
Dengan menggunakan sebuah kursi roda, Alesya meninggal kan rumah sakit, ia di antar langsung oleh perawat Ae-ri, di ikuti Antonio dan para Bodyguard lain.
"Ingat saran ku Alesya.." Ae-ri kembali memeluk teman baru nya itu. Alesya hanya membalas dengan sebuah senyuman ia tidak yakin akan bisa melakukan saran dari Ae-ri.
Mobil mewah itu melaju meninggalkan area rumah sakit, sepanjang jalan Alesya hanya diam tak mengeluarkan suara sepatah katapun, bahkan saat berada di pesawat pun Wanita itu masih saja diam.
Hingga Akhirnya mata menangkap sebuah bangunan mewah, sepanjang jalan ia tak terlalu memperhatikan kemana ia akan di bawa, Alesya sudah pasrah, ga-i-ra-h hidup seolah sudah hilang dalam diri nya, namun saat kendaraan itu berhenti, jantung nya langsung berdebar lebih cepat.
Tepat di depan mata, Asher berdiri dengan setelan mewah, terlihat gagah dan tampan,, dan di belakang nya puluhan pengawal dan juga pelayan berjajar dengan rapi, mereka seolah menyambut seorang tamu agung.
Alesya kembali ke neraka.
Bagi Alesya sudah jelas ini terasa aneh, bahkan biasa nya ia datang seperti narapidana yang di tutup kepalanya.
"Bagaimana ke ada-an nya Antonio.." Sebenar nya ia ingin menanyakan itu kepada orang nya langsung, tapi kenapa terasa canggung, apa lagi jantung berdebar tidak normal saat bertatap wajah dengan Alesya.
"Kondisi nya, sudah jauh lebih baik dari yang terakhir kali Tuan, untuk informasi detail nya, Saya akan memanggil kan Dokter Brian.." Jawab Antonio.
"Hm..". Setelah mendengar itu, Asher berbalik pergi, baginya sudah cukup melihat Alesya kembali dengan keadaan sehat dan selamat.
Sepergian nya Asher, seorang pelayan Wanita mengambil alih untuk mendorong kursi roda Alesya, bahkan Wanita itu membawanya naik dengan menggunakan lift.
Dan di bawa ke kamar yang belum pernah ia tempati, kamar itu bersebelahan dengan milik Asher, luas dengan interior mewah.
"Kami akan membantu anda untuk membersihkan diri Anda nona.." Sedikit nya 4 orang pelayan, Alesya di bantu untuk mandi.
Jujur saja ia tak ingat terakhir kali ia mandi bahkan untuk melihat tampilan dirinya di dalam cermin pun ia tak ingat.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri.!." Alesya menolak saat pelayan membantunya untuk melepas pakaian.
"Jangan menolak Nona, kami di perintahkan untuk melayani Nona dengan baik..".
" Bilang padanya, Aku tak perlu di layani..". Kata Alesya dengan datar. "Lebih baik kalian keluar biarkan Aku sendiri.!.". Alesya mengusir para pelayan itu, namun situasi nya tak pernah ia duga, ke 4 Wanita itu berlututut seraya menangis.
" Nona, kami mohon jangan mempersulit pekerjaan kami Nona..". Alesya memutar mata nya jengah, apa-apaan mereka ini, kenapa harus berlutut di depan nya, Alesya bukan siapa-siapa di tempat ini, bahkan keberadaan nya tidak lah berarti.
"Berdiri lah, Aku bukan-nya ingin mempersulit kalian, hanya saja_ bagiku ini berlebihan 4 orang dari kalian ingin membantuku mandi, Aku bukan Tuan rumah, Aku hanya pelayan seperti kalian, bahkan Aku lebih hina dari itu.." Alesya tersenyum getir, serendah itu kah posisi nya saat ini.
"Jangan berbicara seperti itu Nona, Anda adalah majikan kami, bahkan Tuan menyuruh kami agar melayani Anda, seperti kami melayani Tuan muda.". Pelayan itu bersi-kukuh, terus berlutut meski kaki mulai terasa keram, namun itu lebih baik, dari pada harus kehilangan nyawa karna membuat Tuan nya marah.
