
Alesya masih tergugu di tempat nya, Pria yang menyapa sangat lah tampan dan sopan, apalagi terlihat sangat beriwabawa, seolah melihat Revan dalam diri Pria asing ini.
"Aku Arthur Dominic.." Pria itu mengenal kan dirinya, seraya menyodorkan kan kartu nama nya. "Aku harap, Kau bisa menghubungi ku setelah pertemuan ini..". Di akhiri dengan senyuman indah, yang membuat Wanita manapun akan meleleh.
"Kau tidak ingin memberi tahu ku namamu." Lanjut nya lagi.
"Aku Alesya, maaf sebaiknya Kau pergi dari sini, sebelum Pria itu melihat mu" Usir nya dengan halus.
"Baiklah, hubungi Aku jika Kau membutuhkan bantuan.." Arthur beranjak dari tempat duduk lalu hendak meninggalkan Alesya.
"Bantu Aku lepas dari cengkraman Pria itu.." Cicit nya. Bahkan suara nya kecil sekali, beruntung Arthur mendengar nya.
Pria itu mengulas senyum, saat ia ingin membuka suara, Asher datang dengan wajah yang tak bisa di artikan.
"Halo Asher, lama tak jumpa..". Rasanya jantung seakan di remas, saat Arthur menyebut nama Asher, Pria itu tepat di belakang nya, berdo'a lah jika Asher tak mendengar kata-kata nya.
"Setelah menyapa Wanita ku, baru sekarang Kau menyapa ku..". Ucapan nya terdengar sinis.
" Jangan salah paham, Aku hanya tak tega membiarkan Wanita cantik duduk sendirian.." Balasnya dengan tenang.. "Bukan nya barang mu masih tertahan di wilayah ku, Ku dengar Kau mengajukan permohonan lintas jalan.." Lanjut nya kemudian.
"Kenapa, Jangan bilang Kau menginginkan dirinya untuk sebuah surat ijin.. ". Sarkas nya.
"Bisa di pertimbangan kan, Alesya sangat lah cantik.." Puji nya dengan jujur.
Sumpah demi apapun Alesya berdiri tepat di antara dua Pria yang entah membicarakan apa, Dia tidak mengerti sama sekali.
"Ya, sangat cantik, Tapi Dia bukan barang ori, tiap malam Aku selalu memakai nya, Apa Kau masih menginginkannya..". Ucap nya dengan enteng.
"Bukan nya tadi Kau bilang Dia Wanita mu, dan sekarang Kau bilang Dia barang mu..". Arthur melihat ekpresi Alesya yang seperti nya menahan malu dan marah. "Jangan memperlakukan Wanita cantik seperti itu"..
"Bukan urusan mu..". Asher membawa Alesya ke dalam pelukan nya. "Jika Kau menginginkannya, Tunggu lah saat Aku sudah bosan. " Balas nya tidak suka.
Alesya terus mengepal tangan nya, Ia sudah tak memiliki harga diri di hadapan Asher dan juga Arthur, Pria Tirani ini benar-benar sudah mempermalukan diri nya, rasanya ia ingin mati saat itu juga.
__ADS_1
Separah ini kah Pria itu hanya menganggap nya barang yang setiap malam ia pakai, ia bukan ja-lang apalagi Wanita murahan yang sesuka hati melempar tubuh ke Pria lain yang
Alesya kehendaki.
Dia bukan Wanita seperti itu.
"Kenapa Kau merendahkan nya, Wanita secantik dan seanggun Dia, layak di sayangi, Kau tahu Pria itu terlahir untuk melindungi kaum Wanita, apa lagi untuk Wanita secantik Alesya...". Alesya cukup tersentuh saat mendengar nya, Pria itu tak takut membela dirinya di depan Asher, pasti lah Orang ini adalah Pria berpengaruh.
Asher berdecih, apalagi melihat Alesya merasa tersipu dengan ucapan Arthur padanya. "Sekali ku tegaskan, itu bukan urusan mu, Dan Wanita ini tak ada hubungan nya dengan surat ijin.. paham.." Dengan sedikit kasar, Asher menarik tangan Alesya untuk mengikuti nya.
