
Embun jatuh perlahan seiring fajar menyapa jutaan miliar penduduk di muka bumi ini, hingga cahaya mulai masuk melalui celah jendela, namun perasaan nyaman seorang Alesya begitu enggan untuk bangun.
Namun saat menyadari dirinya berada di dalam sebuah rangkulan seseorang, mata nya langsung terbuka sepenuhnya, rasa kantuk dan nyaman itu langsung menghilang dan di gantikan dengan rasa malu.
"Tuan Saya...." Alesya tergagap tidak tahu harus berkata apa, saat sebuah tatapan yang begitu lembut terus memandangi nya.
"Kau tahu ini adalah pagi terindah ku...". Pria itu begitu enggan untuk memutus kontak mata dengan Alesya, Aiden terus memandangi nya dengan penuh cinta.
"Aku sangat mencintai mu.." Kata-kata itu seolah menyambut pagi Alesya, seolah mengantikan malam suram yang menghantui nya malam tadi.
Alesya masih diam, ia tak menjawab dirinya masih ragu tentang kesungguhan Aiden padanya, namun melihat betapa Aiden memohon restu pada Rowena, tidak ada salah nya untuk menerima.
"Bagaimana jika kita bertunangan terlebih dahulu Alesya, dan Aku akan membawa orang Tuamu kemari.." Mata Alesya bahkan tak berkedip saat mendengar itu.
"Anda serius Tuan..". Tanya Alesya.
"Panggil Aku Aiden mulai sekarang, Karna Kau adalah Wanita ku.." Pria itu melayang sebuah kecupan di dahi Alesya. "Dan Aku sangat serius, maukah Kau menikah denganku Alesya." Pria itu berkata lagi.
Alesya tidak tahu harus menjawab apa, di suatu sisi ini terlalu mendadak untuk nya, namun di suatu sisi ia butuh sandaran untuk menjaga diri nya.
Aiden masih menunggu jawaban dari Alesya hingga sebuah anggukan membuat ia tersenyum lebar. "Benar kah, Kau mau menikah dengan ku.." Tanya Aiden memastikan.
"Iya Aku mau Aiden..". Alesya menjawab seraya menganggukan kepala nya, di sertai senyuman lebar.
"Trimakasih Sayang.." Aiden memeluk Alesya dengan erat, dan Alesya pun membalas pelukan Pria itu, Alesya akan mencoba menerima Aiden meskipun belum ada kata cinta yang tumbuh di hatinya, karna cinta nya telah tumbuh dengan nama seseorang yang sangat tidak pantas menerima nya.
Pagi itu semua orang telah berkumpul di meja makan untuk memulai sarapan nya, tak terkecuali Arthur dan Daisy mereka ikut hadir meskipun dengan tampang yang lelah, karna jujur saja mereka melakukan itu hingga fajar menyingsing.
"Daisy apa Kau tidak tidur semalam.." Tanya Rowena. ia melihat betapa lelah nya wajah Daisy begitu juga dengan Arthur Putra keduanya.
Dan saat melihat wajah anak tertuanya, begitu cerah secerah pagi ini.
"Maaf Lady, Semalam Daisy memang kesulitan untuk tidur.." Daisy merasakan ngantuk yang luar biasa, namun ia tak menyesal telah menikmati malam dengan Arthur.
Pria ini sangat perkasa dan terus membuat ia menjerit sepanjang malam, hingga jemari lentik nya mulai mengusap kepemilikan Arthur yang tepat duduk di samping nya.
Dan Arthur pun tak mau kalah, tangan kekarnya menelusup masuk, kebawah gaun hingga ia menyadari jika Daisy tak memakai apapun, sesekali ia melirik Alesya, yang kini tak lagi menggunakan pakaian pelayan lagi.
__ADS_1
Sangat cantik dan ia sangat ingin mengukung Wanita itu di bawah tubuh nya. "Aku sudah menghubungi Ayah mu, Alesya.." Doris melihat wajah cantik yang sebentar lagi akan menjadi menantu dari Keluarga Duke Dominic.
"Kau tahu Dia sangat senang, mengetahui jika Kau ada disini dan Aku pun mengutarakan keinginan Putraku untuk menikah dengan mu.." Lanjut nya lagi.
Mata Alesya berkaca-kaca saat mendengar kata Ayah nya, Dia sangat merindukan Ayah nya itu meskipun bukan Ayah kandung, tapi Pria itu menyayangi nya dengan sepenuh hati.
"Boleh kah Saya Tahu, Ayah ku menjawab apa Yang Mulia." tanya Alesya dengan sesegukan.