"Ah.. Sudah lah.." Alesya menyerah untuk berdebat, menerima saja di perlakuan bak Tuan Putri.
Para pelayan itu tersenyum, akhirnya Alesya menerima semua pelayan dari mereka berempat, cukup lama saat Alesya membersihkan diri di kamar mandi, saat keluar wajah seseorang yang tak ingin ia lihat sudah duduk dengan santai di atas ranjang.
Mau apa Pria Itu, apa Dia akan menghukum atau memukul ku... Alesya diam mematung, para pelayan yang paham meninggalkan ruangan, meninggalkan Alesya yang masih memakai Bathrobe.
"Berhenti lah berpikir buruk Alesya.." Suara itu mengalun begitu lembut, bahkan Alesya sempat terdiam dengan suara Asher yang tampak aneh.
"Berhenti jangan mendekat.." Kedua tangan sudah berada di da*da, Alesya mendorong tubuh itu untuk kembali mundur.
Namun dalam satu tarikan, Alesya sudah berada di dalam pelukan Pria itu. "Lepaskan Aku Brengsek.." Jika biasanya Asher akan murka jika Alesya menolak nya atau berkata tidak sopan pada-nya tapi kali ini Pria itu diam setiap pukulan yang tak terasa kuat itu, ia terima.
Hingga perlahan pukulan itu melambat dan berhenti. "Kenapa Kau menyelamatkan ku Asher, setelah Kau membiarkan ku hancur seperti ini, kenapa Kau tak membiarkan Aku mati brengsek.." Alesya meraung tak Terima, hidup tampa kepastian membuat ia hampir putus asa, tubuhnya terasa lemah, hingga Pria itu menggendongnya nya ke atas ranjang.
"Tampa seijin ku, Kau tidak boleh mati Alesya..!".
__ADS_1
"Kenapa HA, kamu tak berhak atas hidup dan mati ku Asher, dan satu hal lagi untuk apa Kau masih menahan ku disini, Aku bukan anak Clara yang Kau benci, yang selalu kau panggil ja-la-ng dan murahan itu" Tatapan itu begitu nyalang, Asher melihat kebencian yang begitu besar dari sorot mata itu.
...Cup...
Asher mengecup singkat bibir Alesya. "Terus lah mengoceh, jika kau mau bibirmu di buat bengkak oleh ku..". Buru-buru Alesya menghalangi bibir nya dengan kedua tangan dengan mata yang masih mendelik tajam.
"Berpakaian dan beristirahat, minggu depan Aku akan membawa mu untuk datang ke pernikahan Adikmu.". Lagi-lagi sebelum meninggal kan Alesya, Pria itu mengecup kening Wanita itu. Alesya di buat diam, sikap Asher berubah 180 derajat padanya.
"Apa dia sudah benar-benar sudah kesurupan..!?" Alesya bermonolog sendiri, Pria itu akhirnya pergi, namun ucapan terakhir Asher membuat ia terusik.
Adik nya menikah, Apa mungkin Cecilia yang menikah, tak mungkin juga kalau Celvin adik lelakinya itu masih suka bbermain itu, untuk menikah sepertinya tidak.
Para pelayan itu kembali, Alesya hanya bisa menghela nafas pasrah, menerima semua perlakuan istimewa itu, hingga waktu terus bergulir menemani keseharian Alesya, yang terus di layani bak Tuan Putri.
"Nona, Kami akan membantu Anda bersiap...". Ahh sudah lah, untuk hari ini ia malas berdebat atau menolak, toh ujung-ujung di akan mengalah sendiri.
Para pelayan itu bagai dayang bagi Alesya, mereka sangat ahli mengubah itik buruk rupa menjadi angsa, wajah di poles dengan make up tipis, mengenakan pakaian dari desainer ternama.
Lalu di kenakan mantel berbulu, ini sangat berlebihan, mereka memperlakukan seorang pelayan menurut nya sungguh tak masuk akal.
"Tuan sudah menunggu Nona di bawah..! Silahkan kan Nona..!".
.
.
.
__ADS_1
.
To be Contiuned.