Jika ini bukan pesta kalangan atas, atau Arthur yang notabene nya adalah seorang bangsawan yang sangat terpandang, pastilah mata Pria itu akan ia buat buta, atau melepas kedua bola mata itu dengan jarinya.
"Kau menyakitiku, Sakit.." Dengan terseok-seok Alesya mengikuti langkah Asher yang lebar.
Pria itu tak peduli dengan ringisaan Alesya, mungkin kulit nya sudah memerah karena nya. "Antonio, siap kan kamar di atas.." Titah nya. Saat bertemu dengan asistennya.
"Baik Tuan.." Antonio langsung meletakkan minumnya, ia bergegas menuruti kemauan Tuan nya.
...Plak....
Setelah berhasil mendorong, Alesya melayangkan sebuah tamparan yang keras, percayalah ia mengeluarkan seluruh tenaga nya untuk membuat pipi Pria tampan itu memerah.
Asher yang baru merasakan di tampar seorang Wanita langsung naik pitam, tatapan yang ia layangkan seperti ingin membunuh Alesya.
"Kau berani menamparku.." Teriak nya marah, ia langsung memukul dinding besi dengan sekuat tenaga, menyebabkan suara bising di sertai jeritan Alesya. Wanita itu sudah ketakutan setengah mati.
Dan kini tubuh Alesya sudah di seret saat pintu lift terbuka di lantai paling atas bangunan itu, di ujung koridor ada Antonio yang menunggu, entah dengan cara apa Pria itu bisa sampai duluan, berdiri dengan santai menuggu ke datangan Tuan nya yang tengah murka.
"Asher jangan lakukan ini..". Alesya yang sudah tahu apa yang akan terjadi berikut nya, hanya bisa memohon kepada Pria Tirani ini.
Asher dan Alesya lansung masuk seiring dengan terbuka nya pintu, dan tak berapa lama terdengar pintu di tutup kembali.
"Kau harus di hukum.." Asher menghempaskan tubuh Alesya, hingga tubuh Wanita itu memantul di atas ranjang.
__ADS_1
"Aku mohon Asher.." Alesya masih memelas, ia tidak ingin tubuh nya kembali merasakan nikmat yang di berikan Tuan muda kejam ini.
"Aku paling tidak suka, Wanita murahan yang selalu melemparkan dirinya nya ke Pria lain..". Raungan Asher membuat tubuh Alesya bergidik, untuk menelan saliva pun ia sangat kesulitan.
"Kalau Kau tidak suka Wanita murahan seperti ku, Kenapa Kau tidak melepas kan ku saja..". Balas Alesya. Dan seketika ia menggigit lidah nya, seharusnua ia bisa bersabar dan tak menyulut emosi Pria gila ini.
"Sekarang Kau katakan padaku, Apa Kau menyukai Arthur, bahkan Pria bangsawan itu tidak setampan dan seperkasa diriku.." Cih, rasa nya Alesya ingin meludahi wajah Pria narsis ini, sangat percaya diri sekali Dia.
"Bahkan dengan tangan ku, Aku bisa membuat segalanya hancur, membunuh nya tampa ada yang tahu, bahkan Aku lebih berkuasa dari nya.." Lanjut nya lagi.
"Setidaknya Dia bukan Monster seperti mu, Dia membela ku tampa mengenal siapa Aku, sementara Kau selalu menghina ku.." Bela nya.
Seketika Asher tertawa dengan sinis. "Kau menilainya hanya dalam sekali lihat lalu setelah itu Kau beranggapan Dia adalah penolong mu, Aku bisa bertaruh dengan nyawaku jika Pria itu hanya ingin merasakan hangat nya tubuh mu.." Sarkasnya dan akibat dari perkataan nya Alesya kembali melayang kan sebuah tamparan.
Namun tangan kanan nya tertahan di udara, Asher memblokir serangan yang akan menyakit pipinya kembali. "Takan ku biar kan tangan kotor mu ini, menyentuh pipiku.." Asher menyeringai dengan tatapan tajam ke arah Alesya.
"KAU MONSTER BIADAB..!!" Teriak nya. Alesya sudah benar-benar muak dengan kekuasaan yang semena-mena ini.
"Dan Kau akan terjebak selamanya dengan monster seperti ku.."
.
.
.
.
.
.
To be continued.
__ADS_1