Sang Pelayan Tuan Muda Kejam

Sang Pelayan Tuan Muda Kejam
Bab 49.


__ADS_3

Alesya cukup gelisah saat membaca point yang satu ini, sebenarnya ia tak perlu gelisah karna sebenarnya Dia pernah melihat milik Asher.


Entah kenapa ia jadi memikirkan Pria gila itu lagi, ia langsung bergidik ngeri saat wajah Pria tampan dan kejam kembali ia ingat.


"Menemani Tuan muda mandi itu termasuk tugas mu, tapi tenang saja jika Tuan tidak memintanya maka kamu bisa melewatkan bagian itu, kamu cukup menyiapkan air hangat dan pakaiannya Tuan muda." Jelas Anet.


Madame Anet tahu kekhawatiran Alesya kemudian ia berbicara lagi. "Walau begitu kau harus tetap siaga, jangan pernah meninggalkan Tuan, saat beliau tengah mandi, dan Kau harus membantunya jika Tuan muda merasa sakit,".


"Jadikan lah dirimu perawat Tuan muda, jangan menilai jika Tuan muda adalah lawan jenis maka itu akan lebih mudah untuk mu dalam bekerja, dan kau pun akan mengerti bagaimana kewajiban yang sebenarnya..". Madame Anet mulai memberi Alesya petuah.


"Kau juga harus menjaga lisan dan pandangan mu, apapun yang terjadi di tempat ini kau harus menjadi buta dan tuli, ingat simpan itu untuk diri sendiri, dan selama 24 jam, kau harus siap siaga menjaga Tuan.."


Alesya terus mengehela nafas, seraya mendengar semua arahan yang di berikan Madame Anet, ternyata jadi pelayan Pribadi Tuan muda tidak lah mudah.


"Jangan mengeluh, menjaga Tuan muda tidak sesulit yang kamu bayangkan, Dia Tuan muda yang baik dan beriwibawa, bukan Tuan muda kejam yang arogan.". Madame anet melihat kegelisahan dari diri Alesya.


"Baik Madame..". Balas Alesya, ia menoba bangkit dan tidak memperlihatkan jika ia gelisah dan takut melakukan kesalahan.


" Dan satu lagi, semua pelayan tinggal di tempat terpisah begitu juga Aku, kami ada di sini hingga pukul 10 malam, kau akan sendirian setelah itu, jangan membuat masalah yang akan membuat kamu menyesal.."


Alesya cukup terkejut saat mendengar itu, lalu di mana kamar nya setelah ini tak mungkin kan ia tidur satu ruangan dengan Tuan muda Aiden.


"Ini seragam yang akan kamu kenakan, terlihat sama, namun ini yang membedakan..". sebuah ikat pinggang yang di miliki Alesya adalah warna pink pastel sementara milik madame Anet adalah Warna merah.


"Baik lah sekarang kembalilah ke dapur, makan malam terlebih dahulu, setelah itu antar makan malam untuk Tuan Muda, dan besok pagi Aku akan mengenal kan anggota keluarga yang lain". Setelah itu Madame Anet pergi meninggalkan Alesya.


Tak berapa lama Olivia menyusul. " Alesya kemarilah, Kau harus makan dulu.." Wanita paruh baya itu menarik Alesya untuk mengikuti nya, Olivia sendiri adalah asisten juru masak di tempat ini, pantas saja hidangan yang selalu ia santap selalu enak meskipun sederhana.


"Sudah Aku duga Tuan Muda akan menerima mu.." Olivia membuka obrolan selagi menemani Alesya makan. "Mungkin nanti akan banyak orang yang tidak menyukai kehadiran mu Alesya, karna banyak sekali yang menginginkan posisi menjadi pelayan Pribadi Tuan muda lord Aiden.".

__ADS_1


Alesya yang mendengar nya langsung terbatuk, belum memulai bekerja pun, ia sudah mendapatkan musuh. " Maaf apa Aku menggaget kan mu.." Olivia memberi air minum untuk Alesya.


"Trimakasih.."


"Tapi kamu jangan khawatir, meskipun banyak orang yang tidak menyukaimu kau memiliki Aku dan Madam Anet, apalagi jika kamu sudah mendapat tempat di hati Tuan muda, maka seterus nya Kau akan aman.."


...----------------...


Alesya mendorong troly hingga memasuki lift khusus untuk Tuan muda Aiden, karna ia pelayan Pribadi nya, maka Alesya berhak menggunakan pasilitas itu, banyak pasang mata yang melihat ketidak sukaan nya terhadap dirinya, apa lagi Alesya telah menggunakan seragam, Wanita itu sangat terlihat cantik dan berkelas meskipun hanya seragam pelayan yang ia kenakan.


"Dari mana Wanita cantik ini berasal, bahkan lebih cantik Nona Callista.." Salah satu pelayan mendengus tak suka. Callista adalah mantan Tunangan dari Tuan Aiden, Wanita meninggal akibat insiden kecelakaan itu, sementara Tuan muda nya mengalami kelumpuhan.


Namun Alesya tidak terlalu peduli, jadi lah dinding dan menjadi buta dan tuli, seperti nya perkataan itu yang saat ini ia lakukan saat ini.


Saat tiba di lantai atas, Alesya tepat berdiri di depan pintu bercat putih itu, tampa di pungkiri ia merasa gugup dan gelisah, setelah mengetuk pintu ia langsung masuk setelah mendapat ijin.


Seperti biasa Alesya melihat Tuan muda, menatap kosong ke arah jendela, itu juga pemandangan terakhir yang ia lihat sebelum meninggal kan kamar. "Makan malam Anda Tuan.." Ucap Alesya


"Anda ingin makan sendiri atau Saya suapi.!?.". Tawar Alesya, dan sontak membuat Tuan muda Aiden berbalik.


Pria itu terdiam sesaat, tampilan Wanita tadi sama saat ini sangat jelas berbeda, sangat cantik..


"Ehemz..." Aiden berdehem untuk menetralisir rasa kagum nya saat melihat Alesya. "Kau ingin menyuapiku, apa Aku terlihat seperti bayi bagimu.." ucap Aiden dengan suara datar.


Alesya yang merasa salah dengan ucapannya nya, langsung berlutut. "Maaf kan Saya Tuan, Saya tidak bermaksud seperti itu, hanya saja Saya tidak tahu harus berbuat apa, saat jam makan malam Anda berlangsung.." Jujur Alesya, karna memang begitu adanya.


Aiden cukup terkejut melihat Alesya berlutut dengan wajah yang ketakutan, apa diri nya seseram itu. "Berdirilah dan ambil kursi di sana.." Titah Aiden.


Alesya menurut ia mengambil kursi seperti yang di suruh Tuan muda itu. "Sekarang Duduk lah, dan suapi Aku.." Lanjut nya kemudian.

__ADS_1


"Baik Tuan..". Alesya menurut dengan telaten ia mulai menyuapi Tuan muda, yang beberapa saat lalu mengatakan jika dirinya bukan bayi yang harus di suapi, lalu sekarang apa.


Aiden tersenyum manis saat melihat lebih dekat wajah cantik Alesya, dan jujur saja Alesya lebih cantik dari mendiang Tunangan nya.


Dan Akhirnya Alesya menyuapi Aiden hingga makanan itu tandas tak tersisa. "Kenapa Wanita secantik dirimu, mau menjadi seorang pelayan.." Tanya Aiden, ia begitu intens menatap wajah cantik dan lugu itu.


"Bukan nya, syarat menjadi Pelayan Pribadi Tuan muda adalah cantik..!?". Alesya malah bertanya balik, sumpah demi apapun ia tak bermaksud menanyakan hal itu, ia pikir Tuan muda nya adalah Pria hidung belang, tapi melihat baik nya Aiden, prasangka itu ia buang jauh-jauh.


Namun mendengar jawaban polos Alesya membuat Pria tampan itu tertawa. "Seperti nya itu akal-akalan adik-ku, mungkin melihat Kakak nya selalu melamun ia merasa kasihan.." Ucap Aiden di sela tawanya.


"Menurut ku, semua pelayan sama saja, karna jujur saja Aku masih bisa melakukannya sendiri tampa bantuan siapapun, Kau tahu hanya kaki ku saja yang bermasalah tangan ku tidak dan Kau lihat ini.." Aiden menepuk-nepuk kursi rodanya.


"Dia membantuku pergi kemanapun, yang Aku mau meskipun jangkauan nya masih terbatas.."


"Jadi Tuan tak membutuhkan pelayan seperti Saya..". Kata Alesya dengan nada sedih.


"Ya.." Ucap nya dengan jelas. "Aku memiliki Anet yang menjagaku, Aku selalu menolak pelayan manapun yang Adik ku tempat kan untuk menjadikan Dia pelayan Pribadi ku, Aku lebih suka sendiri.." Dan mendengar perkataan itu, Alesya semakin menunduk. bukan nya tadi ia sudah di terima bekerja, namun setelah itu Aiden berkata sebaliknya.


"Namun untuk dirimu seperti nya Aku akan menerima nya.."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be contiuned.


__ADS_2