"Ed menyerah kan semua keputusan kepadamu, bagaimana tanggapan mu Alesya.!?." Doris menatap intens ke arah Alesya, dirinya merasakan perasaan lain yang tak bisa ia mengerti namun wajah nya mengingatkan ia akan seseorang.
"Dia telah menerima lamaran Ku Ayahanda.." Bukan Alesya yang menjawab melainkan Aiden, Betapa senang nya saat Pria itu berkata, senyuman itu tak pernah luntur dari wajahnya.
"Benar apa yang di katakan Putraku.."Tanya Doris memastikan.
" Benar Yang Mulia.." Alesya mengangguk dengan malu.
"Bagus lah..". Doris tersenyum mendengar itu.
"Mungkin kah Kau memiliki hubungan dengan Ivy". Entah Doris sadar atau tidak telah mengatakan itu, karna suara nya terdengar bergumam,namun Rowena mendengar nya dengan jelas.
"Apa Suamiku berpikir sama, mereka terlihat mirip bukan nya begitu.." Rowena menanggapi. Tentunya semua itu belum bisa terjawab, dan Rowena pun telah memberi tahu jika Alesya hanyalah anak angkat, namun tak membuat mereka membatalkan restu untuk Aiden menikahinya.
Dan Aiden dan Daisy yang tidak tahu menahu tentang siapa Ivy yang di bicara kan hanya bisa memandang penuh tanya, tak terkecuali Arthur yang sedikit mengetahui sedikit lebih banyak siapa Itu Ivy Valencia.
Saat usinya 12 tahun, Arthur kecil yang aktif dan segala ingin tahu tak sengaja menemukan sebuah ruangan rahasia yang di miliki Ayah nya dan jelas ia tahu Siapa Ivy Valencia bagi Ayahnya Doris Dominic.
Ruangan rahasia yang di temukan nya di penuhi banyak potret seorang Ivy Valencia yang nama nya jelas tertera di sana, Arthur bahkan melihat ruangan itu seperti aula pemujaan cinta.
Dan satu rahasia besar yang selama ini ia simpan jika Ayah nya sangat mencintai Ivy Valencia, yang ia tahu sahabat dari Ibunya meski ia tidak tahu bagaimana cerita nya.
Dan hari pun berlalu begitu saja, Duke Doris Dominic dan juga Duchess Rowena memutuskan pergi karean ada panggilan dari istana begitu juga dengan Daisy, Wanita itu memutuskan untuk pulang.
Tak terkecuali Arthur yang saat ini terus mencuri pandang saat Alesya tengah menyiapkan kudapan untuk Alesya.
"Bagaimana jika Aku memberi tahu Asher jika Kau ada disini dan berencana menikah dengan Kakak ku.." Ucap Arthur tiba-tiba mengejutkan Alesya.
"Jangan lakukan itu Aku mohon Tuan Arthur..". Alesya yang mendengar kata ancaman itu langsung datang menghampiri Arthur yang ada di Sofa.
__ADS_1
"Kalau begitu tinggal kan Kakak ku Alesya__"
"Baiklah Aku pergi meninggalkan Tuan Aiden, tapi Aku mohon jangan katakan pada Asher jika Kau melihat ku disini..". Tampa berpikir panjang Alesya langsung menyetujui nya. Susah payah ia kabur dari Pria yang tak punya hati itu, rasanya ia sudah sangat nyaman hanya menjadi seorang pelayan saja.
". Kau tahu Aku belum menyelesaikan ucapan ku, tinggal kan Kakak ku dan jadilah Wanita ku!!.." Lanjut Arthur.
"Tidak, lebih Baik Aku mati jika harus selalu terjebak dengan Pria mecam kalian.." Alesya rasanya sudah muak bahkan perselisihan mereka tak sengaja terlihat oleh Madame Anet.
Ia tak pernah mengira jika Tuan muda keduanya tampak sangat mengenal Alesya, dari interaksi Alesya dan juga Arthur tahu mereka sudah saling mengenal sebelum nya.
"Kau pikir Aku akan membuat mu mati begitu saja Alesya, bahkan Aku tidak takut merebut mu dari Kakak ku..". Arthur berdiri dia mulai mendekat ke arah Alesya.
Tak peduli jika para pelayan yang melihat nya, Dia memiliki kuasa apa lagi Kakak nya lumpuh tak mampu menolong Alesya jika pun meniduri nya detik ini juga.
Pria itu sangat percaya diri sekali.
Namun siapa sangka Alesya langsung memegang pisau buah dan menodong kan ke arah Arthur. "Kau berani..!!" Arthur menantang nya.
Dan arah pisau itu berbalik kini sudah berada di lehernya. "Aku akan membunuh diriku sendiri, jika pada akhirnya Aku harus terjebak dengan Pria seperti kalian.!!!!."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued.