cara nya mengancam Antonio, ia sangat tahu bagaimana hubungan mereka selama ini.
"Jangan bertindak gila.." Antonio melepas cengkraman itu, Dia benar-benar tidak suka cara Vivian memaksa nya untuk membuka mulut.
"Kenapa Kau takut.., Aku ingin tahu reaksi Asher bagaimana, saat tahu jika Asisten yang setia ini pernah tidur dengan Wanita Tuan nya, apa mungkin kita akan di tembak bersama..." Sumpah demi Apapun, Antonio ingin sekali menyumpal mulut Wanita ini.
Sementara Alesya yang tak sengaja mendengar percakapan ke-dua nya, hanya bisa membekap mulut tak percaya, ternyata Antonio ada hubungan dengan Vivian, meskipun ia baru bertemu dengan Wanita itu baru-baru ini
Namun melihat interaksi ke-dua nya, Alesya bisa menyimpulkan, bagaimana dekat nya Asher dan Vivian, namun yang lebih mengejutkan jika Antonio pun memiliki hubungannya juga dengan Wanita ini.
"Cukup Vivian, Kau pun tahu kita melakukan nya karena mabuk.." Sarkas nya tak terima.
"Harus di garis bawahi, hanya Aku yang mabuk waktu itu, sementara kau tidak Antonio..!" Jawab Vivian mengejutkannya Antonio.
"Kenapa, Kau terkejut bagaimana Aku bisa mengetahui nya, lalu bagaimana saat kita sama-sama sadar, apa Kau ingin menyangkal nya juga, apa perlu ku beri tahu berapa kali kita melakukan nya.". Lanjut Vivian kembali, Antonio benar-benar di buat bungkam, ia tak bisa berkata-kata lagi, yang di katakan Vivian memang lah benar.
"Pelan kan Suara mu, Kau ingin satu Mansion tahu.." Kata Antonio.
"Jika Kau takut dengan suara ku terdengar oleh orang lain, sebaiknya kamu katakan, bagaimana Asher bisa terluka separah itu..".
__ADS_1
"Atau Kau bisa menceritakan nya, saat kita tengah ber-cinta.." Ucap Vivian dengan tersenyum nakal, bahkan tangan nya sudah meremas benda keramat milik Antonio. "Jujur saja selama dua tajjnu ini Aku merindukan hentakan mu..".
Sudah lah, Alesya benar-benar muak mendengar suara Vivian seperti ja-la-ng, apa Wanita itu tak memiliki harga diri, namun kali ini tahap obrolan penting mulai terdengar, Alesya harus lebih bersabar lagi.
"Ok Cukup, Akan ku katakan, tapi berhenti berbuat gila dan tutup mulut itu, Vivian.." Akhirnya Antonio menyerah juga.
Vivian mengangguk. "Kau yakin tidak akan menceritakan nya selagi ber-cinta, Aku sangat tahu perasaan mu padaku"
"Vivian..". Kali Ini Antonio sudah benar-benar geram, ia memanggil nama Wanita iti dengan berat dan dalam, menyirat kan ketidak sukaan nya.
"Ok...ok.. sekarang katakan..". Tubuh Vivian sudah menyandar di dinding ia siap mendengarkan apa yang akan di cerita kan oleh Antonio.
"Kecelakaan itu terjadi minggu lalu, saat Nona Alesya mendapat serangan dari Melvin__"
"Tunggu Kau sampai memanggilnya nya dengan sebutan Nona, memang Siapa Wanita itu..?" Potong Vivian tak terima.
Antonio memutar mata nya jengah , Wanita itu memotong dengan Pertayaan yang tidak penting menurut nya. "Mau Aku lanjutkan..?".
" Hemmmz..".Vivian mendengus kesal, ia benar-benar tak menerimanya jika Wanita itu benar-benar spesial bagi Asher bahkan Antonio memanggilnya dengan sebutan Nona, tapi ia begitu penasaran bagaimana kelanjutan nya, ka bersabarlah dulu kali.
Dan untuk Alesya, kita lihat saja, bagaimana nasib Wanita itu nanti di tangan nya.
Sementara Alesya terus mendekat kan telinga di pintu bercat putih itu, Meskipun gambaran nya sudah terlihat, jjka Asher terluka saat aksi penyerangan itu.
"Lalu setelah itu..".
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued.