
Perkataan Arthur membuat Aiden merasa terkejut bukan kepalang, benarkah apa yang dengar jika Alesya sering di gagahi oleh Adiknya.
"Omong kosong apa yang Kau ucap kan itu, Aiden Dia berbohong itu fitnah.." Alesya membela diri nya dengan terus terisak.
"Jika memang keadaan nya seperti itu, Aku akan tetap menikahinya.." Ucap Aiden mencengangkan semua orang, Dia begitu mencintai Alesya maka ia pun akan mencintai kekurangan nya juga, lagi pula dirinya pun sudah tak lagi perjaka, bukan kah itu adil.
"Ternyata Kau begitu bodoh, Kau tidak tahu jika Wanita ini tak hanya tidur dengan ku saja..." Arthur berkata lagi, Alesya terus menggeleng, seumur hidup hanya Asher yang pernah menyentuh intinya.
"Demi Tuhan Aiden, adikmu ini pendusta.." Alesya meraung tak terima, kenapa fitnah ini begitu kejam padaNYA, apa salah nya ia pada Arthur.
"Arthur cukup, atau Kakak akan membuat mu mendekam di penjara Istana.." Ancam nya.
"Kakak melaporkan ku, karna Wanita ini..".Jawab Arthur.
" Bukan, ini untuk kejadian dua tahu lalu, dan Kau pikir Kakak tidak pernah Tahu.." Arthur diam mematung, ternyata Kakaknya sudah tahu mengenai insiden naas yang menewaskan Tunangan nya, meskipun dari awal target nya adalah Aiden.
Sejak awal Arthur tak pernah menyukai Aiden, ia menginginkan dirinya menjadi pewaris dan menikahi Callista, namun posisi nya yang hanya anak kedua, membuat ia selalu tersisih.
"Kakak akan memaafkan mu, dan memberikan posisi pewaris padamu, namun lupakan Alesya...". Tegas nya.
"Tidak, Aku hanya ingin Alesya.." Melihat kedua Kakak beradik itu terus memperebutkan dirinya, Alesya benar-benar sudah muak.
"Kalau begitu jangan salahkan Kakak, jika membuat mu mendekam di penjara.." Aiden tak mau kalah, dan perseteruan itu terus berlanjut karna tak ada dari salah satu dari mereka yang mau mengalah, hingga teriakan Madame Anet menginterupsi keduanya.
"Alesya jangan lakukan..!!" Senjata laras pendek yang tadi Aiden buang kini sudah berada di kepala Alesya.
"Jika Aku mati, maka kehidupan kalian akan kembali damai, dan Aku tak pantas untuk kalian rebutkan.." Alesya benar-benar sudah muak menjadi bahan percekcokan kedua Kakak beradik ini.
"Dan Aku tugaskan sekaki lagi, Aku tak akan memilih salah satu di antara kalian, maaf Aiden Aku tak bisa menikah dengan mu..".Lanjut Alesya lagi, meskipun sebelumnya Alesya sudah menerima lamaran Aiden, namun jika melihat para Pria penguasa ini terus merebut kan dirinya, maka seumur hidup pun Alesya tak akan mendapatkan kehidupan yang tenang.
Lalu selalu seperti ini lah Alesya menjalani hidup nya, maka untuk apa ia bertahan jika masa depan nya sudah tergambar jelas, dan Ia benar-benar tidak mau hidup dalam kekangan.
"Tidak jangan lakukan..". Aiden mulai panik saat pelatuk sudah mulai di tarik dan detik berikut nya, Alesya jatuh tak sadarkan diri.
Pengawal yang berada di belakang Alesya, memukul tengkuk Wanita itu hingga pingsan, sementara semua orang yang berada di ruangan itu langsung bernafas lega. Tak terkecuali Arthur dan juga Aiden mereka sangat tidak ingin kehilangan Wanita nya.
...----------------...
__ADS_1
1 bulan telah berlalu dari insiden itu, Dan semenjak itu Alesya menjadi tahanan Aiden di mansion nya.
Setiap hari ia hanya di ijinkan untuk untuk berkeliling di sekitar Mansion saja, Alesya begitu sangat tersiska lagi-lagi Alesya menjadi tahanan seorang Pria penguasa.
Meskipun Aiden selalu memperlakukan nya dengan penuh cinta dan kasih Sayang, namun Alesya lebih melihat jika Aiden sangat posesif padanya.
Bahkan semua pekerja berjenis Pria yang ada, di larang melihat Alesya selama 3 detik, dan itu sangat berlebihan baginya.
Alesya merasa terkekang dan tersiksa, namun yang ia tidak tahu kemana Arthur selama ini, setelah ia sadar dari pingsan nya ia tak melihat Pria menyebalkan yang Dua kali hampir memperkosanya nya, seakan Pria itu menghilang di telan bumi.
Selain sifat posesif nya Aiden tak pernah memaksa dirinya, Pria itu cenderung menghormati setiap keputusan nya, namun Aiden tak pernah mengikuti keinginan nya untuk pergi dari tempat ini, padahal ia merasa jenuh.
"Nona, Lord Aiden mencari Anda..". Itu adalah suara Mena dan Alesya tidak menyukai sikap Mena padanya sekarang, Aiden membuat ia tak memiliki teman termasuk Mena, Gadis ini begitu menghormati nya da selalu menghindari di saar ia butuh teman mengobrol.
"Mena sudah ku bilang jangan memanggilku seperti itu.." Alesya mendengus tidak suka, sudah berapa kali ia mengatakan hal itu pada Mena.
"Maaf Nona, Tuan muda akan marah jika tahu..". Mena terus menunduk.
Pada akhirnya Alesya menyerah membujuk Mena, ia melenggang pergi meninggalkan taman untuk menemui Aiden. "Dimana Aiden.." Hanya Alesya yang memanggil Tuan penguasa rumah hanya dengan nama depan nya saja.
Langkah kaki nya manapaki lift dan saat ini ia menuju lantai 3 dimana ruang kerja Aiden berada, dan saat tiba Alesya mengurungkan niat untuk mengetuk, Aiden tengah berbicara dengan asisten Pribadinya.
"Lord Aiden, Tuan muda Arthur meminta bertemu dengan Anda.." Asisten Pribadi Aiden adalah Luke Pria berparas tampan berjas hitam.
"Biarkan saja Dia terus mendekam di penjara, ini adalah hukuman yang pantas untuk nya.." Di sisi lain Alesya terus menguping pembicaraan itu hingga selesai.
Alesya merasa sengat terkejut bagaimana seorang Aiden melakukan itu pada Adiknya sendiri, Alesya tak habis pikir benarkah ini Aiden yang ia kenal Pria lembut yang selalu menyayangi nya.
Hingga pada akhirnya ia berbalik arah, ia tak ingin bertemu dengan Aiden, dirinya perlu waktu dan rencana, Alesya sudah tahu dimana Arthur selama ini. Penjara bawah tanah dan ia akan beraksi malam ini
Saat tengah melakukan perencanaan, pintu di ketuk dan menyembulah sosok tampan yang begitu menawan.
"Ku dengar Kau melewatkan makan malam.. Maaf tadi Aku sibuk tak sempat menemanimu.." Aiden datang membawa kudapan malam untuk Alesya, Pria itu tersenyum dengan lembut ke arah Alesya.
Aiden sangat mencintai Alesya lebih dari apapun, bahkan ia tak mengijinkan siapapun melihat Alesya nya, Karna Alesya hanya bisa di lihat olehnya sendiri.
Alesya membalas senyuman itu, selain sikap posesif nya Aiden memperlakukan ia seperti Ratu yang sangat ia cintai, bahkan ia melihat ketulusan Pria itu padanya.
__ADS_1
Aiden memang mencintainya namun Alesya tidak, semakin hari ia merasa muak dengan perlakuan berlebihan yang di berikan Aiden padanya.
"Aku ingin makan sendiri.." Alesya memang lapar dan Ia ingin makan dengan tangan nya sendiri.
"Tidak, Aku ingin lebih memanjakan Kamu Alesya, Aku ingin menyuapimu.." Dan begitu lah selama 1 bulan penuh Aiden tak membiarkan Alesya untuk makan sendiri Pria ini selalu menyuapi dan ini sangat berlebihan.
Selama Alesya di suapi, Aiden tak mengalihkan pandangan nya pada Alesya. "Aku ingin memilikimu seutuhnya Alesya..". Tangan nya naik turun mengelus rambut halus Alesya dengan tatapan yang begitu memuja.
"Kau boleh menyentuh ku, jika kita sudah menikah.." Dan Alesya mengatakan itu.
"Bukan nya sebentar lagi kita akan segera bertunangan masih ragu kah Kau padaku Ale.." Lagi-lagi Aiden menghela nafas kecewa.
"Bukan begitu, Kau tidak mengerti.." Alesya selalu ingin di sentuh oleh orang yang ia cintai atau suaminyaa, terkecuali Asher yang menyetubuhi nya dengan paksa.
"Apa nya yang tidak Aku mengerti, Bahkan Arthur telah menyentuh mu, kenapa Aku tidak..". Jawab Aiden, ia meraup dagu Alesya dan menciumnya dengan paksa.
"Aku ingin malam ini.." Aiden membawa tubuh Alesya dan mendirikan nya hingga terjerembab di atas ranjang.
Aiden langsung kalap, setelah itu ia membuka kemeja nya, dan langsung mengukung tubuh Alesya di bawahnya dengan tangan yang mulai menjamah setiap inci tubuh Alesya.
"Aiden Aku mohon jangan lakukan.."
.
.
.
.
.
.
.
.To be continued.
__ADS_1